005

header ads

Puisi Aiwurud Alsafra

 


Mengail Kerinduan

Oleh: Airud Alsafara


Buana menyapa dengan penuh kehangatan, tersenyum tanpa keraguan. Kerinduan bersemayam bermandikan sinar emas mentari. Nun …, kau laksana bunga, berbicara manis seperti madu dengan penuh kesejukan. Di setiap tarikan napas, ku memikirkanmu. Ombak gejolak menerpa saat kau menghilang dari pandangan, laksana buih di lautan. Ranum wajahmu ‘tak lagi kutemui. Menyisakan sejuta rindu bertahta di sudut kamar hati. Adakah kau membaca sajak-sajakku yang membeku? Betapa sepi hidup seorang perindu.


Semilir angin membelai, hembusannya menambah irama harmoni. Suasana berubah menjadi wangi, desirannya membuka kudup harapan agar tiada jarak pemisah dan tabir, sehingga rindu ini segera tersisir. Nun …, aku menyukai fajar yang menyanyikan senandung kesunyian.  Dalam keheningan ada kedamaian. Mataku basah saat jiwa merindu. Kupahat aksara rindu nan bisu yang menggebu terpatri di relung kalbu.


Pada embun yang membasahi di bibir pagi, kupintal benang-benang harapan. Hari demi hari, kurajut tali-tali impian. Di setiap menit kutanam semangat yang tertimbun. Kepada sang pemilik hati, kuluapkan isi hati bersama bait-bait doa pelipur lara sehingga kehampaan ‘tak lagi menusuk tulang-tulang sendi.


Medan Johor, 05 Juli 2020

Posting Komentar

0 Komentar