CERPEN: Bagus Sulistio - Pesan Misterius di Laci Meja | negerikertas,com
Info:    MUSIK    TEATER    FILM    ESAI    CERPEN    PUISI    WORKSHOP    BUKU    SEJARAH    MUSIKALISASI    INSPIRASI    RESENSI    KULINER    PROFIL   
Home » » CERPEN: Bagus Sulistio - Pesan Misterius di Laci Meja

CERPEN: Bagus Sulistio - Pesan Misterius di Laci Meja

Posted by negerikertas,com on 24 Des 2018




Di sebuah sekolah menengah atas. Seperti biasa Ani selalu datang pertama ke kelasnya. Sembari menunggu bel masuk, ia selalu membaca buku yang belum dibacanya. Hari itu, ia lupa membawa buku. Ia ingat, ada sebuah buku di laci mejanya. Buku itu belum ia baca tuntas. Jadi, ia mencoba membacanya kembali. Namun pada saat ia ingin mengambil,  ada secarik kertas berada di atas buku. Penasaran dengan kertas itu, ia ambil kertas tersebut. Ternyata di kertas terdapat tulisan.

"Kamu harus keluar dari sekolah ini atau mati!" Tulisan berwarna merah seperti darah.

Keluar keringat dingin dari dahinya. Ani menyobeknya. Kemudian ia keluar dari kelas karena belum ada seorangpun dikelas. Ia tak ingin jika dia di kelas sendirian, ada sesuatu hal yang tidak diinginkan. Sebuah bangku panjang di depan kelas ia duduki, sembari menunggu teman-teman.

Tak menunggu lama, Bella dengan ceria menyapa Ani. Ani masih terpaku melamun. Masalah tadi masih berada di kepalanya. Bella melambaikan tangannya di depan pandangan Ani. Ani tersadar dan terkejut. Kemudian ia menceritakan apa yang membuatnya seperti ini. Bella hanya tertawa, mengganggap itu hanya sebuah lelucon. Ani kembali kedalam kelas, mengambil kertas yang disobek. Lalu menyodorkan ke Bella. Kertas sobekan itu jika digabungkan masih bisa terbaca. Akan tetapi, Bella tetap tak percaya akan hal itu.

Mereka masuk kelas bersama. Diiringi oleh teman-teman yang satu persatu datang. Ani berusaha melupakan hal tadi pagi. Namun, itu masih terbayang dan merusak kefokusannya dalam belajar. Hingga teman kelasnya heran. Biasa selalu aktif dalam kelas dan menjawab pertanyaan dari guru. Tapi hari itu ia hanya diam dan melamun.

***

Di keesokan harinya, Ani sengaja berangkat agak siang tak seperti biasanya. Ia tak mau ada secarik kertas seperti kemarin. Di kelas sudah ada beberapa anak yang sedang beraktifitas. Kemudian Ani duduk di tempat biasa. Perlahan ia mencoba melihat laci mejanya. Akan tetapi,

"Aaaaaaa.."

Terdapat boneka Barbie tak bertangan, tak berpakaian, penuh dengan darah di rambutnya dan tubuhnya. Tepat di bawah boneka itu ada secarik kertas. Teman-teman yang mendengar teriakan Ani, menghampiri dan bertanya. Ani hanya diam sambil menutup mukanya dengan tangan. Anton melihat betul kejadian sebelum Ani berteriak. Ia mencoba melihat apa yang di laci meja Ani. Kemudian ia mengambil isi dari laci itu. Pada saat ia angkat keluar isinya. Teman-teman yang melihat boneka itu berjalan mundur. Ada pula yang diam ditempat, menggelitik ketakutan. Lalu ia baca tulisan di kertas tersebut, isinya "Kamu harus keluar dari sekolah ini atau mati!". Mereka yang mendengar terperangah.

Anton langsung keluar kelas menuju ruang BK. Dengan langkah cepat, ia membawa barang tersebut. Sesampainya di ruang BK, ia menemui Pak Ratno. Menceritakan apa yang menimpa Ani,di kelas. Pak Ratno sempat tak mempercayai. Ia memerintah Anton untuk memanggil Ani. Anton terburu-buru menuju kelas kembali. Tanpa menjelaskan kepada Ani, ia menyeret Ani yang sedang sedang duduk di depan kelas. Untuk pergi menemui Pak Ratno.

"Jadi, gimana kejadiannya?" Tanya Pak Ratno.

Mereka duduk melingkar di sofa. Ani dengan was-was berusaha menceritakan apa yang terjadi. Kejadian yang kemarin dan tadi pagi yang ia lalui. Pak Ratno berusaha mendengarkan dengan baik, mencari solusi. Pak Ratno beralibi pasti ada seseorang meneror Ani. Tapi belum tahu apa modus dari teror tersebut.

Setelah berunding cukup lama mencari solusi. Anton memberikan pendapatnya. Bagaimana jika pagi-pagi buta mereka memantau kelas. Siapa tahu ada seseorang sengaja menaruh di meja Ani. Mereka menyetujuinya.

***

Di keesokan harinya, pada pagi buta. Pak Ratno, Ani dan Anton memantau kelas dari kejauhan. Tak beberapa lama kemudian, ada seseorang menggunakan jaket hitam masuk ke kelas. Dengan perlahan mereka membuntutinya. Kemudian mereka hanya mengintip dari luar jendela. Dari luar, ia terlihat sedang mengambil sesuatu dari tasnya. Ternyata yang ia ambil adalah boneka chucky  dan menaruhnya di laci meja Ani. Tanpa berpikir panjang, Pak Ratno langsung menyergapnya.

"Siapa itu?!"

Ia sempat mencoba melarikan diri. Tapi Pak Ratno berhasil memegang tangannya. Pak Ratno membuka kerudung jaket yang menutupi kepalanya. Setelah dibuka, ternyata itu..

"Bella!" Ucap mereka serentak.

Setelah mereka tau siapa pelakunya. Pak Ratno membawa Bella ke ruangannya. Bella diinterogasi di ruang yang sepi tersebut. Ia mengakui alasannya melakukan hal itu. Ia tak mau Ani di sini hingga lulus. Karena ia akan kalah oleh Ani. Sebelum Ani datang ke sekolah ini, Bella lah yang selalu jadi pusat perhatian. Namun keadaan berubah setelah Ani datang.

Mendengar penjelasan tersebut Pak Ratno sempat menggeleng-gelengkan kepalanya. Ia memberitahu Bella apa yang dilakukannya itu salah. Bella hanya terdiam meneteskan air mata dan menundukkan kepalanya.



Purwokerto, 31 Oktober 2018



Bagus Sulistio lahir di Banjarnegara pada tanggal 16 Agustus 2000. Sekarang ia tinggal di pondok pesantren Al hidayah karangsuci, Purwokerto, Banyumas, Jawa Tengah. Saat ini sedang menuntut ilmu di IAIN Purwokerto, semester 1 jurusan pendidikan bahasa arab. Ia aktif dalam organisasi Sekolah Kepenulisan Sastra Peradaban ( SKSP ) Purwokerto. 

#cerpen

SHARE :
CB Blogger
Comments
0 Comments

Posting Komentar