Sepasang Kawan Baru | Cerpen Gandi Sugandi - negerikertas.com

INFO ATAS

Ayo menulis puisi untuk memperebutkan ANUGERAH HAK ASASI MANUSIA. Deadline 10 Desember 2022 | Apabila dalam 30 Hari, karya yang anda kirimkan di Negeri Kertas tidak dimuat, secara otomatis karya tersebut statusnya dikembalikan.

Media Sastra dan Seni Budaya

email nkertas@gmail.com | WA 628888710313

25 Okt 2022

Sepasang Kawan Baru | Cerpen Gandi Sugandi

 Sepasang Kawan Baru

| Cerpen Gandi Sugandi


     Yadi dan Fian sama-sama pemuda, sama-sama masih di SMA kelas 12, juga sama-sama penggemar mancing. Keduanya berkenalan satu bulan yang lalu di satu grup media sosial, lalu saling sapa sekitar satu bulan. 

     Esok hari Minggu pagi adalah pertama kalinya keduanya hendak bertemu, dan Yadi tidak mau mengecewakan Fian sebagai teman barunya. Saat malam, Yadi sampai susah untuk dapat tidur karena esok tidak mau terlambat datang. Sekitar pukul dua puluh empat lebihlah, akhirnya Yadi bisa terlelap. 

     Saat bangun pagi, nyaris kesiangan, sehingga mandi cepat-cepat, makan pagi sedikit, kopi di gelas pun masih tersisa. Berkali-kali, sapaan-sapaan dari ibunya, diabaikannya.

     Keluar dari rumah, Yadi cemas takut terlambat. Akibatnya, dengan terburu-buru Yadi mengendarai motor cukup mengebut di jalan, tidak seperti biasanya, yang bila mengendarai selalu melaju sedang. Berkali-kali, di jalan raya, kendaraan roda dua dan empat disalipnya. Ya, karena itu tadi, tidak mau terlambat.

     Lima menit sebelum pukul 7 pagi, sesuai janji bertemu pada pukul 7 pagi, sampailah pula Yadi di satu tempat untuk bertemu, berupa teras depan toko mas yang masih tutup. Ya, di sekelilingnya, juga berjajar toko mas yang juga masih tutup. Tetapi, Fian belum tampak. Padahal Yadi mengira, Fian sudah lebih dulu tampak ada. Ke mana ya? batin Yadi.

     Meski sedikit kecewa, Yadi akan menunggu, dengan duduk dahulu menunggu di atas jok motornya. Di depannya, adalah jalan raya kota. Beberapa puluh meter dari tempatnya menunggu, ada satu pertigaan yang merupakan pasar. Banyak orang yang hilir-mudik keluar-masuk dari muka pertigaan, membawa belanjaan.

     Sepuluh menit pun berlalu, ternyata Fian belum datang juga. 

      Di sebelah kanan Yadi, di pinggir jalan, merupakan bagian dari pasar, tertampak jongko-jongko. Ada yang bertiang besi, bermeja kayu. Atau yang bertiang kayu, bermeja kayu. Bahkan ada juga penjual-penjual dengan cara lesehan, semua barang jualan digeletakan di atas terpal. Kebanyakan berupa komoditi sembako. 

     Lama-lama, Yadi merasa bosan duduk. Saat berdiri, seekor kucing hitam bersama dua ekor anaknya dengan santai lewat di depannya. Yadi lalu berjalan-jalan di sekitar. Tatapannya selalu ke muka pertigaan  itu, arah Fian keluar—memang rumah Fian di daerah itu.

     Sepuluh menit pun berlalu, akhirnya Fian nongol, menggendong tas berisi alat pancing, dan menjinjing helm berwarna merah. Yadi membatin: berarti aku harus menunggumu dua puluh menit. Fian terlihat lalu dapat menyeberang dengan lancar. Pagi-pagi, lalu lalang kendaraan memang masih jarang.

     Tanpa basa basi, Yadi langsung menstarter motor. Fian agak tergesa duduk di jok belakang. Keduanya akan pergi memancing ke satu sungai besar di selatan kota.

     Di antara suara mesin-mesin dari kendaraan-kendaraan lain yang berseliweran, menjelang satu perempatan, seraya memalingkan muka ke belakang, Yadi bertanya, “Mengapa kau terlambat? Kau tidak menghargai waktu?”

     “Aku ada perlu dulu.”

     “Kita masih pemuda, harus menghargai waktu. Waktu itu mahal.” Yadi menjawab, lalu mulai mengerem motor karena lampu perempatan menjadi merah. Tetapi Yadi tidak bertanya lagi.

**

     Enam hari kemudian, keduanya kembali sepakat kata untuk bertemu lagi di hari Minggu pagi pada pukul 7. Kali ini keduanya akan memancing di arah tenggara kota, di satu pinggiran waduk.

     Seperti biasa, saat malamnya Yadi sulit untuk tidur karena tidak mau esok terlambat. 

     Saat pagi-pagi bangun, hampir saja kesiangan. Saat Yadi menyiapkan segala sesuatu, juga seperti seminggu yang lalu, yang dengan tergesa, mandi cepat-cepat, makan sedikit, malah kini tidak sempat minum kopi. 

     Baru saja Yadi meninggalkan rumah beberapa puluh meter, Yadi teringat, koja tidak terbawa. Akhirnya, balik lagi.     

     Kemudian, saat memasuki jalan raya, kali ini Yadi terpaksa mengebut. Untunglah,  Yadi tetap berhati-hati sehingga dapat tiba di depan toko mas yang belum buka tempat biasa bertemu dengan selamat. Tetapi, seperti seminggu yang lalu itu, ternyata Fian belum tampak di tempat. Ada apa lagi ya dengan Fian? Kukira, untuk kali ini dia akan tepat waktu. Yadi membatin, menjadi kecewa.

     Kembali, Yadi harus menunggu dengan menyabarkan diri: ya baiklah, tidak apa-apa, mungkin kau sedang ada keperluan lain. 

     Yadi lalu menunggu dengan duduk beralaskan koran bekas di lantai depan toko mas—tidak lagi duduk di jok motor. Sembari menunggu Fian datang, Yadi menyulut rokok. Ya, semoga saja setelah habis satu batang, dia pun datang, begitulah pikir Yadi.

      Ternyata sudah habis satu batang pun, Fian belum juga datang. Ah, ke mana lagi dia? Yadi dibuat hampir bosan. Meskipun begitu, Yadi bergeming duduk.

     Tak berapa lama, terlihatlah pula Fian di muka pertigaan jalan dengan menggendong tas berisi alat pancing dan menjinjing helm, kali ini berwarna coklat. 

     Tiba di depan Yadi, wajah Fian biasa-biasa saja tidak menyiratkan rasa bersalah. Yadi langsung bertanya, “Kenapa terlambat lagi?”

     “Kan dulu juga telah aku katakan, sekitar pukul 7 pagi itu kita bertemu, jadi aku berangkat dari rumah pukul 7.” 

      Yadi berkata, “Kau salah, mengapa kau katakan akan berjumpa sekitar pukul 7? Seharusnya kau  tegas, pukul 7 itu kita akan bertemu dan kau sudah ada di tempat. Ini kan sudah pukul 7 lebih 20 menit. Kau kan pemuda, harusnya bisa menghargai waktu.”

      Fian hanya diam.

      “Baiklah, nanti kalau  kita bulat kata lagi akan bertemu, kau pukul 7 harus sudah ada di tempat…”

     Namun, sebelum Yadi meneruskan bicara, Fian tersinggung, lalu dengan begitu saja, meninggalkan Yadi. 

      Acara mancing pun gagal.

***

Bandung, Oktober 2022



Biodata Penulis







Penulis alumnus Sastra Indonesia Unpad tahun 2000.  Saat ini bekerja di Perum Perhutani Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Bandung Selatan. 

Nama : Gandi Sugandi

Instagram : https://www.instagram.com/gandi.sugandi.7564/

Alamat email : gandisugandi015@gmail.com


Buku Kumpulan cerpen yang sudah terbit:

  1. Keluarga Seni


Lomba Cerita Anak

  1. Juara I dari 1.150 peserta lomba Cerita Anak 2020 DPD Partai Golkar Jawa Timur 


Cerita anak yang pernah dimuat

  1. “Induk Yuyu dan Tila Mujair di Radar Jombang edisi 12 Juli 2020.

 

Lomba Cerpen

  1. Juara III Lomba Cerpen Misteri 2021 Instagram @Tinta Misteri

  2. Juara II Lomba Cerpen UIN Syarif Hidayatullah Jakarta 2021

  3. Juara Harapan II Lomba Cerpen Unismuh Makassar 2021

  4. Juara Harapan II Lomba Cerpen Misteri yang diadakan Tinta Misteri 2021

  5. Juara I Lomba Cerpen Hijriah yang diadakan Komunitas Medina, Bandung 2020

  6. Juara III lomba cerpen yang diadakan Jendela Sastra Tahun 2018/2019

  7. Masuk 50 besar dari 1.062 peserta lomba Cerpen Lingkungan IC Law-Raya Kultura 2019

  8. Masuk 20 besar lomba cerpen GBSI UPI Bandung 2019 


Puisi yang pernah dimuat

  1. “Daun Dukuh” dalam antologi Puisi Tanah Bari 2018



INFO BAWAH

Cara kirim tulisan ke Negeri Kertas: Tulis karya anda berupa PUISI/CERPEN/ARTIKEL + BIODATA narasi + FOTO penulis atau GAMBAR ilustrasi, semuanya dalam SATU LAMPIRAN email file Ms Word. Bagian paling atas bertuliskan JUDUL KARYA + NAMA PENULIS. Kirim ke email nkertas@gmail.com