Kumpulan Puisi Perjuangan Miftahul Jannah - negerikertas.com

INFO ATAS

LEMBAGA INDEPENDEN DI BIDANG PENDIDIKAN LITERASI, SENI BUDAYA, DAN SASTRA.

10 Des 2023

Kumpulan Puisi Perjuangan Miftahul Jannah


 

Bunga Gugur saat Senja

Oleh: Miftahul Jannah

 

Bumi rindu memeluknya,

mendekapnya dalam buaian kesakitan

Langit menaungi jiwa yang layu,

awangan sendu memayungi tandu

Semilir angin hiruk-pikuk menanti

Rembulan pun merayu

Rebahlah di pelukan Tuhan-mu

Bumi rindu mengapit jiwamu

 

Wahai sang bunga

Engkau gugur di kala senja

Tak pelak kau mengira itu adalah sangkala

Pun lelaplah hingga fajar tiba

Sebentar lagi

Musim gugur membuat bunga terbujur

Kelopaknya mekar bak saga selepas Asar

Lalu jatuh diterpa badai besar

Pada hari sang bunga gugur

Aroma anyir berselimut merah

Hamparannya bak permadani Persia yang 

melegenda

Kala azan berkumandang, selesai sudah 

perjuangan

 

Dunia sangatlah indah

Menunggu hari berlaju

Menunggu ajalnya dalam ingar-

bingar waktu

Ketika musim gugur berlalu,

meninggalkan warna di ujung sepatu

 

Pun bunga gugur tersiksa

Menunggu keadilan bagi sang jiwa lara


Jika keadilan menampakkan taringnya,

suara siapa yang terperangkap di sangkar 

emas itu

Tuhanku! Masih adakah surga saat fajar 

berganti

Jiwa sang bunga kesakitan, menunggu pintu 

surga terbuka


Bunga gugur mencari tempat untuk pulang

Samudera luas bukan tempat untuk 

bertandang

Sang bunga akhirnya menangis darah,

sungguh tak berguna menangisi susu 

tumpah


Sudah cukup kekejian!


Tuhan! Obornya telah padam, indra bunga 

telah pecah, jiwanya tercerai-berai

Tanah ini bukan lagi milik kita


Mereka lalu berkata:

"Saatnya pulang! Telah sampai pada 

pemberhentian!"


Dermaga indah adalah bersama-Nya di 

keabadian

 

Landeng, 15 Oktober 2023

 

 

 


Anak Menangis

Oleh: Miftahul Jannah

 

Dentuman membelah bumi di Timur, 

menyisakan mayat-mayat terbujur

Rumah tempat berlindung sirna, anak-anak 

terkubur di bawah lumpur


Mereka bertanya-tanya, apakah ini hidup 

manusia?

Lantas mengapa kami dibantai bak rumput 

semak

 

Sejauh mata memandang, aku melihat 

hamparan neraka bumi


Anak-anak berlarian mengecat dinding bata

Mengubah dinding berselimut merah, aku 

kelimpungan sejenak


Dari mana cat merah ini berasal?

Bapa menggendong anak, bayi kecil nan 

mungil kaku

Ibu membelah perutnya, memaksa benih 

melihat indahnya dunia


Ketika sang benih dipaksa tumbuh, tanpa 

air, tanpa cahaya

Secepat ia tumbuh, secepat ia layu, lalu 

mati! 

Saat benih mati, Tuhan menabur lebih 

banyak benih-benih baru

Tumbuh semerbak, menjulang tinggi ke 

angkasa


Sampai hari ini, pengecut itu memotong 

cabang, akar, hingga ranting-ranting

Tanpa ampun! Membakar dan terus 

membakar!

 

Bahkan benih yang hendak melihat dunia, 

tak luput dari jarahan

Amarahku menabrak langit, melihat benih-

benih menangis


Mereka kesakitan, mereka terluka, 

tubuhnya terkoyak

Wahai pemimipin! Sudah cukup!

Kapan pembantaian ini berakhir?


 

Lhoksukon, 9 November 2023


 

Tanah Tuhan

Oleh: Miftahul Jannah

 

 

Langkahnya bagaikan riak yang menyebar 

di perairan tenang

Kau bersimpuh di tanah Tuhan menanti ajal 

datang


Ada yang rela terbentang di bawah bumi 

Tuhan

Ada juga yang meraung-raung hingga pecah 

gendangnya


Meratap kepada Tuhan agar tidak 

menodongnya hingga ke inti bumi

Sungguh Engkau tahu apa yang tidak kutahu

Engkau melihat apa yang tidak bisa kulihat


Lalu, mengapa tangan itu sangat panjang?

Menjangkau membelah angkasa

Merampas yang bukan hak

Dan mengatakan dengan lantang secara 

mutlak


Tak ada satu jiwa pun melalak, atau kalian 

mati ditembak

Selepas kekejian nyata, kau terbelalak.

Benih milik siapa ini?

Kau tumbuh dari tanah hingga kembali 

tanah


Tak pernah ada yang tahu, umurnya hanya 

sepanjang bici kacang tanah.

Sungguh disayangkan!

Gadis-gadis merindukan tanah Tuhan.

Hingga membuat si laknat bertanya-tanya

Anak kecil, kau tak takut dipenggal?

 

Sungguh keburukan yang merusak!

Sepanjang masa, tanah Tuhan dibasahi 

hujan merah

Wahai negeri yang tanahnya dijarah


Darahnya diperas bak sapi perah

Aku melihatmu menangis pasrah

Pada akhirnya, mereka terkesima lalu 

berucap

 

Kalian tidak diterima di tanah Tuhan ini

Tanah suci

Tanah yang dinanti


Milik kami!

 

Lhoksukon, 9 November 2023

 

 

Stasiun Terakhir

Oleh: Miftahul Jannah

 

 

Menenun asa di batas kota ini, peluh 

berderai menggelitik wajah

Pemberhentian terakhir mengharu biru, 

telah sampai waktunya


Penumpang berdesakan di pintu stasiun 

kereta

Deretan kereta satu tujuan berhenti di 

stasiun yang sama


Ada yang naik tanpa tangan, turun 

bertubuh lengkap

Ada yang tanpa kaki, kini melompat dalam 

sekejap


Ada yang bertubuh hancur, kini turun dari 

kereta dengan semringah

Wajahnya berseri-seri

Wanginya bak minyak kasturi


Kepulangannya disambut pemilik bumi

Dinanti sang bidadari


Anak-anak berlarian kesana kemari.

Ah, betapa membuat iri!

 

Lhoksukon, 9 November 2023


Miftahul Jannah merupakan alumni dari 

IAIN Lhokseumawe yang saat sedang 

menempuh pendidikan PPG Prajabatan di 

UBBG Banda Aceh. Gilhan merupakan nama 

pena yang penulis gunakan ketika menulis 

fiksi. Novel yang sudah pernah penulis 

terbitkan yaitu "Asih" dan berbagai antologi 

lainnya. 

 

 

 

 

 

 

 

INFO BAWAH

NB: Untuk saat ini, Negeri Kertas belum bisa memberikan honor untuk karya (Puisi/Cerpen) yang tayang.