RESENSI Menyelisik Kata Sapaan ala Knut Hamsun - negerikertas.com

INFO ATAS

Ayo menulis cerpen atau untuk memperebutkan Anugerah Sumpah Pemuda. Deadline 28 Oktober 2022 | Kirim ke email nkertas@gmail.com

Media Sastra dan Seni Budaya

email nkertas@gmail.com | WA 628888710313

21 Agu 2022

RESENSI Menyelisik Kata Sapaan ala Knut Hamsun

 RESENSI

Menyelisik Kata Sapaan ala Knut Hamsun


Oleh: Fathorrozi

Judul Buku : Permainan Metafora dalam Karya Sastra

Penulis          : Akhmad Idris

Penerbit        : LovRinz

Cetakan        : I, Juni 2022

Tebal            : x + 68 halaman

ISBN            : 978-623-446-341-5


Satu kata untuk penulis sekaligus dosen yang satu ini: keren. Bagaimana tidak mau dibilang keren, di tengah-tengah kesibukannya memberi materi kuliah kepada para mahasiswa di Sekolah Tinggi Ilmu Bahasa dan Sastra Satya Widya Surabaya dan STKIP Bina Insan Mandiri Surabaya, Akhmad Idris sempat pula meluangkan waktu untuk menulis. Tidak sembarang menulis. Ia tidak akan menulis, jika tidak ada kebaikan di dalamnya. Ia tidak akan menulis, kecuali terkandung manfaat di dalam tulisannya.

Seperti buku Permainan Metafora dalam Karya Sastra yang baru diterbitkan oleh Penerbit LovRinz Cirebon, Jawa Barat, pada Juni 2022 ini, tentu kaya akan manfaat. Salah satunya tentang metafora yang digunakan Knut Hamsun dalam novel Sult (Lapar). Akhmad Idris dalam buku ini mengupasnya secara tajam karya Knut Hamsun tersebut dalam dua bahasan. Pertama dengan judul Memaknai Sapaan Metaforis ala Knut Hamsun (halaman 23) dan Ketika Knut Hamsun Menghadirkan Lapar Tanpa Kata 'Lapar' (halaman 41). 

Terkait novel Sult karya novelis asal Norwegia ini, Akhmad Idris mengusut tentang sapaan dalam menyebut tokoh. Sult merupakan sebuah novel yang menceritakan tentang betapa malangnya nasib awal mula penulis muda yang kemudian menyabet penghargaan Nobel Sastra. Keseharian penulis yang tinggal di Christiania itu selalu dilingkupi rasa lapar. Satu-satunya senjata pemungkas untuk bertahan hidup adalah menuangkan segenap pikirannya dalam sebuah tulisan. Beberapa naskah tulisannya dikirim ke media surat kabar, namun berkali-kali ditolak. Hingga ia rela membawa semua barang miliknya ke pegadaian.

Berawal dari kantor penerbitan surat kabar dan pegadaian inilah, Knut Hamsun menggunakan kata sapaan “paman” dan “komandan”. Dengan jiwa sastrawinya yang kental, Akhmad Idris lalu menyelisik kenapa Knut Hamsun menyapa pemilik pegadaian dengan sebutan “paman” dan menyebut redaktur surat kabar dengan sapaan “komandan”. Akhmad Idris mulai menelusurinya dengan membuka berlembar-lembar halaman buku Metaphors We Live By karya George Lakoff & Mark Johnson. Ditemukanlah teori source domain dan target domain (halaman 25)

Jika dikaitkan dengan penggunaan sapaan dalam novel Sult, maka jelas tampak bahwa sapaan “paman” dan “komandan” disebut sebagai ranah sumber (source domain), sementara pemilik pegadaian dan redaktur surat kabar disebut sebagai ranah target (target domain). Kemudian menjadi terang mengapa sapaan itu lebih pas dipakai oleh Knut Hamsun.

“Paman” digunakan oleh Knut Hamsun sebagai sapaan kepada pemilik pegadaian, sebab sebagaimana paman, ia selalu menyayangi keponakannya sendiri. Dikala kesedihan menyelimuti sang keponakan, paman hadir untuk melipur lara. Demikian pula dengan perilaku pemilik rumah gadai itu dalam novel Sult. Ia bisa mengerti keadaan sang penulis muda, mudah ditemui, selalu membantu kebutuhannya, serta mau menerima aneka barang yang mau digadaikan. 

Sedangkan “komandan” dipakai Knut Hamsun untuk menyapa redaktur surat kabar, karena sebagaimana komandan, ia harus tegas dalam mengurusi pasukannya dan menjadi panutan yang berprestasi untuk anak buahnya. Sama halnya dengan redaktur surat kabar dalam novel Sult. Ia menjadi penentu nasib tulisan, antara ditolak atau dimuat.

Sekali lagi, buku ini kaya akan manfaat, terutama bagi Anda yang hendak mendalami ilmu sastra. Bacalah, lalu temukan banyak manfaat di dalamnya! Selamat, Mas Akhmad Idris. Sampeyan benar-benar keren!


*) Fathorrozi, lahir di Jember, 23 Maret 1987. Tinggal di YPI Qarnul Islam, Ledokombo. Menulis apa saja, termasuk cerpen, puisi, opini, resensi, kisah humor, novel, biografi tokoh, khutbah, dll. Beberapa tulisannya tersebar di media online, seperti harakatuna, iqra, lpmaarifnujateng, duniasantri, ngewiyak, yoursay, mjscolombo, cerano, suarakrajan, pcnusumenep, nurulqarnain, dst. Juga di media cetak, seperti Solopos, Radar Jember, Majalah Sabili, Majalah Fathonah, Buletin Al-Amiri Pos, dsb.








BIODATA PENULIS

Nama : Fathorrozi

Facebook : Fathorrozi Ledokombo El-Jambary

Instagram : @fathorrozi.ledokombo

Whatsapp : 085258883745

Email : fatnarozi@gmail.com

Alamat : Dusun Pasar RT 003 RW 013 

Ledokombo Ledokombo Jember Jatim

68196


INFO BAWAH

Cara kirim tulisan ke Negeri Kertas: Tulis karya anda berupa puisi/cerpen/artikel + biodata narasi + foto penulis atau gambar ilustrasi, semuanya dalam satu lampiran MS Word. Kirim ke email nkertas@gmail.com