005

header ads

PUISI : Edi S Febri



KEPADA PEREMPUAN HUJAN

Datang
Dan dekaplah
Bawa hangat nafas gairahmu
Aku sedang kedinginan
Menggigil berselimut taburan rinai hujan
Memeluk kabut hitam

Datang
Dan dekaplah
Jangan lepaskan sebelum aku terbakar

Aku telah kembali
Jatuh dalam pelukmu lagi
Perempuan hujanku

01 Januari 2017




CATATAN KECIL UNTUK MENTARI

dan
dalam ini
telah kau patahkan lagi kepak sayapku


entah mengapa
aku bisa terjebak dalam lingkaran permainan ini


aku terlena
dan lupa

GRINGSING, 20 Oktober 2017






PUISI KEPADA HUJAN

Hujan
Sendirian kau datang
Tak lagi mengajak dia bergandeng tangan
Menemuiku diujung  jalan

Hujan
Kau tahu dimana dia sekarang?
Aku selalu terkenang
Tak pernah lelah mencintainya

Hujan
Kau tahu tentang dia?
Pencarianku terhadang tembok penghalang
Menjulang angkuh mengekang
Pemisah cerita masa lalu yang tak pernah padam

Hujan
Kau membuat kangenku meradang
Apa dia juga masih punya rasa sayang?

Kau tentu tahu
Setiap waktu aku dibakar rindu
Ingin sedetik saja bertemu
Memupus penantian panjangku

Hujan
Datanglah
Bawa serta dia untukku

Aku masih menunggu

TEMANGGUNG, 27 Desember 2017







MANTERA  ARJUNA

Memanterai diam
Memanggil kemenangan
Perang tanpa suara lantang

Memanterai diam
Hadirkan pertanyaan

Bagaimana aku mengadu senjata
Mengalahkan musuh tanpa luka
Menaklukkan wanita tanpa menggoda

Mereka hanya perlu tahu
       : aku tak terkalahkan
         selalu menjadi pemenang

Memanterai diam
Sukma melayang
Berkelana setiap malam
Menikmati wanita tanpa bosan

Dan inilah jalan hidup sang petualang
Takdir alam untuk lelaki pilihan

Arjuna tak berhak menentang

GRINGSING, 29 Mart 2017










RHE
: AKU HARUS MEMILIH SIAPA ?


Rhe…..

Aku tak bisa memilih
Di jalan bercabang langkahku terhenti

Kau atau dia
Aku pilih yang mana ?


Rhe…..

Aku harus bagaimana ?
Kau dan dia tak bisa kutinggalkan
Juga tak mungkin kupilih bersama


Rhe…..

Tak seperti siang dan malam
Pilihan ini membingungkan
Dua hati yang berseberangan

Aku lelah
Tak lagi bisa memutuskan


Rhe…..

Aku serahkan semua pada hujan
Biarlah dia yang memilihkan

Maaf,
Jika nanti pilihan itu
……….bukan kamu

GRINGSING, 01 Oktober 2017



LIARMU MELUKAI MATAHARI

Kau tahu ?
Mataharipun menangis saat kata-kata tajammu menghujam
Robek keinginan yang terucap semalam


sejenak terpaku
terbayang kembali masa itu
ketika separuh hati masih erat menyatu

sebuah masa
dimana sebuah cerita menghampar
tentang flamboyan yang menunggu datangnya hujan
sendiri meniti musim
tak goyah
meski godaan datang tawarkan pilihan


Mengapa kau sia-siakan ?
Bukankah kau juga sedang mencoba merangkai kisah baru
     - yang kau harapkan mampu mencairkan kebekuanmu?
Mengapa pula kau patahkan sayap sang camar
     - yang mencoba mengepak lagi setelah terhempas?


Kau tahu ?
Hujan tak mau luruh
Tarian liarmu  membuat awan berlarian menjauh
Embun juga enggan mengakhiri malam


Apakah kau tetap bersikukuh dengan separuh hati
     - yang kau sendiri tah tahu keberadaannya itu?

12 Oktober 2017






CERITA TENTANG HUJAN  ( 04 )

Kau tahu arti hujan ?
“Hanya senja basah”, katamu

Duh.......
Bukan itu maksudku
Tapi makna nyanyian hujanlah yang kutanyakan
Aku kagum
Karena setiap tetsnya bercerita sendiri-sendiri
Riuh bersahutan
Hingga tak satupun dapat kupahami

“Untuk aoa kau ingin tahu?”, tanyamu lagi
Ah,
Kau tak pernah mau mengerti
Asal kau tahu
Hujan sangat berarti bagiku
Hujanlah yang membawaku ke sini
Menemui dia di sudut kota
Dan menghirup sejuk keangan masa lalu

“Kau aneh”,
Apa ?
“Hanya membuang waktu”, katamu ketus
Tidak
Aku bahagia dalam hempasan hujan
Tak peduli tajam airnya perih menoreh luka

“Lalu, apa yang telah kau dapat ?”
Aku mendapatkan segalanya
Tapi erat kusimpan
Tak boleh ada tahu

“Obsesimu pada hujan telah melampaui batas kewajaran”
Kata siapa ?
Aku tak pernah mengatur sang hujan
Aku biarkan hujan berbicara semau hatinya
Toh dia hanya lewat
Tanpa singgah
Seperti kehadiranmu yang hanya sekilas

GRINGSING, 23 Februari 2017


PERGILAH PADA PELANGI ITU

Tutup ceritamu
Aku ingin pergi saja
Kisahmu terlalu berbelit
Tanpa ujung
Tak berakhir

Aku tak lagi berharap ada dalam pelukmu
Karena aku tak mau jadi pijakan saat kau menggapai pelangi
Aku juga sudah melupakan hadirmu

//

Pergilah
Tutup cerita itu

Aku tak punya rindu
Angin telah meniup ke arah yang lain
Mengubah keinginan hati
Seperti yang dulu pernah kau lakukan


GRINGSING, 12 Juli 2017


Edi S Febri
lahir di Batang Jawa Tengah pada 06 Februari dibawah naungan zodiak Aquqrius.
Menulis sejak duduk di bangku sekolah dan mengkhususkan diri hanya menulis puisi dengan ciri khas Liar, Nakal tapi Romantis.
Puisinya terangkum dalam puluhan buku antologi yang ditulis tunggal maupun keroyokan bersama teman-temannya.
Tetap tampil cuek, puisi Edi S Febri rutin menghias halaman sastra beberapa media di tanah air.
Saat ini Edi S Febri bekerja sebagai Jurnalis.
Kontak email  :  febriesf007@gmail.com

#PUISI



Posting Komentar

0 Komentar