005

header ads

Sajak-sajak Keadilan Agus Buchori





Payung Hukum

Hukum di sini bagai lampu mati

tak tahu arah hendak ke mana

bergentayangan mencari pegangan

menabrak sana-sini tak peduli


Payaung hukum tak mampu menaungi

ia memilih siapa yang mau membeli

pasal-pasal menghambur seperti hujan

yang miskin makin menggigil tanpa naungan


ke manakah keadilan

seperti apakah wajahnya

apakah ia bersembunyi di ketiak hakim

yang tak mampu dan buta

membedakan hukum dan keadilan


Palu Hakim

Daun bergoyang pelan

ketika palu hakim menggebark meja

seorang terdakwa tersenyum gembira


Apakah arti julah tahun

jika bisa dibeli

menjelang peringatan hari kemerdekaan


Pencuri babak belur

pejabat tertawa pongah di penjara

itu kepastian hukum

bukan keadilan!


Mata Pisau

Di ujung mata pisau

jejak luka darah membeku

di tubuh kaku ada bekas peluru

jelaga tetringgal dalam daging yang koyak


mata pisau dan peluru

pernah hadir di tubuh layu

menjadi Tanya melahirkan praduga

bahkan berita yang tak berkabar


mata pisau dan peluru

menuliskan cerita hilang plotnya

riuh dibaca di layar kaca

tanpa ujung cerita


Mayat Berbicara

Mayat berbicara

Dengan perantara luka

Tiap nganga melisankan kata-kata

Di ujung jari dokter forensik terbacalah fakta.


Mayat berbicara

Menggerus kasak-kusuk

telinga hukum tersumbat

mata keadilan terpejam


Mayat berbicara

Dalam senyap tanpa saksi

Di meja otopsi


Di bawah lampu operasi mayat berbicara

Dengan dirinya sendiri

Menjawab sebab kematiannya.


Agus Buchori, penulis kelahiran Kampung Nelayan Paciran,  Lamongan. Puisinya Perahu di Dinding Candi terpilih sebagai favorit 1 oleh Yayasan Hari Puisi Indonesia dalam lomba puisi grup FB HPI tahun 2022. Bisa dihubungi via agusbuchori@gmail.com



Posting Komentar

0 Komentar