Cerpen Hujan Pagi Ini | Karya Lita Ashari - negerikertas.com

INFO ATAS

Ayo menulis puisi untuk memperebutkan ANUGERAH HAK ASASI MANUSIA. Deadline 10 Desember 2022 | Apabila dalam 30 Hari, karya yang anda kirimkan di Negeri Kertas tidak dimuat, secara otomatis karya tersebut statusnya dikembalikan.

Media Sastra dan Seni Budaya

email nkertas@gmail.com | WA 628888710313

29 Sep 2022

Cerpen Hujan Pagi Ini | Karya Lita Ashari

Cerpen  Hujan Pagi Ini | Karya Lita Ashari


Fatma terpaksa memilih menyeduh teh hangat dan menggoreng beberapa tempura kesukaannya kali ini. Sebuah janji pun telah tercancel karenanya. Ya benar, hujan masih setia menemani pagi ini, bahkan kembali deras semenjak malam itu. Mungkin, hanya sesekali berhenti.


Dengan bugar, Fatma meletakkan segelas teh dan sepiring tempura di meja kerjanya yang terletak tak jauh dari balkon rumah. Jadi, ia sangat bisa leluasa dalam bekerja sambil memandangi keindahan alam, bahkan kejadian alam semisal hujan.


Setelah semua yang diperlukannya sudah siap, dengan suka hati ia langsung membuka laptopnya dan mulai mengetik kalimat demi kalimat. Namun, selalu berakhir dengan sapuan hapus kursor.

"Ah, kenapa ideku tak muncul-muncul? Padahal hari ini merupakan kesempatan emas bagiku untuk menulis." Keluhnya pelan, memangku dagu lancip pada tangannya sambil tetap memainkan keyboard laptopnya.

***


Sepuluh menit sudah waktu terbuang sia-sia karenanya, kini Fatma mulai merasa sangat jenuh dengan aktivitas tak bergunanya. Akhirnya, ia pun memilih untuk melihat file foto miliknya disitu. Ya itung-itung untuk merefresh mata dan otak sejenak. Ada yang mengundang wajah datar, sedih, galau, maupun tertawa.


Contohnya saja seperti ini, ketika ia tak sengaja menemukan gambar sosok lelaki jangkung dan berisi yang sedang dipeluknya dengan erat. Latar belakangnya pun menarik, di dudukan meja kerjanya. Sama seperti sekarang yang sedang diduduki Fatma. Saat turun hujan lagi. Hanya saja, ketika itu hujan sudah rintik.


"Hahaha… ini mah dejavu. Foto selfi keisengan kita berdua. Tapi sekarang Dito telah menikah." Batinnya yang semula senang, menjadi sedih tak terkira.

"Dito… Dito… terima kasih ya atas semuanya, mungkin kita bukan jodoh." Ujarnya lirih dengan masih membuka foto lainnya. 

*** 


"Fatma!!!" Teriak Dito dari bawah rumahku kala itu.

"Tunggu disitu, akan kubuka." Balas Fatma teriak sembari menengadahkan mukanya melihat bawah. Memastikan tamu yang datang.

"Wah, ada apa datang? Ini kan hujan."

"Pingin saja kok, lagian aku rindu kamu" omong kosong Dito sembari menutup kembali payungnya yng telah basah seluruhnya.

"Halah, gombal kamu." Balasku dengan menahan senyum.

"Nggak perlu ditahan senyumnya. Manis kok!." Dengan tegas Dito mengeluarkan gombalan keduanya. Membuat Fatma yang sedari tadi menahan senyum, kini mengembangkannya.

"Ayo, ke balkon." Ajak Fatma.


"Pasti kamu sedang menulis kan, Fat. Mungkin satu meja bisa penuh camilanmu." Tebak Dito menggoda kekasihnya itu, seperti telah hafal betul kebiasaan perempuannya jika ada waktu luang.

"Tak kaget aku jika kamu tahu." Ucapnya datar.


Saat mereka sampai balkon, Dito melihat banyak makanan disana yang mungkin telah habis separuh.

"Tuh kan, beneran. Dasar seniman akut." Dito membuka obrolan ketika sudah dipersilakan duduk di samping Fatma.

"Ya begitulah, tanpa makanan itu nggak enak tau." Ujarku mulai memakan makanannya lagi. Dan tak melupakan Dito, sang pujaan hati.


"Oh iya, aku butuh tulisanmu, Fat. Untuk mengisi rubrik yang kosong. Boleh?."

"Pasti, apaan emang?."

"Butuh cerpen dan artikel, terserah sih kamu pilih mana." Kata Dito menyodorkan selembar kertas berisi bahan mentah untuk rubrik majalahnya. Fatma pun seketika memeriksanya, dan benar, kurang cerpen dan artikel.


"Dua-duanya, Dit. Biar langsung dapat." Ujar Fatma menaikkan kedua alisnya menghadap Dito. Melihat tingkah gadis imutnya, Dito pun tertawa lepas.

"Aku mencintaimu, Fat."

"Aku juga, Dit. Ah sudah, ayo kita selfi." Ajak Fatma tak segan memeluk Dito. Sungguh erat, seakan tak mau lepas. Tetapi ternyata, diluar ekspektasi

***


Hujan pagi ini menyapa daun-daun yang berderai

Dalam temaram cahaya

Meski tiada kau disini

Seperti pagi yang telah lalu

Dalam pekat kabut kuberharap

Semoga kau disana merasa

Seperti yang kurasa

Saat kau ada disini

Memelukku di bawah hujan



#fileski album





Bernama pena Lita Ashari. Seorang pemula literasi asal Surabaya ini memulai bakatnya dari seorang penulis lepas, pengisi rubrik majalah, koran, buletin, serta pernah mendapat juara menulis. Pernah menjadi anggota komunitas jurnalistik selama dua tahun. 





































INFO BAWAH

Cara kirim tulisan ke Negeri Kertas: Tulis karya anda berupa PUISI/CERPEN/ARTIKEL + BIODATA narasi + FOTO penulis atau GAMBAR ilustrasi, semuanya dalam SATU LAMPIRAN email file Ms Word. Bagian paling atas bertuliskan JUDUL KARYA + NAMA PENULIS. Kirim ke email nkertas@gmail.com