NILAI PENDIDIKAN KARAKTER DALAM SERAT WULANGREH KARYA SAMPEYANDALEM INGKANG SINUHUN KANJENG PAKUBUWANA IV (KAJIAN PRAGMATIK) - negerikertas.com

INFO ATAS

LEMBAGA INDEPENDEN DI BIDANG PENDIDIKAN LITERASI, SENI BUDAYA, DAN SASTRA.

26 Agu 2023

NILAI PENDIDIKAN KARAKTER DALAM SERAT WULANGREH KARYA SAMPEYANDALEM INGKANG SINUHUN KANJENG PAKUBUWANA IV (KAJIAN PRAGMATIK)

 

NILAI PENDIDIKAN KARAKTER DALAM SERAT WULANGREH KARYA SAMPEYANDALEM INGKANG SINUHUN KANJENG  PAKUBUWANA IV (KAJIAN PRAGMATIK)

 

Candra Ghulam Ahmad1), Aris Wuryantoro2) Dwi Rohmah Soleh3)

1Universitas PGRI Madiun

2 Universitas PGRI Madiun

3Universitas PGRI Madiun

email: andhuen@gmail.com

email: allaam_71@yahoo.co.id

email: dwirohman@unipma.ac.id

 

ABSTRAK

 

 

Pendidikan karakter adalah pendidikan budi pekerti yang melibatkan aspek pengetahuan (cognitive), perasaan (feeling), dan tindakan (action). Pendidikan karakter merupakan upaya yang sengaja dirancang untuk membangun dan mengembangkan nilai-nilai moral dan perilaku. Pendidikan karakter merupakan upaya yang sengaja dirancang untuk membangun dan mengembangkan nilai-nilai moral dan perilaku. Ajaran-ajaran moral dan perilaku sebenarnya telah lama dikenalkan dan diajarkan oleh masyarakat jawa melalui produk-produk budaya jawa. Sejak dulu masyarakat jawa telah mengajarkan ajaran moral dan diwariskan kepada generasi sekarang untuk pembinaan budi pekerti. Ajaran-ajaran moral oleh orang jawa tidak hanya disampaikan melalui bahasa tutur, akan tetapi disampaikan juga melalui berbagai simbol budaya jawa. Salah satu budaya yang terdapat dalam masyarakat jawa adalah budaya sastra tulis. Salah satu contoh teks sastra jawa skriptorium keraton adalah Serat Wulangreh karya dari Sampeyandalem Ingkang Sinuhun Kanjeng Pakubuwana IV. Serat Wulangreh adalah karya sastra yang berisi piwulang, pembelajaran, atau pendidikan yang selesai ditulis oleh Pakubuwana IV pada hari Ahad tanggal 19 Besar 1735 tahun Dal, windu Sancaya, wuku Sungsang atau tahun 1808. Serat ini merupakan salah satu percikan semangat kekratonan dan gambaran pemikiran Raja tentang masalah-masalah politik pemerintahan, kekuasaan dan etika yang tak terlepas dari pandangan jawa secara umum. Serat Wulangreh yang berupa tembang Macapat ini pada mulanya merupakan buku pedoman untuk para putra raja agar mereka selalu ingat akan adanya kemerosotan moral pada saat penulisnya sedang memegang tampuk kekuasaan. Metode penelitian yang digunakan dalam mengkaji Serat Wulangreh karya Pakubuwana IV adalah metode penelitian kepustakaan artinya menelaah data yang berupa buku-buku. Sumber data penelitian ini berupa pupuh-pupuh tembang yang berasal dari naskah Serat Wulangreh karya Pakubuwana IV yang telah diterjemahkan kemudian sumber pendukungnya berupa buku dan jurnal. Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik analisis isi (content analisys). Hasil analisis yang diperoleh dalam penelitian ini antara lain: (1) Pendidikan karakter untuk diri sendiri (perseorangan) (2) Pendidikan karakter dalam keluarga (3) Pendidikan karakter dalam berinteraksi sosial (4) Pendidikan karakter dalam bernegara (5) Pendidikan karakter dalam beragama.

 

Kata kunci : Pendidikan Karakter, Serat Wulangreh, Pragmatik

 

A.    PENDAHULUAN

Salah satu budaya yang terdapat dalam masyarakat Jawa adalah budaya sastra tulis. Zoetmulder (1983) mengatakan masyarakat Jawa telah mengenal budaya bersastra melalui tulisan yang tertuang dalam bentuk naskah sejak abad IX. Naskah ini berkaitan dengan pengkajian sastra lama (bentuknya paling tua) yang berwujud tulisan tangan di atas lembaran-lembaran alas tulis setempat, aksara kedaerahan, dan bahasa setempat (Karsono, 2008: 2-3). Teks-teks yang ada di dalam naskah Jawa tidak seluruhnya merupakan karya sastra karena teks yang ada dalam naskah tidak semuanya berisi teks sastra, contoh teks non-sastra adalah primbon. Namun, ada pula beberapa naskah yang berisi teks non-sastra tetapi menggunakan bingkai sastra, contohnya adalah suluk.

Berdasarkan buku Kapustakan Djawi (Poerbatjaraka,1957) secara garis besar sastra jawa dibagi menjadi tiga golongan berdasarkan penggunaan bahasanya yaitu, sastra jawa kuna, sastra jawa pertengahan, dan sastra jawa baru. Karya sastra jawa kuna adalah karya sastra yang ditulis menggunakan bahasa jawa kuna. Bentuk karya sastra pada periodesasi ini berupa prosa dan kakawin. Karya-karya sastra pada masa ini mendapat pengaruh yang kuat dari India bahkan hampir seluruh aspek kesastraan jawa kuna berasal dari India.Hal ini dapat terlihat pada contoh contoh kakawin yang mempergunakan metrum-metrum dari India (Zoetmulder, 1983: 29).

Contoh karya sastra jawa kuna yang terkenal adalah Kakawin Ramayana dan Kakawin Arjunawiwaha. Berbeda dengan sastra jawa kuna, selain bentuk prosa sastra jawa Tengahan mengenal bentuk puisi, yakni kidung. Kidung merupakan karya sastra yang berasal asli dari Indonesia yang menggunakan bahasa jawa Tengahan. Prosodi dan isi sastra kidung benar-benar asli jawa. Hal ini dapat dilihat dari teks-teks karya sastra jawa Tengahan seperti Pararton dan Sudamala. Untuk karya sastra Jawa Baru, karya sastra pada masa ini ditulis dalam bahasa Jawa Baru. Bentuk puisi yang populer pada masa ini adalah Macapat. Bersamaan dengan berkembangnya Macapat lahirlah karya-karya sastra yang mendapat pengaruh keislaman. Selain itu, sastra Jawa Baru juga menuliskan gubahan yang bersumber pada teks-teks Jawa Kuna seperti Serat Bhratayuda, Serat Gatotkacasraya, dan Serat Arjunasasrabau.

Berdasarkan periodesasi sastra di atas dapat dilihat bahwa sastra jawa (tulis) yang telah menempuh perjalanan panjang sejak penulisan cerita Ramayana Jawa Kuna pada akhir abad IX telah melahirkan berbagai macam bentuk dan genre sastra. Bentuk dan genre sastra jawa secara perlahan silih berganti berubah sesuai perubahan masyarakat jawa. Karsono (2005) dalam bukunya mengatakan bahwa salah satu genre yang mempunyai kedudukan penting dalam tradisi sastra jawa adalah sastra wulang atau sastra piwulang. Sastra wulang muncul sejak abad XIV dan lebih berwarna keislaman. Tetapi, pada masa Surakarta awal sastra wulang sudah merupakan perpaduan antara kebudayaan jawa dan Islam. Selain sastra wulang ada jenis karya sastra lain yang juga memiliki makna ajaran, yakni suluk dan wirid. Sastra suluk dan sastra wirid berkaitan dengan ajaran tasawuf. Suluk dan wirid memiliki matra religi (terutama Islam), sedang wulang lebih bermatra sosial. Selain sastra wulang, sastra suluk, dan sastra wirid terdapat pula genre karya sastra lain yaitu babad. Istilah babad dalam tradisi jawa menunjuk pada sastra yang mengandung unsur sejarah, contoh babad misalnya Babad Tanah Jawi, Babad Demak, dan Babad Blambangan. Genre-genre sastra yang telah disebutkan di atas banyak terdapat di dalam naskah jawa. Pada zaman dahulu naskah tidak diproduksi secara massal untuk tujuan komersial. Oleh karena itu bagi mereka yang menginginkan teks tertentu, mereka akan menyalin teks tersebut atau menyuruh orang lain yang memiliki keahlian dan kepandaian dalam menyalin teks. Tempat dilakukannya penulisan dan penyalinan teks disebut skriptorium.

Berdasarkan (Karsono, 2008:66) secara garis besar, skriptorium di jawa dibagi atas skriptorium keraton dan skriptorium non-keraton. Yang dimaksud keraton adalah istana-istana jawa, sedang luar keraton adalah pusat pusat kegiatan budaya seperti pesantren, pedesaan, dan berbagai tempat di pesisir utara jawa. Teks produksi skriptorium pesisiran memiliki kekhasan dalam bahasa, aksara, dan isi. Bahasa yang digunakan adalah bahasa jawa pesisiran, aksara yang digunakan adalah aksara pegon disamping aksara jawa, dan isinya menunjukkan warna keislaman meskipun tidak seluruhnya. Pada penelitian ini penulis fokus pada karya sastra jawa skriptorium keraton, berupa serat wulang. 

Salah satu contoh teks sastra jawa skriptorium keraton adalah Serat Wulangreh karya dari Sampeyandalem Ingkang Sinuhun Kanjeng Pakubuwana IV. Serat Wulangreh adalah karya sastra yang berisi piwulang, pembelajaran, atau pendidikan yang selesai ditulis oleh Pakubuwana IV pada hari Ahad tanggal 19 Besar 1735 tahun Dal, windu Sancaya, wuku Sungsang atau tahun 1808. Serat ini merupakan salah satu percikan semangat kekratonan dan gambaran pemikiran raja tentang masalah-masalah politik pemerintahan, kekuasaan dan etika yang tak terlepas dari pandangan jawa secara umum.

Mempelajari bahasa tentunya tidak lepas dari ilmu yang melandasinya. Kajian ilmu bahasa yang sesuai untuk mengupas Serat Wulangreh adalah pragmatik. Pragmatik sebagai salah satu bidang ilmu linguistik, mengkhususkan pengkajian pada hubungan antara bahasa dan konteks tuturan. Levinson (dalam Rahardi, 2003:12) berpendapat bahwa pragmatik sebagai studi perihal ilmu bahasa yang mempelajari relasi-relasi antara bahasa dengan konteks tuturannya. Konteks tuturan yang dimaksud telah tergramatisasi dan terkodifikasikan sedemikian rupa, sehingga sama sekali tidak dapat dilepaskan begitu saja dari struktur kebahasaannya. Menurut Tarigan (1985:34) pragmatik merupakan telaah umum mengenai bagaimana caranya konteks mempengaruhi cara seseorang menafsirkan kalimat. Pendapat lainnya disampaikan Leech (1993:1) bahwa seseorang tidak dapat mengerti benar-benar sifat bahasa bila tidak mengerti pragmatik, yaitu bagaimana bahasa digunakan dalam komunikasi. Pernyataan ini menunjukan bahwa pragmatik tidak lepas dari penggunaan bahasa. Berdasarkan pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud pragmatik adalah telaah mengenai kemampuan pemakai bahasa yang menghubungkan serta menyerasikan kalimat dan konteks. Namun dihubungkan dengan situasi atau konteks di luar bahasa tersebut, dan dilihat sebagai sarana interaksi atau komunikasi di dalam masyarakat. Bahasa dan pemakai bahasa tidak teramati secara individual tetapi selalu dihubungkan dengan kegiatan dalam masyarakat. Bahasa tidak hanya dipandang sebagai gejala individual tetapi juga gejala sosial. Dari uraian diatas peneliti tertarik mengupas Serat Wulangreh dari sisi nilai pendidikan karakter dikaji secara pragmatik.

Secara garis besar, Serat Wulangreh berisi tentang ajaran untuk memilih guru, kebijaksanaan dan bergaul, kepribadian, tema tata krama, ajaran berbuat baik kepada orang lain,  ketuhanan, berbakti kepada pemerintah, pengendalian diri, tema kekeluargaan, tema keselamatan, keikhlasan dan kesabaran, beribadah dengan baik, serta ajaran tentang keluhuran. Selain isinya yang penuh dengan nilai pendidikan karakter, Serat Wulangreh secara struktur penulisan sangat memperhatikan unsur estetik. Keindahannya terdapat pada ritma dan rima serta bunyi bahasa meliputi purwakanthi guru swara, purwakanthi guru sastra, dan purwakanthi guru basa / lumaksita. Pemahaman tentang diksi (pemilihan kata), aliterasi, pengimajian, kata konkret, bahasa figuratif, dan metrum semua terdapat dalam Serat Wulangreh.

Penelitian ini mengambil judul nilai pendidikan karakter dalam Serat Wulangreh karya Pakubuwana IV (kajian Pragmatik). Penelitian sebelumnya yang mungkin relevan adalah tesis dengan judul kajian tema, nilai estetika dan pendidikan dalam Serat Wulangreh karya Pakubuwana IV oleh Yuli Widiyono 2010. Penelitian ini difokuskan pada pengungkapan Tema, Estetika, dan Nilai Pendidikan dalam Serat Wulangreh melalui pendekatan Struktural.

Penelitian berikutnya yaitu artikel yang ditulis oleh Aris Wuryantoro yang berjudul Pragma-Semiotics Competences in Wulangreh Book (Wulangreh dalam kajian pragma-semiotik) yang isinya yaitu mengupas tentang Tanggap ing sasmita masyarakat jawa yang tertuang dalam Serat Wulangreh. Tujuan dari tulisan ini adalah untuk menganalisis Serat Wulangreh karya Sri Paku Buwana IV khususnya pada tembang Kinanti 1 dengan pendekatan pragmatik dan semiotik. Tulisan ini menggunakan metode penelitian kualitatif deskriptif dengan simak catat yang bersumber pada dokumen tembang Kinanti 1 karya Sri Paku Buwana IV. Hasil analisis menunjukkan bahwa tembung “tanggap ing sasmita amrih lantip” dalam Serat Wulangreh sarat akan tuturan yang menunjukkan adanya piwulang (pengajaran) kompetensi pragmatik dan semiotik baik untuk penutur maupun mitra tutur.

Dari dua kajian relevan yang membahas tentang serat wulangreh tersebut, penelitian masuk ke dalam kategori penelitian terbaru karena membahas tentang nilai pendidikan karakter dalam serat wulangreh kemudian dikaji dengan Pragmatik. Maka dari itu, penelitian ini bertujuan untuk menjabarkan atau mendeskripsikan secara pragmatik tentang (1) Pendidikan karakter untuk diri sendiri (perseorangan) (2) Pendidikan karakter dalam keluarga (3) Pendidikan karakter dalam berinteraksi sosial (4) Pendidikan karakter dalam bernegara (5) Pendidikan karakter dalam beragama.

B.  KAJIAN TEORI

1.    Pengertian Nilai

Nilai adalah sifat-sifat atau hal-hal yang penting dan berguna bagi
kemanusiaan. Sementara itu, Mardiatmadja (1986:55) menyatakan bahwa nilai merujuk pada sikap orang terhadap sesuatu hal yang baik. Nilai-nilai dapat saling berkaitan membentuk suatu sistem antara satu dengan yang lain, kohern dan mempengaruhi segi kehidupan manusia. Hal senada juga diungkapkan The Liang Gie (1982:159) yang berpendapat bahwa nilai adalah sesuatu yang menimbulkan minat (interest), sesuatu yang lebih disukai (preference), kepuasan (satisfaction), keinginan (desire), kenikmatan (enjoyment). Nilai selalu menjadi ukuran dalam menentukan kebenaran dan keadilan, sehingga tidak akan pernah lepas dari sumber asalnya yaitu berupa nilai ajaran agama, logika, dan norma-norma yang berlaku dalam masyarakat. Nilai merupakan suatu konsep, yaitu pembentukan mentalita yang dirumuskan dari tingkah laku manusia sehingga menjadi sejumlah anggapan yang hakiki, baik dan perlu dihargai sebagaimana mestinya.

 

2.    Pengertian Pendidikan

Kata edukasi berasal dari bahasa Inggris educate, yang berarti
mengasuh atau mendidik, education artinya pendidikan. Montessori
(dalam Qomar, 2005: 49) menyatakan bahwa pendidikan memperkenalkan cara dan jalan kepada peserta didik untuk membina dirinya sendiri. Rubiyanto (2004: 21) menyatakan pendidikan sebagai seni mengajar karena dengan mengajarkan ilmu, keterampilan dan pengalaman tertentu, orang akan melakukan perbuatan kreatif. Mendidik tidak semata-mata teknis, metodis dan mekanis mengkoperkan skill (psikomotorik) kepada anak tetapi merupakan kegiatan yang berdimensi tinggi dan berunsur seni yang bernuansa dedikasi (kognitif), emosional, kasih sayang dalam upaya membangun dan membentuk kepribadian (afektif). Menurut Reisman (dalam Rubiyanto, 2004:20) pendidikan adalah kegiatan yang harus berwujud lembaga yang mampu counter cyclical, yaitu sekolah harus lebih banyak mengajukan dan menanamkan nilai dan norma-norma yang tidak banyak dikemukan oleh kebanyakan lembaga sosial yang ada di masyarakat. Sekolah harus bertindak sebagai agent of change and creative. Menurut Sisdiknas (dalam Rubiyanto, 2004:21) pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk menciptakan suasana belajar agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagaman, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, sikap sosial dan ketrampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.

3.    Pendidikan Karakter

Pendidikan karakter adalah pendidikan budi pekerti yang melibatkan aspek pengetahuan (cognitive), perasaan (feeling), dan tindakan (action). Pendidikan karakter merupakan upaya yang sengaja dirancang untuk membangun dan mengembangkan nilai-nilai moral dan perilaku. Ajaran-ajaran moral dan perilaku sebenarnya telah lama dikenalkan dan diajarkan oleh masyarakat jawa melalui produk-produk budaya jawa. Sejak dulu masyarakat jawa telah mengajarkan ajaran moral dan diwariskan kepada generasi sekarang untuk pembinaan budi pekerti. Ajaran-ajaran moral oleh orang jawa tidak hanya disampaikan melalui bahasa tutur, akan tetapi disampaikan juga melalui berbagai simbol budaya orang jawa, salah satu diantaranya adalah melalui tembang Macapat. Melalui syair muatan pendidikan karakter disampaikan dalam bait-bait tembang Macapat. Serat Wulangreh karya Paku Buwana IV merupakan salah satu karya sastra yang memiliki muatan pendidikan karakter. Pesan moral pendidikan karakter ditulis oleh Paku Buwana IV sepanjang sebelas pupuh tembang Macapat dan dua pupuh Tembang Tengahan.

 

4.    Serat Wulangreh

Ditinjau secara etimologi Wulangreh berasal dari dari rangkaian dua kata yaitu Wulang yang berarti: wuruk, pitutur ‘ajaran tentang kebaikan, memberikan peringatan supaya tidak melakukan perilaku yang tidak baik). Dan reh yang berarti Reh dalam Bahasa Jawa nggulewentah tata kapraja, tatapraja atau pemerintahan (Kamus Baoesastra Djawa). Dengan demikian Serat Wulangreh memiliki pengertian sebuah karya sastra yang berisi pengetahuan untuk dijadikan bahan pengajaran untuk mencapai keluhuran hidup atau pelajaran hidup supaya selamat. Serat Wulangreh selesai ditulis pada tanggal 19 besar hari ahad kliwon tahun dal,1735 mangsa kawolu, windu sancaya,wuku sungsang atau sekitar dua belas tahun sebelum Pakubuwana IV wafat. Semula Serat Wulangreh diperuntukkan bagi kalangan keluarga Keraton supaya dalam menjalani hidup mampu menunjukan sikap-sikap yang utama, namun kemudian sampai juga kepada masyarakat/rakyat di luar Keraton melalui abdi dalem yang tinggal di luar Istana, sehingga bermanfaat juga bagi masyarakat dan berlaku sampai kapan saja. Serat Wulangreh, karya jawa klasik bentuk puisi tembang Macapat, dalam bahasa jawa baru ditulis tahun 1768 – 1820 di Keraton Kasunanan Surakarta. Isi teks tentang ajaran etika manusia ideal yang ditujukan kepada keluargaraja, kaum bangsawan dan hambadi keraton Surakarta. Ajaran etika yang terdapat di dalamnya merupakan etika yang terdapat di dalamnya merupakan etika yang ideal, yang dianggap sebagai pegangan hidup yang seharusnya dilakukan oleh masyarakat jawa pada waktu itu, khususnya dilingkungan Keraton Surakarta. Bahasa dalam Serat Wulangreh yang sederhana, memudahkan pemahaman terhadap isi yang terkandung dalam bait-bait tembang.

Teks Serat Wulangreh terdiri atas tiga belas pupuh tembang, diantaranya: tembang Dhandhanggula, tembang Kinanthi, tembang Gambuh, tembang Pangkur, tembang Maskumambang, tembang Megatruh, tembang Durma, tembang Pucung, tembang Megatruh, tembang Mijil, tembang Asmaradana, tembang Sinom, tembang Wirangrong, tembang Girisa. Dari peninggalan Pakubuwana kita dapat meresapi dan mempelajari nilai karakter dan nilai moral yang terkandung dalam rangkaian kata-kata yang indah yang dituliskan dalam bentuk Serat.

 

C.      METODE PENELITIAN

Metode penelitian yang digunakan dalam mengkaji Serat Wulangreh karya Pakubuwana IV adalah metode penelitian kepustakaan artinya menelaah data yang berupa buku-buku. Pada penelitian ini menggunakan jenis penelitian karya sastra dengan menggunakan pendekatan pragmatik. Secara garis besar definisi pragmatik tidak dapat dilepaskan dari bahasa dan konteks. Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa pragmatik merupakan bidang yang mengkaji tentang kemampuan penutur untuk menyesuaikan kalimat yang diujarkan sesuai dengan konteksnya. Sehingga, komunikasi dapat berjalan dengan lancar. Dalam hal ini perlu dipahami bahwa kemampuan berbahasa yang baik tidak hanya terletak pada kesesuaian aturan gramatikal tetapi juga pada aturan pragmatik. Beberapa hal yang dibahas dalam ilmu pragmatik, antara lain tuturan, peristiwa tutur, tindak tutur, dan jenis tindak tutur. Maka dari itu penelitian ini lebih mengerucut kepada peristiwa tutur yang terdapat pada Serat Wulangreh karya Pakubuwana IV.

Teknik pengumpulan data yang dilaksanakan oleh peneliti yaitu dengan melakukan studi pustaka untuk mencari dan mengumpulkan bahan dan informasi dari kepustakaan yang berkaitan dengan objek yang diteliti (Faruk, 2012: 56). Selanjutnya yang dilakukan oleh peneliti yaitu teknik simak, kegiatan pengumpulan data dari hasil simakkan catatan-catatan yang berkaitan dengan objek penelitian. Kemudian yang terakhir yaitu teknik catat, guna menyimpulkan hasil pustaka dan menyimak dari objek yang diteliti.

Proses analisis yang dilakukan dalam penelitian ini yaitu dengan tiga tahapan: (1) pengumpulan data, (2) reduksi data, dan (3) penyajian data. Pengumpulan data pada penelitian ini dilakukan dengan mencari atau menggali nilai nilai pendidikan karakter yang terkandung dalam pupuh pupuh tembang macapat yang ada dalam serat wulangreh dan kemudian dikaji secara pragmatik. Langkah selanjutnya yang akan dilakukan yaitu reduksi data. Data yang selanjutnya akan direduksi sesuai kelompok sesuai dengan klasifikasi atau jenis dari klasifikasi data yang sudah ditentukan. Setelah data terkumpul dan direduksi, maka data akan danalisis secara pragmatik sehingga menghasilkan sebuah gambaran atau pemaknaan tentang nilai pendidikan karakter dalam serat wulangreh karya Pakubuwana IV.

D.      HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Hasil analisis yang diperoleh dalam penelitian Nilai Pendidikan Karakter dalam Serat Wulangreh Karya Pakubuwana IV kajian pragmatik ini antara lain: (1) Pendidikan karakter untuk diri sendiri (perseorangan) (2) Pendidikan karakter dalam keluarga (3) Pendidikan karakter dalam berinteraksi sosial (4) Pendidikan karakter dalam bernegara (5) Pendidikan karakter dalam beragama

 

1.    Pendidikan karakter untuk diri sendiri (perseorangan)

Nilai karakter perseorangan yaitu nulai-nilai karakter yang diperlukan setiap perseorangan dan dipraktikan dalam kehidupan sehari-hari. Adapun nilai karakter  perseorangan  dalam  Wulangreh yaitu; bersikap Jujur, menjaga perkataan dalam berbicara, tidak  sombong, rendah hati, rasa ingin tahu dan bersifat kritis terhadap pengetahuan. Tertulis dalam beberapa pupuh di bawah ini;

Aja nganti kabanjur

Sabarang polah kang nora jujur

Yen kabanjur sayekti kojur tan becik

Becik ngupaya iku

Pitutur ingkang sayektos

(gambuh 2)

 

Artinya:

jangan sampai terlanjur

setiap ulah yang tidak jujur

kalau terlanjur sungguh susah,dan tidak baik

lebih baik carilah

nasehat baikdan benar

 

Den samya marsudeng budi

Wiweka dipun waspaos

Aja dumeh bisa muwus

Yen tan pantes ugi

Sanadya  mung sekecap

Yen tan pantes prenahira

(Wirangrong 1)

 

Artinya

Belajarlah budi pekerti

Rasa tanggap diperhatikan

Jangan asal bisa bicara

Bila tak pantas juga

Meski hanya sekata

Bilatak pada tempatnya

 

Rowang  sapocapan  ugi,

Kang pantes ngajak calathon,

Aja sok metuwo wong celathu,

Ana pantes ugi,

Rinungu mring wong kathah,

Ana satengah micara.

(Wirangrong 3)

 

Artinya:

Rekan berbicara juga

Yang pantas diajak bicara

Jangan menyela orang bicara

Akan pantas juga

Didengar orang lain

Ditengah pembicaraan

 

Lawan maning ing pituturingsun

Yen sira amaca

Layang sabarang layanging

Aja pijer katungkul ningali sastra

(Pocung 17)

 

Artinya :

Dan masih banyak lagi jangan ragu

Kalau kau membaca

Tulisan segala

Jangan selalu terpesona dengan sastra

 

Ceritane ala becik dipun weruh

Nuli rasakna

Layang iku saunining

Den karasa kang becik sira anggoa

(Pocung 18)

 

Artinya:

Ceritanya baik atau buruk harus tahu

Lalu rasakan

Isi dalam tulisan ini

Dirasakan yang baik engkau pakai

 

2.    Pendidikan karakter dalam keluarga

Nilai karakter dalam keluarga adalah nilai karakter yang dilakukan dalam lingkungan keluarga. Dalam Wulangreh nilai karakter yang bisa diambil yaitu; mentaati perintah orang tua, hidup rukun, memberi nasehat pada yang muda. Tertulis dalam beberapa pupuh di bawah ini:

Wong tan manut tuture wong tuwa ugi

Pan nemu duraka

Ing donya tumekeng akhir

Tan wurung kasurang-surang

(Maskumambang 5)

 

Artinya:

Orang yang tak patuh nasihat orang tua 

Kan dapat durhaka

Didunia maupun diakhirat

Nanti kan terlunta-lunta

 

Aja kaya sadulur memanise dipun runtut,

Aja kongsi pisah,

Ing samubarang karyeki,

Yen arukun dinulu katon prayoga.

(Pocung 4)

 

Artinya:

Saudara dan keluarga hendaknya rukun

Jangan sampai pisah

Dalam segala kehendak

Semua rukun tampak baik

 

3.    Pendidikan karakter dalam berinteraksi sosial

Akhlak sosial yaitu akhlak yang digunakan  dalam  interaksi  sosial, baik untuk kebaikanya sendiri maupun orang lain. diantara nilai akhlak sosial yang terdapat dalam Wulangreh yaitu;  mencari  teman yang baik, tenggang rasa, tidak mencela orang, jangan berhianat, menjaga rahasia orang lain, berbicara pada orang yang dapat dipercaya. Dijelaskan dalam beberapa pupuh di bawah ini:

Nadyan asor wijilipun

Yen kelakuwane becik

Utawa sugih cerita

Kang dadi misil

Yen pantes raketana

Darapon mundhak ing budi

(Kinanthi 4)

 

Artinya:

Meskipun rendah derajatnya

Kalau perilakunya baik

Pengalamanya pun banyak

Dapat dijadikan contoh

Itu patut kau dekati

Agar bertambah baik tingkah lakumu

 

Yen wong anom pan wus tamtu

Manut marang kang ngadhepi

Yen kang ngadhep akeh durjana

Tan wurung bisa anjuti

Yen kang ngadhep  akeh  bongsa

Nora wurung dadi maling

(Kinanthi 5)

 

Artinya:

Jika orang muda pasti

Menerima yang dihadapannya

Jika hadapi penjahat

Bisa juga terpengaruh

Bila disekitarnya pencuri

Akhirnya bisa mencuri

 

Aja ana wong bisa tutur

amunga ingsun pribadhi

aja ana amemedha

angrasa pinter ngluwihi

iku setan nunjang-nunjang

tan pantes dipun cedhaki

(Kinanthi 14)

 

Artinya:

Jangan sembarang berbicara

Tentang dirinya sendiri

Jangan hanya mencela

Merasa pintar sendiri

Itu setan yang mengamuk

Tidak pantas didekati

 

Rowang sapocapan ugi

Kang pantes ngajak calathon

Aja sok metuwo wong celathu

Ana pantes ugi

Rinungu mring wong kathah

Ana satengah micara

(Wirangrong 3)

 

Artinya :

Rekan berbicara juga

Yang pantas diajak berbicara

Jangan menyela orang bicara

Akan pantas juga

Didengar orang lain

Ditengah pembicaraan

 

Lan welinge wong ngaurip

Aja ngakehken supaos

Iku gawe reged badanipun

Nanging masa mangkin

Tan ana itungan prakara

Supata ginawe dinan

(Wirangrong 4)

 

Artinya:

Tak patut kalau sok pintar

Makanya kalau merasa

Diarahkan agar tak terlanjur

Bila telah dikatakan

Tak dapat ditarik, maka berhati-hatilah

 

4.    Pendidikan karakter dalam bernegara

Nilai akhlak dalam negara yaitu nilai-nilai  akhlak  yang  digunakan dalam kehidupan bernegara, baik sebagai raja, abdi dalem, atau rakyat biasa (kawula). Sebagai raja akhlak yang diperlukan yaitu meniru para leluhur dalam memimpin negara dalam sinom bait 18 dijelaskan:

Marang leluhur sedaya

Nggone nenedha mring widhi

Bisaa ambabonana

Dadi ugere rat jawi

Saking telateneki

Nggone katiban wahyu

Ing mula mulanira

Lakune leluhur dingin

Andhap asor anggone anamur lampah

(Sinom 18)

 

Artinya:

Para leluhur semua

Selalu memohon kepada Tuhan

Bisa memimpin negara

Jadi teladan tanah jawa

Juga karena tekunnya

Ketika mendapat wahyu

Dalam permulaannya

Laku-nya luhur dahulu

Rendah-hati dalam menjalankan laku

 

Bagi seorang abdi negara dalam mengabdi tidak boleh ragu-ragu dan penuh kesetiaan. Dijelaskan dalam pupuh megatruh bait 1 di bawah ini:

Wong ngawula ing ratu luwih pakewuh

Nora kena minggrang-minggring

Kudu mantep sartanipun

Setya tuhu marang gusti

Dipun purut sapakon

(Megatruh 1)

 

Artinya:

Mengabdi kepada ratu lebih sulit

Tidak boleh rag-ragu

Harus mantap pengabdianya

Setia taat kepada gusti

Patuh pada perintahnya

 

5.    Pendidikan karakter dalam beragama

Nilai akhlak dalam beragama dalam Wulangreh disampaikan dalam beberapa nasihat agar manusia selalu berpegang teguh pada ajaran Islam, menjalankan syariat, mengerjakan rukun iman, mendirikan shalat, berpegang teguh pada Qur`an-Hadis, selalu bergaul dengan orang yang tahu tentang ilmu yaitu ulama’ dan berhati-hati dalam mepelajari Islam. Tutur Pakubuana IV dalam beberapa pupuh di bawah ini;

Kacek uga lan kang tanpa ngelmi

Sabarang kang kaot

Dene ngelmu iku ingkang kangge

Sadinane gurokna kariyin

Pan sarengat ugi

Parabot kang perlu

(Mijil 25)

 

Artinya:

Lain pula dengan yang tak berilmu

Segalanya berbeda

Jadi ilmu itu yang dipakai

Tiap hari diajarkan dahulu

Dan syariat juga

Perabot yang perlu

 

Ngelmu sarengat puniku dadi

Wawadhah kang yektos

Kawruh tetelu kawengku kabeh

Pan sarengat kanggo lair batin

Mulane den sami

Brangtaa ing ngelmu

(Mijil 26)

 

Artinya:

Ilmu syariat itu menjadi

Wahana yang tepat

Ketiga ilmu termuat semua

Dan syariat untuk lahir batin

Maka mari bersama

Membuka untuk ilmu

 

Kang wis wruh rasaning kitab

Drapun sira weruha

Wajib mokal ing hyang sukma

Miwah wajibing kawula

Lan mokale kawuruhana

Miwah ta ing tata krama

Sarengat dipun waspada

Batal karam takokena

(Girisa 5)

 

Artinya:

Yang telah paham isi kitab

Agar kau ketahui

Wajib, menyimpang kehendak Tuhan

Dan kewajiban manusia

Yang menyimpang ketahuilah

Biasanya tentang tatakrama

Syariat perhatikanlah

Batal haram kau tanyakan

 

Lamun ana wong micoreng ngelmi

Tan mupakat ing patang prakara

Aja sira age-age

Anganggep nyatanipun

Saringana dipun bersih

Limbangen lan kang patang

Prakara rumuhun

Dalil kadis lan ijemak

Lan kiyase papat iku salah siji

Ana kang mupakat

(Dandhanggula 5)

 

Artinya:

Jika ada yang mencoreng ilmu

Tanpa sepakat pada empat hal

Jangan engkau cepat cepat

Menganggap itu nyata

Saringlah benar benar bersih

Samakan dengan empat

Hal yang lalu itu

Dalil hadis dan ijmak

Dan makna yang empat itu, salah satu

Ada dan sepakat

 

6.    SIMPULAN DAN SARAN

Nilai pendidikan karakter yang terdapat dalam Serat Wulangreh meliputi: Nilai dalam karya sastra berupa ajaran luhur, pesan, dan nilai-nilai kehidupan yang dapat digunakan sebagai bahan piwulang (ajaran). Lebih spesifiknya menjelaskan mengenai hubungan antara manusia dengan Tuhan meliputi berserah diri kepada Tuhan, patuh kepada Tuhan, pengakuan adanya kekuasaan Tuhan, bertaubat kepada Tuhan, bersyukur atas nikmat Tuhan, selalu berdoa kepada Tuhan, memohon kepada Tuhan. Kemudian didalam Serat Wulangreh juga terdapat nilai pendidikan karakter terkait hubungan antara manusia dengan sesama meliputi ajaran memilih guru, berhati-hati dalam bergaul, pergaulan, tata karma, penghormatan, mengabdi kepada pemerintahan, kekeluargaan, keutuhan keluarga, rajin mencari ilmu, memberikan nasihat kepada yang muda, menghormati sesama, bersikap hati-hati dalam berkomunikasi, menghormati orang tua. Selanjutnya nilai pendidkan moral yang berupa ajaran laku utama untuk diri pribadi meliputi ajaran tentang pengendalian diri, mengendalikan diri untuk tidak sombong, rajin dalam bekerja, berhati-hati dalam bertingkah laku, ajaran kejiwaan, mawas diri, kemantapan dalam mencari ilmu, berperilaku yang baik. Kemudian juga terdapat nilai yang berhubungan dengan keagamaan meliputi pengakuan adanya kitab masing-masing agama, sumber-sumber hukum agama Islam, melaksanakan sholat lima waktu, menjalankan rukun Islam, mengetahui perjuangan para wali, mempercayai adanya kehidupan setelah kehidupan dunia. Semoga dari dilakukannya penelitian ini, mendorong penelitian sejenis yang membahas tentang relevansi nilai pendidikan karakter dalam serat wulangreh dengan pendidikan di masa sekarang.

7.    UCAPAN TERIMAKASIH

Terima kasih saya ucapkan sebesar-besarnya kepada Tuhan Yang Maha Esa atas berkah dan karunianya sehingga dapat menyelesaikan penelitian ini. Kepada Aris Wuryantoro dan Dwi Rohmah Soleh yang turut berpartisipasi dan memberikan banyak masukan dan tambahan sehingga penelitian selesai. Terima kasih juga terucap kepada semua yang yang turut memberikan semangat dan motivasi.

8.    DAFTAR PUSTAKA

Aristo, Rahadi. 2003. Media Pembelajaran. Jakarta : Departemen Pendidikan

Nasional.

 

Faruk. (2012). Mertode Penelitian Sastra. Pustaka Pelajar.

 

Gie, The Liang. 1982. Asas-Asas Manajemen. Bandung : Mandar Maja.

 

Saputra, Karsono H. 2008. Pengantar Filologi Jawa. Jakarta : Wedatama Widya

Sastra.

 

Leech, Geoffrey. 1993. Prinsip-Prinsip Pragmatik. Jakarta : Universitas

Indonesia Press.

 

Mardiatmadja. 1986. Hubungan Nilai dengan Kebaikan. Jakarta : Sinar Harapan.

 

Mujamil, Qomar. 2005. Pesantren: Dari Transformasi Metodologi Menuju

Demokratisasi Institusi. Jakarta : Erlangga.

 

Poerbatjaraka R.M.Ng. 1957. Kapustakaan Djawa. Jakarta : Djambatan.

 

Rubiyanto. 2004. Buku Pendidikan Lengkap. Jakarta : Rineka Cipta.

 

Tarigan H.G. 1985. Menulis Sebagai Suatu Keterampilan Berbahasa. Bandung :

Angkasa.

 

Zoetmulder P.J. 1983. Kalangwan: Sastra Jawa Kuno, Selayang Pandang. Jakarta

: Djambatan.

 

 

TENTANG PENULIS

Candra Ghulam Ahmad, ngabdi wonten ing Pawiyatan Luhur MTsN 4 Madiun minangka dwija Basa Jawi

+6281236827505

INFO BAWAH

NB: Untuk saat ini, Negeri Kertas belum bisa memberikan honor untuk karya (Puisi/Cerpen) yang tayang.