Eksistensi Bahasa Dareah Mengalami Dekadensi di era Globalisasi - negerikertas.com

INFO ATAS

Ayo menulis puisi untuk memperebutkan ANUGERAH HAK ASASI MANUSIA. Deadline 10 Desember 2022 | Apabila dalam 30 Hari, karya yang anda kirimkan di Negeri Kertas tidak dimuat, secara otomatis karya tersebut statusnya dikembalikan.

Media Sastra dan Seni Budaya

email nkertas@gmail.com | WA 628888710313

9 Nov 2022

Eksistensi Bahasa Dareah Mengalami Dekadensi di era Globalisasi


Bahasa merupakan alat komunikasi sehari-hari, dengan berbahasa kita dapat berinteraksi dengan mahluk sosial. Berbagai macam bahasa di belahan dunia mereka berbahasa dengan bahasanya masing-masing baik itu bahasa daerah, nasional, maupun internasional.

Di Indonesia sendiri terdapat banyak bahasa daerah walaupun bahasa Indonesia sendiri menjadi bahasa nasional. Banyaknya bahasa Indonesia dalam Ethonologi : Language of The Word (2005), di kemukakan bahwa di Indonesia terdapat 742 bahasa. Oleh karenanya dari berbagai macam bahasa baik itu daerah, nasional sampai internasional itu memiliki derajat yang sama bagi mereka yang menggunakannya.

Setiap suku di Indonesia memiliki bahasa daerah masing-masing, karena bahasa daerah itu sebagai identitas etnis. Namun di era globalisasi ini dengan semakin canggihnya teknologi yang berkeliaran di sekitar kita, banyak orang-orang mengubah tata cara berkomunikasi. Lama kelamaan dengan tanpa kesadaran bahasa daerahnya semakin diabaikan. Sehingga bahasa daerah kita semakin melemah.

Semakin banyak berkembangnya teknologi, juga banyak seseorang yang mudah terpengaruh dengan bahasa-bahasa moderen saat ini. Di sebabkan dengan adanya faktor kurangnya kesadaran, sehingga dapat menghilangnya nilai-nilai bahasa dan budaya mereka. Secara tidak sadar mereka telah melupakan bahasa daerah mereka sendiri.

Peran generasi saat ini sangatlah penting untuk merawat bahasa dan budayanya masing-masing. Karena seiring berkembangnya teknologi saat ini, banyak generasi muda yang telah mengabaikan bahasa daerahnya, sehingga bahasa daerah mulai jarang digunakan.

Dalam situasi saat ini sangatlah penting adanya kesadaran untuk mengantisipasi kepunahan bahasa daerah. Karena peran generasi saat ini harus menjadi panutan untuk generasi selanjutnya dalam mempertahankan bahasa daerahnya. 

Oleh karena itu, alangkah baiknya peran generasi saat ini untuk tetap menjaga bahasa daerahnya masing-masing. Apapun alasan dan kendala yang dihadapi, para generasi muda ini wajib melakukan upaya untuk mempertahankan bahasa daerahnya. Dan tetap berusaha untuk menjadikan bangsa Indonesia yang mampu menggunakan lebih dari dua bahasa. Salah satunya Bahasa Indonesia sebagai Bahasa persatuan dan Bahasa Daerahnya sendiri. Ingat, bahasa daerah adalah warisan leluhur budaya bangsa yang seharusnya kita jaga dan kita terapkan.


Muhammad Dzunnurain Kelahiran Ujung timur pulau Madura. Sumenep, 30-06-2003. Alamat rumah Desa Bragung Kec. Guluk-guluk Kab. Semenep. Alumni PP. Annuqayah Daerah Lubangsa, juga Alumni Madrasah Aliyah Tahfidh Annuqayah tahun 2022. Pernah Aktif di Organisasi Daerah “IKSBAR” (Ikatan Keluarga Santri Bragung), Saat ini menempuh pendidikan di Universitas Islam Malang, Aktif di Organisasi PMII rayon Al kindi Komisariat UNISMA. Salah satu karyanya pernah di muat di media online dan cetak. Salah satu karya puisi dan esai pernah di muat di Majalah Sidogiri Edisi 179. Antologi Puisi “Patah”(mahirnulis2022), (Rumah Literasi Sumenep(2022); Negeri Kertas(2022), Rumah Baca Tv(2022) dan Nolesa.com(2022). Saat ini bermukim di kota malang.


INFO BAWAH

Cara kirim tulisan ke Negeri Kertas: Tulis karya anda berupa PUISI/CERPEN/ARTIKEL + BIODATA narasi + FOTO penulis atau GAMBAR ilustrasi, semuanya dalam SATU LAMPIRAN email file Ms Word. Bagian paling atas bertuliskan JUDUL KARYA + NAMA PENULIS. Kirim ke email nkertas@gmail.com