EDELWEIS | PUISI-PUISI YOGA DZULKARNAIN - negerikertas.com

INFO ATAS

LEMBAGA INDEPENDEN DI BIDANG PENDIDIKAN LITERASI, SENI BUDAYA, DAN SASTRA.

6 Feb 2024

EDELWEIS | PUISI-PUISI YOGA DZULKARNAIN

 

PUISI-PUISI YOGA DZULKARNAIN



EDELWEISS

-alawiyah

 

bunga itu aku temui

di matamu, di bibirmu,

di senyummu, di hidungmu

bahkan nyaris di sekujur tubuhmu.

 

aku merasa ada Tuhan bersembunyi di sana

dan memanggilku:

            “Kemarilah. Peluklah. temui Aku di tubuhnya, seraya surga bagimu”

 

termenung aku di pundak jendela:

“Edelweiss, bungaku…”

 

Bandung, 2024


 


TANAH LAPANG

di tanah lapang itu

anak-anak sedang menumbuk waktu

sesekali mereka saling kejar

dengan cintanya masing-masing

tak ada penat bagi mereka

tak ada jenuh bagi kami melihatnya

 

mereka hidup dalam bingkai keserumpunan tanah lapang

di mana cinta, rindu dan kepiluan mereka pungut sesukanya

 

ya, di sana bukan hanya sepetak tanah

yang mereka buat ladang petak-umpet

atau benteng-bentengan

bukan wahana atau tempat hiburan

apalagi tempat pelarian

mereka anggap tempat ibadah tersuci

yang bertuhan pada angin

pada pohonan dan bebatuan

 

di sana mereka tertawa berjamaah sepuas-puasnya

berlarian, berlayang-layang, melempar sendal,

berebutan pohon mangga

yang mereka anggap istana kerajaan,

hingga tumbal-menumbal teman

demi hasrat terlapangkan. 

jangan mengharap tangis di sana

sebab, mereka tak punya waktu

untuk luka atau semacamnya

 

tak terlepas dari gembiranya

di kejauhan terlihat sebatang kayu panjang

di tangan seorang ibu

maka berubahlah raut wajah tanah lapang itu

tampak murung dan lesuh berpeluh-peluh

 

tanah lapang pun ditinggal sendirian

tanpa ada siapa-siapa, hening;

lalu ia nyenyak dalam kesunyiannya, dingin;

tinggal remang-remang dan sepoi-sepoi angin

 

namaun ia bakal tetap jumawah

sampai nisan-nisan mereka mematung di atasnya.

 

Bandung, 2024

 

 

UTOPIA PADA TUBUHMU

 

Pada tubuhmu

aku ingin narasi lebih lama

aku ingin sedih lebih ramah

& aku tak ingin kapal-kapal itu berlabuh padamu

cukup aku dan perahuku

 

Tuhan yang bersemayang di pelipis matamu

menolak nyenyak malam-malamku

 

Mungkin, aku bakal tanggal dalam pelukanmu

tempat tersorga bagi tubuh-tubuhku

 

Bandung, 2024


 

RUBAIAT DI KENING MALAM MINGGU

 

/1/

Di kening malam minggu

aku menyeduh pekat waktu

ada sebuah kehangatan di sana

entah apa itu, mungkin Tuhan sedang menyapa

kusimpan sejenak beberapa obituari di atas meja

bersama lembaran-lembaran peristiwa

juga tak lupa ada dompet disana yang hanya berisi mimpi;

mimpi yang terparkir di dalamnya

 

Ada banyak cakap yang tak terasa cukup

dari sebutir katamu yang tak berhasil kukecup

di mana pada setiap ceritamu yang penuh alur

aku mencoba untuk lembur tanpa merasakan libur maupun tidur

 

/2/

di kening malam minggu

ada sepotong cerita di atas meja

tentang seorang wanita yang sukar berkata-kata

 

di atas meja itu

malam minggu selalu merindukan minggu yang lalu

di mana kopi buatan ibu sering membuat cemburu wanitaku

 

cakap-cakap itu terus terngiang-ngiang di kendang telinga waktu

hingga subuh membangunkan tubuh

 

namun semenjak kepergianmu

pelukan Tuhan pun terasa angin hilang membekas

 

dulu kau buat libur tidurku

sekarang aku telah tidur dalam liburmu

 

/3/

Kembali lagi di pangkuan kening malam minggu

rumah dari segala kepenetan & seluruh kegalauan

 

Meja-meja tak lagi menghidangkan percakapan

tak ada lagi gelak-tawa tumpah

apalagi secangkir kisah yang menghangat pada kepala

 

Di kening malam minggu yang baru ini

& yang telah jatuh tempo hari , aku tetap memikul beban sepi

 

Sudah sepantasnya hening berumah di pundakku

keramain & luka-luka yang berlarian

biarlah bernyanyi di panggung pesta perkawinan

 

Di kening malam minggu

kata-kata mengalami kemacetan parah

sebab di depan sana ada kecelakaan antara temu & waktu

tak ada korban atau kerusakan di anataranya

namun, tiba-tiba kopi buatan ibu mengatasi bahala itu. ah, syukurlah…!

 

Memang sungguh,

di kening malam minggu itu

tanpa kasih kopi buatan ibu semua bakal celaka & berbau

atau bahkan tak ada lagi minggu-minggu yang baru.

 

Bandung, 2023



*) Yoga Dzulkarnain. Pemuda kelahiran Sumenep Madura Jawa Timur. Mahasiswa UIN Sunan Gunung Djati Bandung. Alumni PP. Annuqayah Lubangsa, MTs 1 & MA 1 Annuqayah. Salah satu Kontributor Puisi pada Antologi Puisi Dari Negeri Poci Ke-11 KHATuLISTIWA (Jakarta, 2021), Antologi Puisi Dari Negeri Poci Ke-12 RAJA KELANA (Jakarta, 2022), Antologi Puisi Dari Negeri Poci Ke-13 KULMINASI (Jakarta, 2023). Antologi Puisi Nusantara (Indonesia-Malaysia-Singapura) ‘Identitas, Kemanusian, Kampung Halaman’ (2023), Antologi puisi 154 Penyair Indonesia ‘Upacara Tanah Puisi’ (2022) dll. Karya-karyanya dimuat di beberapa Media Online, Majalah, Surat Kabar/Koran Harian dll. Bisa dihubungi lewat WA: 087824917309/Instgram: @mh.dzlkrnn_/Facebook: Yoga Dzulkarnain.

 

INFO BAWAH

NB: Untuk saat ini, Negeri Kertas belum bisa memberikan honor untuk karya (Puisi/Cerpen) yang tayang.