005

header ads

Puisi-Puisi- Aldy Dahoklory




Pepatah-Pepatah Tua   


Suara datang buka akang bola mata

Banyak carita yang lahir  di atas para-para

Banyak peribahasa yang masuk di talinga

Banyak makna macam cahaya dari sumbu pelita

Kata-kata lebih manis dari gula-gula

Seng pernah ada di halaman buku pustaka

Kecuali aroma dari bahasa yang cinta.


Di meja makang, Bapa-Mama jaga bilang

Pohon kelapa yang tinggi pasti dapa pukul dari angin setiap hari

Jadi kalau su jadi tunas, jang pernah lupa akar

Bajalang seng boleh bagoyang

Seng boleh basar pasak daripada tiang

Tetap berjuang walau katong hidup kasiang

Seng boleh gengsi yang penting seng pancuri

Bisa ketawa sadiki saat senang

Bisa saja senang tapi jang lupakan Tuhan.

Bukang orang punya, jadi harus berusaha

Susah tetap tabah seng boleh cepat menyerah, harus kuat deng doa

Karna basuara saja, Tuhan pasti tolong.


Seng boleh iko rame, karna di kota itu rame

Belajar supaya tetap balayar di jalur yang benar

Tetap rendah hati, Jang jadi matahari

Lebih puji Tuhan, kurang tetap puji Tuhan

Seng boleh lupa sombayang 

Karna saat susah, samua orang pasti ilang


Inga, kalo katong ini orang kurang

jadi cari perempuan yang tarima lebih deng kurang,

yang bisa tarima deng sayang keluarga.

Mama deng Bapa seng perlu dia pung cantik deng gelar, 

yang penting dia pung hati tulus, itu mama pung pesan.


Beta sering-kali dapa bilang

Kalau su jadi orang, jang lupa sapa yang topang

Kalau belum jadi orang, maju palang-palang toma akang

Bapa deng mama pasti kerja banting tulang,

yang penting sekolah sampe di ujung

supaya bisa lia ade-ade dong,

harus jadi ana tangga par Ade dong pung langka

Supaya bisa bantu-bantu, karna Bapa deng Mama makin hari tambah tua.


Ini yang beta masih ingat dari Nene 

Harus jadi orang bae-bae, harus biking bae

dan kalo orang seng balas, pasti Tuhan yang balas.

Lebih biar sadiki harus baku bagi, Seng boleh makan sandiri, 

Biar cuma satu piring tapi semua harus rasa,

Satu susah semua susah

Satu senang semua senang.

Kalo ada bilang ada

Kalo seng ada bilang seng ada

dan kalo seng ada jang paksa bilang ada.


Hidup susah atau senang, harus inga sudara

Biar baku marah tapi seng boleh angka sumpah 

Satu suara yang satu bale muka

Satu susah yang satu datang bantu

Laeng Jang buang laeng

Laeng harus sayang laeng

Laeng harus jaga laeng

Laeng harus tolong laeng

Laeng harus lia laeng.


Di piring yang taisi dengan kasbi

Ada ribuan arti yang beta maknai

Selalu dan selalu saja di ajari

Yang kurang ditambah

Yang lebih harus dibagi,

Jang takaruang walau kurang

Jang pencuri walau seng pung sama skali dan

Jang paksa kalo menang seng bisa

Apa adanya saja yang penting jaga nama.


  Ambon, 23 Juli 2023.


Bisik-bisik Dari Mulut Tik-tok


Telinga-telinga masih saja mendengar ketidakadilan mengukir tangisan

Mata-mata masih saja melihat penguasa bersenda gurau menatap pilu

Jalan-jalan masih lapar memakan poster yang samar

Batin-batin mendesah di ranjang pemerintah

Jiwa-jiwa masih disiksa dengan rencana

Alam-alam masih menangis diperkosa malam

Makam-makam masih menertawakan hukum 

Hutan-hutan masih menghitung berapa hutang negara 

Ikan-ikan masih menjadi jaminan modal di kantong, 

Korek-korek  masih saja meledak di lapangan politik

Rumah sakit masih taat menyantap tubuh mayat

Kantor-kantor masih saja angker seperti kubur

Tikus-tikus masih memakai dasi di atas kursi 

Pejabat-pejabat masih saja menjilat piring rakyat

Anggaran-anggaran masih dikelola dengan laci meja

Karcis-karcis masih saja membeli aktivis

Bendera-bendera partai masih saja berdiri di jembatan yang mati

Abdi-abdi yang menjulang tinggi masih saja lupa diri

Tanah-tanah hilang perawan ditelan perusahaan

Nurani-nurani masih saja tersakiti menyaksikan

Nelayan dan petani yang mati di atas lutur api 

Pesisir-pesisir masih ditampar sampah yang terdampar

Sekolah-sekolah masih sama seperti kandang domba

Siswa-siswa meminta ilmu kepada tentara

Ijazah-ijazah masih mengemis lowongan kerja

Pendidikan masih menyedihkan di balik juatan rupiah

Kolong-kolong jembatan masih menjadi rumah 

Anak-anak masih terlantar seperti  plastik 

Taman-taman  yang sudah terang, masih menertawakan 

Tukang sapu yang memeluk lambung

Lampu-lampu yang masih terus menyala di kota

Menutup mata yang melihat ke dalam desa

Kamera-kamera masih saja memanipulasi data

Aplikasi-aplikasi masih saja menjual harga diri

Bola-bola di lapangan pernah juga menelan nyawa

Agama-agama masih saja bersenggama di mana-mana

Mata-mata uang masih menukar kejujuran di mahkamah agung

Orang-orang dalam masih menjadi jalur malam

Seragam-seragam masih saja menabur garam

Berita-berita masih berbicara tentang luka dan duka

Amplop-amplop masih menjamin pembunuh itu hidup

Perempuan-perempuan masih menjadi tempat kepuasan

Pemerkosaan-pemerkosaan masih seperti pemeran

Jabatan-jabatan masih sama seperti alat kelamin

Kekuasaan-kekuasan masih menjadi alat kejahatan

Kepentingan-kepentingan masih saja membunuh kesadaran

Kesepakatan-kesepakatan masih membunuh kemanusiaan 

Awan-awan masih saja menghapus keresahan

Cakrawala masih setia menjatuhkan air mata 

Matahari sering patah hati melihat semua yang terjadi dan

Pelangi mengucapkan selamat memaknai.



Ambon, 10 Agustus 2023.


WAKTU


Niat yang terus melaut

Merawat setiap menit

Menyambut hadiah langit

Menjahit baju semangat

Di selat hidup yang berlanjut

Ketika orang-orang menyebut

Waktu adalah berkat.


Otak mengelola detik

Jejak mengisi babak

Dibentuk oleh yang buruk 

Detak jantung mendesak

Merujuk harapan di benak

Lekuk jalan berjiwa bijak

Ketika orang-orang meyakini

Waktu adalah guru yang baik.


Serius menjadi rumus

Proses mekarkan tunas

Mengemas beberapa tangis

Mengurus rasa cemas

Melintas di jalan arus

Menembus lalu lintas, dan

Terus melaju lebih keras

Ketika orang-orang menjelaskan

Waktu adalah emas.


Langkah tarus menjelajah

Tabah dalam lautan yang riuh

Meski patah dan jatuh

Lelah berusaha berubah

Ketika orang-orang berkata

Waktu adalah anugerah


Menghitung angka peluang

Berjuang dalam gelombang

Mendung mengajak bertarung

Berunding di tengah jurang

Tentang mimpi dan harapan

Ketika orang-orang memandang

Waktu adalah uang.


Eksplorasi waktu sebagai suatu investasi


    _18 september 2023


PESAN


Jika ada yang datang

Sampaikan padanya

Aku sudah tenang


Jika ada yang menyapa

Sampaikan padanya

Aku sudah tertawa


Jika ada yang pulang

Sampaikan padanya

Aku sudah begitu asing


Jika ada yang menghampiri

Sampaikan padanya

Aku sudah merawat hati


Jika ada yang kembali

Sampaikan padanya

Aku sudah membaik


Jika ada yang ingin merubah

Sampaikan padanya 

Aku sudah terlanjur pulih


Jika ada yang katakan cinta

Sampaikan padanya

Aku tak lagi percaya


Jika ada yang meneteskan air mata

Sampaikan padanya

Aku sudah menelan luka


Jika ada yang meminta maaf

Sampaikan padanya

Aku sudah menghapusnya dari syafaat


Ambon, 23 September 2023


TANYA


Di sore yang merona

Senja itu bertanya

Dimanakah dia 

Yang aku cinta

Melebihi indah warnanya ?


Di pagi yang seri

Pelangi itu bertanya

Dimanakah dia

Yang aku akui

Cantiknya melebihi hadirnya ?


Di malam yang tentram

Rembulan itu bertanya

Dimanakah dia 

Yang aku kagumi

Senyuman yang melebihi cahayanya ?


Di siang yang terang

Matahari itu bertanya

Dimanakah dia

Yang aku sayangi

Melebihi kesetiaannya ?


Di pasir yang lembut

Laut itu bertanya

Dimanakah dia

Yang aku peluk erat

Melebihi pasang surutnya ?



02 September 2023

_____________________________________________________

Aldian Dahoklory, pria kelahiran Yawuru, 16 Oktober 2002. Pecinta Puisi. Statusnya sebagai mahasiswa di Universitas Pattimura, jurusan Sastra dan Bahasa Indonesia. 

Posting Komentar

0 Komentar