005

header ads

Puisi-Puisi Aldy Dahoklory

 


Ketabahan


Embun pagi gugur bersentuhan dengan daun 

Seperti kejatuhan yang masih kau pikirkan

Masih belum kau diterima sebagai satu kenyataan

Sadarlah, tak ada yang  bisa diputar kembali dengan keinginan

Penyesalan biarkan saja menjadi penjelasan

Bahwa setiap kekeliruan adalah pelajaran, dan

Jadikanlah itu pengalaman yang bisa ditahan

Mungkin semesta tidak ingin memberimu waktu

untuk merubah semuanya dengan orang yang sama

Maka Tuhan menginginkan dirimu merubahnya 

di kesempatan selanjutnya yang lahir dari waktu. 


Refleksi Pagi Hari


Gelap gugur di atas waktu

Terang itu datang bertamu

Lalu mata pintu dibuka

Atas kunci rasa syukur


Pagi melangkah mundur

Waktu yang terus meluncur

Air-air mata terus mencucur

Hasil-hasil petani dikubur

Di lorong-lorong kantor

Yang dapurnya dekat

Rumah jutaan pelacur 

yang bekerja di tempat tidur


Pagi itu awan melihat

Orang berangkat

Orang menjemput

Orang merajut

Wajah korporat

Mobil alphard

Melintasi perut

Yang jerit-menjerit


Pagi buta itu menatap

Bunga mekar

Spanduk lebar

Partai menabur

Amplop menular

Fakta mencair

Dusta berbaur

Tanpa setitik libur


Garis jalan itu menyaksikan

Orang mengejar kecepatan

Orang mengejar kesempatan

Orang mengejar keterlambatan

Orang mengejar kekuasaan

Orang mengejar kekayaan

Orang menguburkan sejarah


Pagi yang diselimuti hujan

Sageru meneteskan doa

Sopi meneteskan sarjana

Tetapi michat lebih halal

daripada mayang yang meneteskan air susu 


Pagi itu diselimuti mendung 

Menatap pengetahuan tanpa agama

Agama tanpa pengetahuan, sampai

Lidah meludahi budaya

Ludah membenci sesama


Lampu jalan penuh dengki

Garis lintasan penuh ambisi

Pagar pengaman tak berhati

Posisi tidur memakan jalur


Ketika pagi dipeluk embun

Keresahan melahirkan puisi

Dari batin bernyawa ketulusan

Di saat hukum memberi nama

Kepada telinga jeruji penjara

dengan nama" kamar besi bermata rupiah."


06 Oktober 2023


Dua Orang Malaikat.


Ketika aku belum sanggup melihat dunia, di sana ada mereka yang senantiasa menata aku untuk menatap rupa dan itu juga aku yang belum mampu berdiri tetapi tangan mereka ada sebagai kekuatan yang memberi aku tulang untuk berdiri.

Aku dituntun dengan alunan suara yang memberi jalan di saat semua jalan hanyalah jurang. Masih teringat, dimana aku bagaikan kertas yang kosong, di sana ada mereka yang mengisi hati ini dengan segala yang baik.

Ketika umur membawaku kepada dewasa

Ada banyak luka yang menabrak aku di dunia

Namun mereka sudah memberi aku makna

untuk menatap segala hal kecurangan dunia


Di meja makan yang apa adanya, ada kata sederhana yang  ditelan, agar bukan hanya kenyang makanan tapi juga arti kehidupan. dari masakan ibu,  aku rasakan kalau kasih sayang bukan tentang uang, bukan barang, kalung, gelang atau dia yang membawamu di tepi pemandangan. tapi dia yang tetap pegang tangan saat kita  bimbang, dia yang mengandeng saat kita tak mampu bajalang, dia yang di samping saat kita kehilangan tujuan. dia yang memberi tenang saat kita di pinggir jurang, dia yang memberi pelukan saat kita dingin, dia yang memberi sandaran saat kita dalam kehancuran, dia yang memberi kesadaran saat kita dalam tantangan dan dia yang memberi ruang ketulusan untuk kita pulang.

Di balik perenungan aku menyimpulkan

Bahwa mereka adalah sepasang malaikat

dan aku melihat cinta yang sesungguhnya 

Pada bola mata ibuku dan sertiap langkah kaki ayahku.

_____________________________________________________

Aldian Dahoklory, pria kelahiran Yawuru, 16 Oktober 2002. Pecinta Puisi. Statusnya sebagai mahasiswa di Universitas Pattimura, jurusan Sastra dan Bahasa Indonesia. 



Editor: Firman Wally



Posting Komentar

0 Komentar