10 Sajak Irfan Limbong - negerikertas.com

INFO ATAS

Ayo menulis puisi untuk memperebutkan ANUGERAH HAK ASASI MANUSIA. Deadline 10 Desember 2022 | Apabila dalam 30 Hari, karya yang anda kirimkan di Negeri Kertas tidak dimuat, secara otomatis karya tersebut statusnya dikembalikan.

Media Sastra dan Seni Budaya

email nkertas@gmail.com | WA 628888710313

25 Okt 2022

10 Sajak Irfan Limbong

 10 Sajak Irfan Limbong


  1. Bayang Mu...

Ku kubur bayang mu bersemayam di peti

Di tamaran jejak kaki mu ku tanami duri

Kau merekah di urat nadi peti

Di lipatan perutmu yang mana bibir ku kau kunci?


  1. Lebaran...

Akulah Malingkundang abad dua satu

Sumpah serapah mendengung di pikiran

Gurat masygul di wajah ibu

Mengerang pertemuan seribuh renta

Ibu...

Di sekian  waktu yang biru

Bucket nirwana tak mekar di pangkuan mu


  1. Pakansi...

Seperti menuju pusara

Pakansi ku takan mungkin berakhir

Menjadi nomaden

Dari bukit ke bukit

Dari nusa ke nusa


  1. Bulu Mata...

Di buluh mata mu yang tebal nan lentik

Aku tak mampu bersembunyi

Di ketap katup bibir mu

Merapikan duka membulatkan doa 

  1. Kerinduan...

Setebih purnama yang karam di kabut mata mu

Membenamkanku di teluk bibir apel itu

Dingin pikiran yang membungkus kelu pekarangan mei 

Meledak di balon telingaku

Darrr...

Kau dan aku seperti lilin dan sumbu

Mari kita rayakan pengabenan ini segenap rindu dan kepengapannya


  1. Mawar Ku

Prihal tentangmu Mawarku

Ketahuilah wangimu masih akrab di hidungku

Dari menembus pagi sampai berkeliling gili

Mengelorakan gelombang kerinduan ranum

Pada kebun rindu yang pernah kita pupuk

Sekalipun kau tak hadir kala panen tiba


  1. Tirakatku...

Inilah tirakatku dalam kegendrungan tuhan baru

Dalam jerat gelamour menipu

Dalam peradaban sintesis 

Siapakah aku?


  1. Ibu...

Kutulis puisi singkat tentangmu

Namun teehapus gelinang air mata

Engkau memang ganjil sebagai titisan hawa

Namun genap sebagai ibu


  1. Analogi Harapan

Aku melukis harapan di biru langit sasak

Menyelipkannya di sulbi kecial

Lalu membegal ku di merah sepiring plecing

Kemudian terkubur di telapak kaki kloset

Yang spitengnya adalah buku-buku janda yang di cerai makna


  1. Jadilah...

Jadilah pencermah

Neraka berhias api

Surga berteman bidadari

Semua dihitung neraca ilahi

Di api yang mana tuhan yang jahat mesti di bakar?



Irfan Limbong, puisi-puisinya pernah memenangkan lomba kemudian diterbitkan dalam buku antologi puisi (bersama) dengan judul Pelabuhan Masa Depan. Beberapa tulisannya juga dimuat di media online. Berasal dari Ende, NTT kini menetap di Mataram NTB. 

Kontak Person: 087844857976 (WA)

FB: Irfan Limbong


INFO BAWAH

Cara kirim tulisan ke Negeri Kertas: Tulis karya anda berupa PUISI/CERPEN/ARTIKEL + BIODATA narasi + FOTO penulis atau GAMBAR ilustrasi, semuanya dalam SATU LAMPIRAN email file Ms Word. Bagian paling atas bertuliskan JUDUL KARYA + NAMA PENULIS. Kirim ke email nkertas@gmail.com