005

header ads

Puisi-Puisi Ahmad Z Ujung

 









Ahmad Z Ujung 

 

MANDALIKA  DALAM  LEGENDA 

 

Tersebut kisah dahulu kala

tentang seorang raja bernama raden panji kusuma

memimpin rakyat dengan bijaksana 

makmur bahagia tiada derita.

 

Raja bahagia tiada tara

akan lahirnya putri jelita

dijaga penuh dengan tulus cinta

diberi nama putri mandalika.

 

Purnama berjalan mengganti masa 

mandalika tumbuh beranjak dewasa

berparas cantik menjadi dara

sopan peringai santun sikapnya.

 

Banyak raja menaruh asa 

berharap balas untuk dicinta 

mandalika menolak dengan senyumnya

membuat para raja menjadi murka.

 

Cinta menjadi sebuah dilema

menjadi penyebab huru-hara

mandalika mengambil langkah bijaksana

pergi bersemedi ke belantara.

 

Waktu yang ditunggu tibalah juga

sebelum pagi datang meraja 

di tepi pantai berkumpul bersama 

menunggu putri tentukan hatinya.

 

Mandalika teguh angkat bicara

menerima semua pinangan raja

meninggalkan dunia ke dalam samudera

menebus cinta dengan raganya.

 

Sudah menjadi takdir dewata

mandalika jelita berubah rupa

menjadi nyale berupa warna 

tak pernah hilang didalam jiwa.

 

Mandalika adalah representasi fakta

bahwa cinta tidak dapat dipaksa

mandalika adalah kaca 

untuk kasih sayang yang sebenarnya. 

 

(Cerita Rakyat Dari Nusa Tenggara Barat)

Ahmad Z Ujung 

 

NANGKENDAREN  (CIDO-CIDO KALIKI)

 

Aku mendengar sebuah legenda

tentang seorang  raja yang  bijaksana

memimpin rakyat dengan wibawa

makmur bahagia tiada derita.

 

Raja bahagia tiada tara

akan  lahirnya putri jelita

dijaga penuh dengan tulus cinta

tiada sedetik lepas kasihnya.

 

Suatu malam saat purnama

raja bersila di bale istana

berteman Bintang di cakrawala

bersama putri bercanda ria.

 

Raja berdendang selaksa jiwa

lantunkan nada di mayapada

sebagai bentuk ungkapan rasa

kepada putri buah hatinya.

 

Cido-cido kaliki urat ni tabunggala

indah menguntai syair irama

terlelap tidur  putri dan raja

malam meninggi tanpa terasa.

 

Menurut tutur cerita

angin berhembus dengan kencangnya

sang putri terbawa tinggalkan raja

dibawa angin menuju angkasa.

 

Sang raja bangun dari lelapnya

terkejut luruh tidak percaya

putri tercinta telah tiada

meronta sesal membunuh jiwa.

 

Sampai di bulan putri terjaga

menangis sendu rindukan raja

berkat mukjizat yang Mahakuasa

putri  jelita berbadan dua.

 

Suatu ketika putri berhias raga

sambil memangku buah hatinya

tanpa diduga tiada disangka

cucu sang raja lepas dari tangan ibunya.

 

Sebelum sampai ke mayapada

cucu sang raja berubah bentuknya

menjadi kelelawar bukan lagi manusia

kisah berlanjut menjadi cerita.

 

Kelelawar ingin kembali ke angkasa

apa daya mentari sudah meraja

kelelawar tidak bisa melihat apa-apa

terbang kembali ke bumi dengan putus asa.

 

Menurut yang punya cerita

kelelawar akan datang saat purnama

ingin kembali ke bulan menemui ibunya

apa daya ingin kelelawar tidak pernah menjadi nyata.

 

Begitu juga dengan ibunda

selalu bersabar menunggu cinta

setiap bulan purnama tiba

akan ada sosok bayangan di bulan itulah nangkendaren putri raja.

 

(Cerita Rakyat Suku Pakpak Dari Provinsi Sumatera Utara)

 


 

Ahmad Z Ujung 

 

LAYONSARI 

 

Dan, adakah yang lebih ikhlas dari abdi ?

saat  titah  peminta di tukar raga.

 

Adakah rasa yang lebih durjana ?

saat nadi di ikat nafsu.

 

Adakah hati yang lebih setia ?

dari wanita berkain sutra 

menikam belati tepat di dada.

 

layonsari  adalah atma 

lebih dari kata cinta

di setiap detak waktu 

dia akan menyapa.

 

Mengembalikan lembaran buku ke halaman belakang

kepada jiwa-jiwa  yang hatinya dituruni hujan 

kepada jiwa-jiwa yang diselimuti malang. 

 

(Cerita Rakyat Dari Provinsi Bali)





Biodata Penulis 

Ahmad Z Ujung, Seorang Guru kelahiran Sidikalang 21 Maret 1989. Penulis buku Muatan Lokal Bahasa Daerah Pakpak untuk kelas IV.V DAN VI, penulis buku Jejak dan Sejarah Suku Pakpak. penulis buku Gema Lobat Tanoh Sulang Silima, Penulis buku Sang Peneroka di Negeri Andalas. 

Karya-karyanya berupa puisi dan cerpen tersebar di sejumlah media massa seperti Media Indonesia, Lombok Post, Sinar Indonesia Baru, Suara Merdeka, Harian Analisa, Majalah Sempadan Balai Bahasa Sumatera Utara, Kantor Bahasa Provinsi Nusa Tenggara Barat,  Harian Waspada.dan beberapa media online lainnya.Sekitar 20 buku antologi bersama telah diikuti.  

Menamatkan studi S1 Pendidikan Guru Sekolah Dasar, Universitas Negeri Medan(2012). Selepas tamat, sempat menjadi pendidik muda di pedalaman Asmat, Papua(2013-2014). Kini, mengajar di sebuah Sekolah Dasar di Dairi sebagai wali kelas V. 









Posting Komentar

0 Komentar