Puisi Karya Vania Kharizma - negerikertas.com

INFO ATAS

Ayo menulis cerpen atau untuk memperebutkan Anugerah Sumpah Pemuda. Deadline 28 Oktober 2022 | Kirim ke email nkertas@gmail.com

Media Sastra dan Seni Budaya

email nkertas@gmail.com | WA 628888710313

1 Mar 2022

Puisi Karya Vania Kharizma

 

Membaca Punakawan
Puisi Karya Vania Kharizma

/ ꦱꦼꦩꦂ [ Sang Hyang Ismaya ]
          kau tuding khianat melakoni
          lawak walakin lara mereuni
          jeluk kalbu nan merawi kafi.

Sugriwa kau asuh layaknya
nutfah yang kau teroka
menjelma badan berlaun
agam seperti tubuhmu pun
gembung se-gadang bentala
menafsir janabijana yang
termaktub di mega ragamu.

          sembari rampungi babad
          Sudamala, lebih dahulu kau
          anugerahi bahak banyolanmu
          begitu lengkara tandas karam
          mengasingi sunyi Indraprasta
          yang terpahat di Candi Sukuh
          agar riwayat menjadi baka.

dari tambun awakmu nan bumi
kusaksikan sembab matamu
: keniscayaan sebuah balada,
bersanding rekah senyummu
menghikayatkan ria-jentaka;
meriwayatkan tawa-sungkawa
sebaik-baiknya mengejawantah
bentala pun enigma problema
sebab segenapnya sekadar
sebuah probabilitas belaka.

          dan kau abadi jenaka
          walakin tarung tandang
          selorohmu yakni baka
          kau jelata nan dewa,
          kau lanang nan puan.

/ ꦒꦫꦺꦁ [Pandhu Pragolamanik]
             dingklangmu sanepa
             konkretisasi telaten
             pada tindak-tanduk
             lakumu cegak elok.

pukah lenganmu pun sanepa
kau harami maling dan rampas
sebagai kehinaan paling hina
walakin bubul tumitmu
genjang langkahmu menapak
tilasi Paranggumiwayang
kau baka berlaku mulia bagai
Jangganan Samara Anta
selepas lerai kelahimu
beradu Bambang Panyukilan.

             ketampananmu yakni sejarah
             sewaktu kau semayamkan
             Padepokan Bluluktiba bergelar
             Bambang Sukodadi nan sakti
             menugal langguk pun jemawa
             sekadar takhlik salasilah kisah
             mengendanai keperkasaan
             satria-satria, lantas menyaingi
             melahirkan tikai semata.

kaulah sang ragil Semar
warisi dagel bapandamu
mencipta gelak manusia
sebagaimana kau tatap
bahagia sebagai niscaya
keluhuran yang patut
diruwat keasriannya.

             kau wangsitkan titah
             biar damai mayapada
             seperti Astrajingga dan
             Dawala menggelar ria
             demikian kau balur
             hati yang tengah gelebah.

/ ꦥꦺꦠꦿꦸꦏ꧀ [Pentung Pinanggul]
                        menghibah gurau
                        ialah kegemaranmu
                        sekenanya berkelana.

Bambang Pecruk Panyukilan,
asmamu sewaktu danawa
jadi syuhada bapandamu
Gandarwa, lamun karam
selepas kau berkembara
layarkan pertarungan pada
Bambang Sukodadi,
seperti babad Gareng
arkian bertandang Ismaya
meneroka damai keduanya
diangkatnyalah bagai awing
warisi bijak menatah egah
liyan ksatria bumiputra.

                        selebihnya guyon
                        lawakmu menjelma
                        tugur dalam kalbu
                        rumpun manusia
                        manalagi beradu
                        renjana Prantawati
                        : putri Bathara Kresna.

dalam sebuah suluk
penagihan janji, selepas
kau dapati wijaya menarungi
Nala Gareng, sanakmu
seekor anak ayam cemani
kau tuntut dari Hyang Wenang
melambangkan kesejatian
ikrar, yang jantan dimufakat
dua lanang dalam adu sengit.

                        kelihaianmu termaktub
                        seusai Kalimasada kau
                        likut meremahkan kuasa
                        hingga kau gagahi tahta
                        singgahsana Lojitengara
                        akan betapa cendekia
                        dirimu menggelar sakti.

/ ꦧꦒꦺꦴꦁ [Pathokol Baworsari]
                selepas moksa Manumasa
                temaram Semar menjelma
                raga yang kuasa digenggam.

kaulah santiran Ismaya
sebagai lakon kesetiaan
yang membayang menjadi
tubuh yang gumpal gadang
memble bibirmu utarakan
jenaka, persis camar
seorang Semar.

                bila kau tanyai rahim
                muasalmu berwujud,
                bayanglah jawabnya!
                sebab kau sekadar
                cerminan Ismaya
                tambun tubuhmu yakni
                saksi, lebar nayammu
                juga saksi, tak perlu
                luaskan tanya muasalmu.

biar babad riwayatkan lakonmu
sebagai sebuah keberanian
mengkritik itulah suara bumi!
seperti, teguran yang kau balut
dalam banyolan yang tak pernah
sungguh-sungguh membanyol,
sebab karsamu menyuarakan
hati rakyat yang hendak menegur
sebuah kelaziman belaka!
tak perlu risau dirimu lenyap,
keceriaan pun deru geloramu
menyiasati kesenjangan hidup
pun gerilya penjajahan ialah
suatu keabadian di dada rakyat.

                betapa bumi mafhum
                keluguanmu, sejenak
                menekur pandak kramamu
                ialah suatu kemakluman,
                bakalah melipur sungkawa
                pada saban pedalanganmu!

usailah kulunaskan pembacaan
Punakawan, cukupkan sejarah
tanah Jawa sebagai pakan pokok
yang abadi mengurai di tubuh,
mencipta kecintaan tualang
dalang pun riwayat pewayangan.

Solo, 28/2/2022
-mangga sekeca-

 

VANIA KHARIZMA, lahir dan dibesarkan di Kota Solo Jawa Tengah. Kegemarannya selain memuliakan istiadat Jawa ialah menulis puisi. Penggalan karya puisinya bisa dijumpai di Instagram @vaniakharizma. Lapak bersua lainnya dapat melalui Facebook: Vania Kharizma dan WhatsApp: 082133751185

 


INFO BAWAH

Cara kirim tulisan ke Negeri Kertas: Tulis karya anda berupa puisi/cerpen/artikel + biodata narasi + foto penulis atau gambar ilustrasi, semuanya dalam satu lampiran MS Word. Kirim ke email nkertas@gmail.com