005

header ads

TAK ADA TAHUN YANG BARU: Gimien Artekjursi

 


:Gimien Artekjursi


TAK ADA TAHUN YANG BARU


sungguhkah tahun ini berganti baru?


selain matahari yang tiap terbit di ufuk timur

dan terbenam di cakrawala barat

tak kulihat tanda sekedar rambu pembeda 

kulintasi


hamparan rumput, ranting dan guguran daun

semua yang ada kini

adalah yang kemarin 

yang selama ini menjejali musim-musim hidupku


setiap hari kakiku masih basah oleh embun yang sama

yang sangat kuhafal sejuknya

dan di angkasa burung-burung mengepak 

dengan sayap yang itu-itu juga

dengan kicau yang sama menerobos ranting-ranting daun 

 

lalu dimanakah tahun yang konon baru itu

selain angka-angka di dinding 

yang harus kita tandai dengan warna berlainan?


angin terus saja bertiup seperti biasanya

dan wajahku dihembus sejuknya

seperti ketika kakiku baru belajar menapak

sekali waktu ketika kubuka jendela

kulihat bunga-bunga bergantian berkembang atau berguguran

seperti musim hujan dan kemarau

yang juga hadir silih berganti

mewarnai pekarangan rumah dan jalan-jalan yang kulalui


jika musim panas dan hujan masih saling bergantian datang

debu-debu kemarau menghilang terhapus tetes hujan

dari pandanganku matahari bergeser terbit dan terbenamnya

ke utara dan selatan 

tapi tahun-tahun yang menggelinding 

bagai dalam gumpalan

waktu demi waktu

serasa tak berbeda sedari dulu


jadi apa yang baru? 

yang berganti dan berbeda?

tak pernah kulihat pergantian itu  


tapi selalu sekali waktu di jalanan

orang-orang bersorak

menyalakan bunga api

tertawa-tawa

seolah-olah bersungguh-sungguh 

meninggalkan suatu yang lama

dan seolah-olah telah menemukan yang baru

yang sama-sama tak pernah bisa mereka cecap dan raba


sayangnya aku tak bisa berpura-pura seperti mereka

karena hari ini, seperti kemarin

aku masih melewati pematang yang sama

yang tak pernah dibajak para petani

(agar bisa digunakan melintas dari petak ke petak)

tak peduli dengan tahun

akan berganti dengan yang baru

atau masih berkubang di tempat yang lama

aku tak peduli

 

meski aku tahu waktu senantiasa berjalan

dengan melihat tunas-tunas yang terus tumbuh

berbuah dan dituai

dan ketika bercermin

kulihat rambutku yang dulu sehitam jelaga

kini hampir rata memutih beruban

tapi aku tak peduli dengan tahun

akan berganti dengan yang baru

atau masih berkubang di tempat yang lama

aku tak peduli


karena kini yang kunanti

bukan pergantian tahun, cuaca atau musim 

bukan


Kumendung, 31 Desember 2023






Gimien Artekjursi, lahir 3 Agustus l963 di Banyuwangi. Menulis puisi di media cetak dan on line di Indonesia dan beberapa antologi bersama.

WA: 085333554684







Posting Komentar

0 Komentar