005

header ads

BANGUN PENDEKATAN BARU, LESBUMI JEMBER GELAR PELATIHAN PRANATACARA BERBAHASA DAERAH


Sabtu, 4 Juni 2022. Menyongsong satu abad Nahdlatul Ulama, Pengurus Lesbumi PCNU Jember dan PP Nurul Islam Jember mengadakan pelatihan pranatacara berbasis bahasa daerah yakni Bahasa Madura, Jawa, dan Using di Aula Pondok Nuris Antirogo Jember. Kegiatan ini dikemas dengan nama SAKOLA BHINNEKA yang nantinya akan menjadi wadah dalam rangkan konservasi dan pengembangan kebudayaan serta kebangsaan. Peserta yang ikut pelatihan meliputi pelajar dan mahasiswa, dan beberapa guru yang tertarik untuk belajar pranatacara.

Menurut Pengasuh Pondok Pesantren Nurul Islam Jember, Gus Robbith, bahwa kegiatan ini inspiratif dan luar biasa untuk melestarikan budaya dan potensi bangsa. “Acara sakola bhinneka ini merupakan kebutuhan jaman di era menguatnya budaya lokal. Bahkan menurut saya, sangat penting sekali di jaman globalisasi agar seluruh anak bangsa lebih percaya diri pada potensi yang dimiliki bangsa kita sendiri dalam menghadapi percaturan global,” pungkasnya.

Kesan dan pesan juga disampaikan oleh para narasumber, pada dasarnya kegiatan ini suatu gebrakan yang patut diapresiasi. "Cukup mengagumkan dari program kerja Lesbumi PCNU Jember yang tepat programnya, bagus dan menyentuh persoalan di masyarakat. Pada waktu pelaksanaan teman-teman peserta begitu antusias, program ini betul-betul bisa mewarnai dan membawa manfaat" ujar Ki Dalan Heru  Mengsle.

Hal serupa juga disampaikan Kang Edy Hariyadi. "Saya mendukung sekali program ini, peserta rata-rata bisa berbahasa internasional, tapi juga tidak meninggalkan bahasa daerahnya. Mudah-mudahan selanjutnya peserta terus berlatih pranatacara" pungkasnya. 

"Saya mengapresiasi acara ini, Sekolah Bhinneka yang melatih anak-anak pranatacara bahasa Jawa Osing dan Madura saya kira akan berguna di ketika mereka kembali ke masyarakat. Pranata acara sendiri, baik dalam bahasa Using, Jawa dan Madura di Jember  ini, saya kira termasuk pendekatan baru dan salah satu starting point yang digagas oleh Lesbumi dan diselenggarakan oleh pondok pesantren Nurul Islam Jember. Keren" pungkas Ustaz Ahsan.

Peserta sangat senang dan tertarik untuk terus belajar menggunakan bahasa daerah pada kontek-konteks tertentu. “Saya berasal dari Singojuruh Banyuwangi, setiap hari berbahasa Using di rumah, ternyata ketika masuk pelatihan prantacara banyak hal-hal yang perlu diperhatikan, saya pikir dengan ngusai bahasa cukup, ternyata kurang. Harus banyak berlatih.” Demikian pernyataan Ryan Eka peserta kelas Pranatacara Using.

Menurut koordinator program, Muhammad Lefand, bahwa kebiasaan berbahasa daerah setiap hari bukan jaminan mampu menjadi pewara. “Tadi saya pantau ternyata banyak peserta yang kurang paham tentang bahasa daerahnya masing-masing. Misalnya, bahasa Madura yang mereka gunakan di pondok tiap hari, nyatanya ketika diminta latihan jadi pewara  kesulitan, khususnya tingkatan bahasanya. Ini menjadi perhatian kita bersama, jika dibiarkan bahasa daerah makin sulit dipahami generasi muda.” Pungkasnya.















Posting Komentar

0 Komentar