005

header ads

PELAJARAN MENULIS PUISI | Anjrah Lelono Broto

PELAJARAN MENULIS PUISI
oleh Anjrah Lelono Broto 

Gigil larut malam, batang penghabisan, juga kerak kopi legam, 
mungkin kawan abadi dalam pelajaran menulis tentang 
semesta kesan-epik pesan bertubuh puisi. Mereka seakan 
selalu tinggal kelas meski tahun berganti. Yang dicintai 
datang dan pergi. Atau hanya mereka yang sedemikian perkasa 
memelihara ketidakwarasan dan sudi menerima uluran? 
     Tidak liyan. 

Masa lalu mengingatkan, kian tajamnya indera 
kemanusiaan dari ketekunan tarian pena. 
Namun sayang, seiring sendawa masa, 
tak banyak yang menjadi manusia meski berlaksa
puisi lulus dituliskan. Kini, sukar menjumpa beda 
    inspirasi dengan emoji. 

Mungkin sekali, kawan abadi yang sering tinggal kelas 
di atas mutlak ditambah lagi. Cermin nir belas 
yang jujur membaca –walau beri luka membekas— 
agar pelajaran menulis puisi tak berhenti pada retas 
   jenama dan seremoni. 


Mojokerto, 2022 - 2023




Anjrah Lelono Broto
, aktif menulis esai, cerpen, serta puisi di sejumlah media. Beberapa puisinya masuk dalam buku antologi bersama. Buku karyanya adalah Esem Ligan Randha Jombang (2010), Emak, Sayak, Lan Hem Kothak-Kothak (2015), Nampan Pencakan (2017), Permintaan Hujan Jingga (2019), Kontra Diksi Laporan Terkini (2020), dan Garwaku Udan lan Anakku Mendung (2022). Terundang dalam agenda Kongres Bahasa Jawa VI (2016), Muktamar Sastra (2018), Kongres Budaya Jawa (2018), dan Musyawarah Nasional Sastrawan Indonesia III (2020). Karya naskah teaternya “Nyonya Cayo” meraih nominasi dalam Sayembara Naskah Lakon DKJT 2018. Sekarang bergiat di Lingkar Studi Sastra Setrawulan (LISSTRA), dan Komite Sastra Dewan Kesenian Mojokerto (DKKM). Kontak e-mail: anantaanandswami@gmail.com, FB: anjrahlelonobroto.

Posting Komentar

0 Komentar