005

header ads

Lonceng Kematian | Puisi Eliaser Loinenak



dalam temaram senja yang kelam dan sunyi 

terdengar bunyi lonceng gereja talun-temalun 

sekonyong-konyong  mendung membalun

petir memetir  menyambar-nyambar 

langit menggugurkan  gerimis basahi beranda

nyanyian duka mengalun di senja yang kuyup


nyayian sendu mengalun mengiringi kepergaianmu

ke bumi yang lain telaga yang lain

kepada  ibu  bapak dan para leluhur 

lesap  ke balik pohon 

bersemayam di balik bukit 

berselindung di balik gunung


kita tak bisa lagi saling merengkuh 

karena rumput rumput liar menutupi jalan bersua 

karena sungai air mata  mengahalangi  jalan bersemuka 

karena lebah bersarang menutupi jalan berjumpa


hanya lewat doa-doa lirih kita bersua

bila lonceng kematian berikut berbunyi 

kita kan bersatu di kehidupan selanjutnya


[Bunu, 18.11.2022]


ESSSLIIIII.jpg

Eliaser Loinenak lahir di  Puamese, Timor Tengah Selatan, Nusa Tenggara Timur, 2 Mei 1980. Menulis cerpen dan puisi. Cerpennya yang berjudul  Teku dan Perjalanan  sempat dimuat di Pos Kupang edisi Minggu (2002-2003), cerpen Sekuntum Mawar Merah Jambu untuk Gadis Bergaun Hitam dan  Dairy Hitam  dimuat di Majalah Cakrawala Pendidikan NTT. Puisi-puisinya termuat di umakaladanews.com, balipolitika.com, Majalah Elipsis ,Media Sastra dan Budaya negerikertas.com, faktahukumntt.com, dan suarakrajan.com. Saat ini mengajar mata pelajaran Bahasa Indonesia di SMP Negeri Satu Atap Sunu, Amanatun Selatan, Timor Tengah Selatan, Nusa Tenggara Timur




Posting Komentar

0 Komentar