005

header ads

PUISI : SAMI’AN ADIB | 13 April 2024

 PUISI-PUISI SAMI’AN ADIB

MERAWAT TERITORIAL


Berhentilah. Usah mengusik rimbun rimba

di sekujur belantara nusantara

sebab embun terhimpun dari udara yang sama

dari hembusan angin tropis lintas Australia


Maka berhentilah. Membusungkan dada hanyalah penanda

jiwa koyak tersebab congkak yang melembaga

merasa diri raja paling kuasa

lupa betapa kita sejatinya setara


Kadang memang lupa kalau kita sekaum turun-temurun

selalu berbagi rasa sambil berbalas pantun

bertukar cendera mata semacam cincin kenangan

sebagai perlambang kokohnya ikatan persaudaraan


Meski pernah salah langkah

jangan sampai terbelah-belah

meski terlanjur berkoar sumpah serapah

jangan lantas kita sampai bertelingkah


Jember, 2024




NYALA PELITA DOA

: bp & ek


Mestinya kalian sudah lelah

memilah-milah ribuan kisah

untuk kelak kembali diolah

menjadi secungkup tetirah

sebelum melanjutkan langkah

mengusung pundi-pundi gairah

menuju halaman akhir sebuah risalah

: perjamuan dengan kelezatan paling berkah


meski ku tahu kalian sudah siaga

mempersiapkan detail bekal utama

tapi, tetap saja aku titipkan satu pelita

nyala doa dari kedalaman seonggok jiwa

yang setiap kesempatan kulumuri aroma cinta:

semoga kalian selalu di jalur lempang yang sama

berdua dalam liputan pernak-pernik bahagia

abadi dalam derai-derai cinta Sang Pencipta


Jember, 2023





MUASAL PELUKAN

sudah banyak penafsir jenius

menerka penciptaan paling misterius

: keelokan perempuan berparas firdaus

sejatinya dari sepotong sulbi yang terputus


memang demikianlah muasal pelukan

setelah sekian kurun gigil diri dalam kesendirian

lelaki mulia itu mengisi sepi dengan gemuruh doa

dan indahnya Kehendak Tuhan demikian sempurna

dihadirkannya gumul kehangatan, juga kelembutan

dalam sakral ikatan pernikahan


dua hati saling berpadu

menilasi romantika kisah masa lalu

ketika Adam dan Hawa dirajam rindu

sebelum terlaksana perjumpaan mahaharu

di dadanya cinta membuncah tak terperikan 

meluruhkan segala bentuk kesedihan


Jember, 2023




Sami’an Adib, lahir di Bangkalan tanggal 15 Agustus 1971. Lulus Strata I pada jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia Fakultas Sastra Universitas Negeri Jember (Unej).  Prestasi kepenulisan antara lain: pernah memenangkan Juara III lomba mengarang cerpen yang diadakan BEM Fakultas Sastra Unej, Juara I Lomba Cipta puisi Gus Dur yang diselenggarakan Pelataran Sastra Kaliwungu-Kendal, Puisi Pilihan II Poetry Prairie Literature Journal#5, Puisi Pilihan III Poetry Prairie Literature Journal#6. Tulisan-tulisannya berupa opini, cerpen, dan puisi tersebar di berbagai media cetak dan on line, di antaranya, Surya, Jawa Pos, Republika, Simponi, Fakta, Surabaya Post, Radar Jember, dan lain-lain. Antologi puisi bersama antara lain: Ensiklopegila Koruptor, Puisi Menolak Korupsi 4 (2015), Kata Cookies pada Musim (2015), Ije Jela Tifa Nusantara 3 (2016), Negeri Awan (2017), Timur Jawa: Balada Tanah Takat (2017), Hikayat Secangkir Robusta (2017), Negeri Bahari (2018), Kepada Toean Dekker (2018), Negeri Pesisiran (2019), Perjalanan Merdeka (Independent Journey (2020), Sang Acarya (2021), Gembok (2021), Narasi Bait Waktu (2021), Khatulistiwa (2021), Lelaki di Lautan (2021), Dunia: Suara Penyair Mencatat Ingatan (2022) dan lain-lain. Buku kumpulan puisinya Syahadat Kenangan (2023) diterbitkan Teras Budaya Jakarta. Aktivitas sekarang selain sebagai tenaga pendidik di sebuah Madrasah di Jember juga bergiat di Forum Sastra Pendalungan dan Lembaga Seni Budaya Muslimin Indonesia (LESBUMI) 

Email samianadib99@gmail.com






Posting Komentar

0 Komentar