Puisi -puisi Anies Septivirawan | SEANDAINYA - negerikertas.com

INFO ATAS

Ayo menulis puisi untuk memperebutkan ANUGERAH HAK ASASI MANUSIA. Deadline 10 Desember 2022 | Apabila dalam 30 Hari, karya yang anda kirimkan di Negeri Kertas tidak dimuat, secara otomatis karya tersebut statusnya dikembalikan.

Media Sastra dan Seni Budaya

email nkertas@gmail.com | WA 628888710313

28 Sep 2022

Puisi -puisi Anies Septivirawan | SEANDAINYA

 Puisi -puisi Anies Septivirawan

 


SEANDAINYA 



Seandainya puisi tak bermakna

Akan kutiupkan roh

Bagi aksara 

Agar hidup bukan hanya kata -kata 



Situbondo,  2022 




Pagi Ini 


Pagi ini

Aku bukan burung 

Pembawa kabar buruk bagimu



Pagi ini

Aku tlah menjadi

Budak dan tombak kata-kata lembut

Bagi perangai hewani 

Di tengah hutan para makhluk

Ahli nalar hebat 



Pagi ini

Aku adalah

Benteng sajak -sajak

Yang melindungimu

Dari napsu kaum congkak

Para durjana 




Agustus 22   




Pulang ke Rumah Peradaban  



Seandainya aku adalah 

Burung

Pembawa kabar buruk

Bagimu, 

Kan kulepas sepasang sayapku




Sebab kereta kata -kata

Datang 

Menjemput 

Bersama para pujangga

Menuju rumah peradaban 



Situbondo, 2022.  




Bayang wajahmu 



Bayang wajahmu

Masih menguntit 

Di punggung sukmaku

Meski tlah kuarungi 

Samudera musim duka




Ternyata engkau

Adalah bening bola mata 

Yang mengajariku

Berpuisi dan

Berperadaban 



Situbondo, akhir Agustus 22 



Dan Tlah Kutiupkan Roh 


Dan tlah kutiupkan roh

Bagi kata – kata cinta

Yang belum sampai ke alamatmu

Agar tiada lagi hembusan nafas luka


Dan tlah kutiupkan roh

Bagi bayang wajahmu

Yang kerap bercengkrama

Di beranda benakku

Agar bunga mimpi

Dihembus angin malam

Lalu menaburkan

Lembaran kenyataan



Situbondo, August 22 



Aku Rindu Pada Malam 



Ingin kuhamparkan malam

Seperti kertas menadah tinta

Yang bercerita 

Tentang esok yang tak boleh sunyi


Ingin kuikat malam 

Pada sebatang pohon tafakur 

Yang berbuah syukur


Ingin kugelar malam

Seperti sajadah

Tempat bersujud

Bagi tawadu’  abadi 



September 22  



Bercinta dengan Puisi 



Bercinta dengan puisi

Saat terbit matahari 

Lahirlah anakku

Bernama kesabaran

Lahirlah anakku

Bernama peradaban 

Di rumah abadi tuhan 



Ujung September 22 




Terima Kasih, Tuhan



Tlah kuterima lalu

Kuhirup udara tanpa

Engkau pungut pajak, 

Tuhan 



Tlah kubaca firman

Tiap hening malam 

Menjelma jalan panjang

Kebajikan,

Tuhan



September 22 







 

Anies Septivirawan adalah penikmat tulisan seni sastra dan budaya. Suami dari Sri Lestari dan ayah dari anak semata wayangnya, Raya Naqira Nurisqiah ini juga gemar menulis puisi sejak tahun 1995 sampai saat ini. Ia bergabung dengan himpunan penulis penyair dan pengarang nusantara (HP3N) Kota Batu sejak 1997 yang sekarang berubah nama SatuPena Jawa Timur, dan ia lahir di kelurahan Dawuhan, Situbondo, Jawa Timur. Aktivitasnya sehari-hari sebagai wartawan media online. 


Nomor WhatsApp: 082234193326 

Nomor rekening: 1011201570018576 




INFO BAWAH

Cara kirim tulisan ke Negeri Kertas: Tulis karya anda berupa PUISI/CERPEN/ARTIKEL + BIODATA narasi + FOTO penulis atau GAMBAR ilustrasi, semuanya dalam SATU LAMPIRAN email file Ms Word. Bagian paling atas bertuliskan JUDUL KARYA + NAMA PENULIS. Kirim ke email nkertas@gmail.com