MENULIS KALI GELAP [Puisi Kurnia Hidayati] - negerikertas.com

INFO ATAS

Ayo menulis cerpen atau puisi untuk memperebutkan Anugerah Kesaktian Pancasila. Deadline 1 Oktober 2022 | Kirim ke email nkertas@gmail.com

Media Sastra dan Seni Budaya

email nkertas@gmail.com | WA 628888710313

20 Apr 2022

MENULIS KALI GELAP [Puisi Kurnia Hidayati]

 



MENULIS KALI GELAP [Puisi Kurnia Hidayati]


demi nama segala nama dan kegelapan yang mencekau segala aliran. 

Aku menulismu sebagai penanda; kisah-kisah yang pecah di benak khalayak

ihwal ruh orang mati yang merubung janji-janji

jerit perempuan dan bayangan hitam

diam-diam terlansir serupa suara-suara yang dilupakan hujan

ikan-ikan sembunyi di antara arus yang diam

angker dan kesunyian menikam namamu pelan-pelan


Riuh telah pergi dan kau hanyalah sebatang alur yang lengang dan sendiri.

Membelah perkebunan, menjadi jeda sebuah jembatan.

Namun, kisah-kisah enggan binasa serupa aliranmu yang enggan sirna.


Demi nama segala nama dan kegelapan yang menghabur ketika melintas di atasmu

Aku menulismu agar tak gentar padamu


Batang, 10 April 2016




TENTANG JURU PARKIR DAN PANTUN-PANTUN JENAKA


Selalu kuingat kau, di alun-alun kota

Kau laki-laki tanpa misai, kumal wajah kumal badan

Punggung terbungkuk 

Kehidupanmu karib dengan debu jalanan

malam itu kau datang menemuiku 

Dan berkata bahwa ada setumpuk pantun jenaka hasil idemu dalam kepala

lantas kapan kau sempat mencipta tulisan-tulisan?


Ah, pak, kadang kita lupa caranya terbahak, tepingkal-pingkal menunjuk segala sesuatu

Barangkali kau ingin pergi dari tangis dunia yang menyedihkan ini

Dan memilih menepi menciptakan pantunmu sendiri

Pantun paling jenaka dari sanubari seorang pria

 ***

Selalu kuingat kau, di alun-alun kota ini

Kau juru parkir tanpa misai 

Kumal wajah kumal badan

Dengan pantun-pantun jenaka

Yang belum sempat kubaca


21 Feb 2016


MENGENANG RANGKASBITUNG


tak bisa kuhitung jumlah kedatangan di stasiun rangkasbitung

hari kuning tua belum sampai ke batas kota

Banten jauh di depan

Seorang perempuan duduk termenung memegang kepalanya yang kelompang

Kenang, telah pergi sebelum datang kereta dini hari

orang-orang moksa dengan masing-masing gerbong di dada mereka 

Tanpa teman

Hanya membawa badan

Di rangkasbitung

Bangku-bangku segera dingin digantikan kesunyian lain

Ketika kereta tiba semua riuh seketika

Lalu peluit panjang menyeru perihal pulang

Di rangkasbitung, mataku diliputi lanskap wajah demi wajah

Benakku dihantam badai rumah yang kencang


Batang, 26 Feb 2016

TENTANG PUISI YANG SUDAH LAMA PERGI

1/

maka berlarilah pulang

kendati hanya lorong lengang yang kautemui dalam perjalanan panjang

bukan hijau pohonan atau biru lautan

bukan alir jernih sebuah sungai

hanya kegelapan-kegelapan 

menjala mata

kau pun berjalan tertatih sambil menerka-nerka

apakah kesedihan selalu terpahat di setiap dinding usia?

2/

pulang, pulanglah!

di rumah, ibu menunggu

sambil menenun sebuah selendang dari benang penantian panjang

lalu sunyi menjelma jarum yang menikam jari-jarinya sendiri

adakah kau tega membiarkah gelisah merupa rindu yang berdarah-darah?

3/

ibu menduga kau tersesat

kata ibu, alamat pulang acapkali menyaru seorang teman paling khianat

namun doa ibu tak pernah lerai dari bibirnya

setiap mengingatmu, ibu tersedu

sambil berbisik, ke mana perginya anak puisiku dulu?


Batang, 27 Desember 2015


Kurnia Hidayati lahir di Batang, Jawa Tengah, 1 Juni 1992. Tulisannya pernah dimuat  di berbagai media massa seluruh Indonesia baik lokal maupun nasional serta tergabung di beberapa antologi. Buku puisi tunggalnya berjudul Senandika Pemantik Api terbit tahun 2015.





INFO BAWAH

Cara kirim tulisan ke Negeri Kertas: Tulis karya anda berupa puisi/cerpen/artikel + biodata narasi + foto penulis atau gambar ilustrasi, semuanya dalam satu lampiran MS Word. Kirim ke email nkertas@gmail.com