005

header ads

Puisi Rini Kihiur

Pemenang

Tuan malam itu 
Bibirmu begitu dingin 
Menyembur garam udang rebon 
Manisan kata pada sejumput seloka 
Kenapa kau ambil angin Gunung jati 
Bila ingin bekukan kupunya hati 
Cukuplah kau sapukan ombak ketubuhku 
Rasa garam lebih menyiksa 

Tuan malam itu 
Pantai berkabung mendukung keranda kesendirian 
Katamu menujah lebih dalam dari duri cinta, tika
Di bawah purnama pantai 
Sebagai kail penjerat hati 
Aku ditampakan kusutnya benang-benang pancing
Dulu terjulur lebihi panjangnya angan 
Malam itu kaubiarkan tak tergulung tersapu angin tiba membadai 
Porandakan semua siloka harapan 

Mengapa kau garami luka sayat 
Bila dulu berguru pada petapa
Menjahit kepingan jiwaku di tangan lain
Pada akhirnya berulang kau rapuh, tuan 
Tak mampu mendaki tebing 
Tak bisa arungi gelombang 
Pelita di tanganmu padam selagi arungi bimbang

Tuan malam itu 
Engkau yang jatuh dalam petakaku 
Berharap melihat guliran air mata 
Namun 
Segulung senyum kusajikan 
Sebenar-benar kusaksikan padamnya lentera matamu 
Yang kusiram jarak* begitu banyak 
Sampai api bertuliskan kata rela menjulang ke langit tinggi 
Malam itu siapa entah
Pelari yang mengakhiri lompatan di garis akhir 
Pastinya udang dibibirmu menjelma piala kebebasan langkahku 

Cirebon, 17042021
*Jarak=minyak

Posting Komentar

0 Komentar