Menjadi Orang Tua Sholeh Oleh Dilla, S.Pd - negerikertas.com

INFO ATAS

Lomba Cipta Puisi | DEADLINE 20 Februari 2023 | Apabila dalam 30 Hari, karya yang anda kirimkan di Negeri Kertas tidak dimuat, secara otomatis karya tersebut statusnya dikembalikan.

Jaringan Penulis dan Pembaca

Website Sastra dan Seni Budaya yang Terpercaya sejak 2015

29 Nov 2022

Menjadi Orang Tua Sholeh Oleh Dilla, S.Pd

Menjadi Orang Tua Sholeh

Oleh Dilla, S.Pd


Berbicara tentang anak, tidak ada putusnya.  Bersyukurlah kita yang telah dititipkan nyawa yang mulia oleh Allah swt. Karena di luar sana masih banyak orang yang berusaha mati matian untuk bisa dipercaya oleh Allah untuk memiliki anak. Sebagai orang tua, kita tidak boleh hanya menuntut dan berdoa agar mendapat anak shaleh saja. Namun kitalah orang tuanya yang harus  terlebih dahulu sholeh. Tidak akan mungkin kita menjadikan anak kita sholeh tanpa orang tuanya dahulu yang menjadi sholeh. Bagaimana cara menjadi sholeh? Sebelum menyuruh anak melakukan sesuatu, maka terlebih dulu orang tualah yang mengerjakannya dahulu. 

Keluarga adalah sekolah pertama bagi anak-anak, jadi sudah sepatutnyalah ibu menjadi guru pertama dan ayahlah yang menjadi kepala sekolahnya. Jika semua sudah berjalan sesuai dengan SOP (Standar Operasional Prosedur) nya maka akan terciptalah keluarga yang harmonis dan menghasilakna anak-anak yang sholeh dan sholehah. Barulah bisa kita menjadikan anak-anak kita sebagai investasi bagi kehidupan baik di dunia maupun akhirat. 

Wahai Ibu, Ayah, janganlah Engkau mengeluh dalam mendidik anak-anakmu selagi kecil. Biasakanlah mereka dengan amalan-amalan yang membawa mereka ke surga-Nya. Kenapa? Karena ketika kita sudah mengasuh mereka menjadi anak yang sholeh, maka lantunan doanyalah yang akan sampai kepada kita di akhirat kelak. Merekalah yang akan selalu menyebut nama kita nanti sampai akhir hayatnya. Cintailah dan rawatlah mereka dari hati, dan biarkan tangan Allah yang menjadikan mereka juga mencintai kita dari hati. Jangan lupakan, didiklah mereka anak-anank kita sesuai dengan zamannya. 

Ya benar, betapa mendidik dan menjadikan anak soleh bukan perkara mudah. Ada ujian dan halangan, ada hambatan dan kesulitan. Sebab apa? Sebab hadiahnya begitu mulia, sebab anak sholeh doanya tak terputus bagi orang tuanya. Kelak saat anak mulai pandai berdoa, nama kita akan disebut sepanjang masa dalam doanya sehingga mengalirlah pahala untuk kita para orang tua. Bukankah ini impian kita para orang tua? Oleh karena itulah, sebelum kita menuntut  anak kita sholeh, kita orang tuanya yang terlebih dahulu menjadi sholeh. 

Bagaimana menjadi orang tua yang sholeh? Kita harus tetap belajar dan  belajar, karena tidak ada sekolah untuk  menjadi orang tua. Namun, sebagai manusia yang lemah kita tidak perlu kawatir, karena Allah telah tanamkan fitrah keimanan sejak kita dan anak-anak belum lahir. Maka kita tinggal bertugas merawat dan menumbuhkan fitrah itu bersama buah hati. Dengan cara apa? Salah satunya, memperbaiki komunikasi kita dengan mereka. Hadirlah sebagai sosok yang menyenangkan sehingga ia tidak menghindari orang tuanya. Kata Ali bin Abi Thalib, " Didiklah anakmu sesuai zamannya, karena tantangan anak-anakmu berbeda dengan zamanmu." Maka kita perlu berjuang menjadi partner terbaik anak, sehingga mereka tidak lari pada temannya, gawainya, atau hal-hal yang jauh dari jangkauan kita.

Seorang ahli neurologi pernah mengatakan bahwa penciptaan otak manusia oleh Allah sesuai dengan zamannya. Kalau sekarang ini zaman digital, maka Allah ciptakan otak manusia yang baru lahir mampu untuk menyerap segala sesuatu secara digital juga. Pernahkan melihat anak usia dua tahun sekarang, mereka yang belum tahu apa-apa, baca tulis belum bisa dan biacarapun masih satu-satu. Tetapi ketika diberikan gawai dan ada game, mereka akan mampu memainkannya. 

Itu semua membuktikan bahwa otak manusia disciptakan sesuai dengan zamannya. Lihatlah kita yang lahir di tahun 70-an dan 80-an, untuk memainkan gawai, atau game sekalipun, harus banyak belajar dan bertanya dulu. Kenapa? karena ketika otak kita diciptakan dulu, zaman belum digital, masih manual, makanya kita agak ‘gaptek’ gagap teknologi.  Walaupun kita mengerti dan mampu menguasainya, namun tidak secepat dan secerdas anak-anak di zaman digital ini, mereka saat ini mampu membuat aplikasi, bermain game, dan media sosial dengan sangat terampilnya. Nah, sudah tahukan bagaimana cara mendidik dan menjadikan anak-anak kita sebagai investasi akhirat. Semoga kita mampu menjadi orang tua yang sholeh 



C:\Users\BERAKSI_SMPIALISHLAH\Pictures\poto bidata .jpeg


BIODATA PENULIS


Dilla, S.Pd. anak kedua pasangan Bapak H. Daniel dan Ibu Hj.  Nurhaimi, Lahir di Bukittinggi, pada tanggal 8 Juni 1981. Beralamat di Jl. H. Abdul Manan No. 49, Simpang Guguk Bulek, Bukittinggi. Sekarang berprofesi sebagai Guru di SMP Islam Al-Ishlah Bukittinggi. Menamatkan Kuliah di Jurusan Pendidikan Bahasa Indonesia UNP  pada tahun 2004. Alumni SMA 3 Bukittinggi ini bisa dihubungi melalui email, dillaspd6@gmail.com, Ig; @dillaspd, Fb; Espede Dilla dan nomor Wa; 081363320742. Bisa juga membaca tulisannya melalui blog; www.dillaspd.my.id. Nomor Rekening Bank BSI: 1322150060 atas nama Dilla, cabang Bukittinggi.  



INFO BAWAH

Cara kirim tulisan ke Negeri Kertas: Tulis karya anda berupa PUISI/CERPEN/ARTIKEL + BIODATA narasi + FOTO penulis atau GAMBAR ilustrasi, semuanya dalam SATU LAMPIRAN email file Ms Word. Bagian paling atas bertuliskan JUDUL KARYA + NAMA PENULIS. Kirim ke email nkertas@gmail.com