005

header ads

Puisi: Jenggawur adalah Kita || Drajat Nurangkoso

Drajat Nurangkoso

JENGGAWUR ADALAH KITA



Empat pemuda berjalan letih berbalut gundah bersorban resah, meniti pematang sawah menuju rumah tua di balik rimbun gerumbul pohon  bambu, pemuda Jenggawur, Pesanggrahan Wetan Pesanggrahan kulon, dan  juga Binangun menghadap laki-laki tua pusaka desanya di alas tikar orang tua itu menggelar, petuah tumpah memantik kesadaran dan kesejatian.

“Wahai anak muda. Apa kalian tidak dapat bersabar seperti Tumenggung Jaganegara yang bertafakur di bawah pohon pisang muda sampai keluar buahnya berhari hari menghening cipta

menyelaraskan fibrasi semesta, menjadikan tanah yang kalian tempati kini bagaikan surga." 

Baca! Baca! Bacalah sasmita tanda-tanda kesucian di dalam darahmu.

Sejatinya kalian adalah pewaris jiwa merdeka dan manusia unggul keturunannya

Buka! Buka! Bukalah mata batinmu! kalian akan melihat Eyang Jaga kali dan Jaga bela babad alas cancut tali wanda menjadikan tanah yang kalian pijak kini layak dihuni

Tebing-tebing Kali Merawu masih menyimpan nyanyian damai suara desa, cucuran keringat dan lantunan doa mantera di sela perang gerilya 

Eyang jaga Kali dan Jaga Bela prajurit gagah berani melawan angkara murka, putra Tumenggung Jaganegara yang tak rela bumi pertiwi dirudapaksa, rakyat dihisap darahnya, kemerdekaan dikebiri kompeni Belanda, dua perwira muda dengan taktik gerilya, sembunyi mengintai pasukan iblis berbendera VOC. Durjana merampas, mencabik, menginjak martabat bangsa. Dengan rasa sakit dan jiwa tak rela  bersekutulah dengan pangeran bersorban putih di atas kuda sembrani mengacungkan keris pusaka, membakar semangat jihad melawan kedzaliman kompeni Belanda sampai Ia terperangkap tipu daya, lalu dibuang dari tanah Jawa

Kalian. Hai anak muda! 

Tak pantas berpangku tangan, bersetubuh dengan angan-angan

Kalian adalah pewaris bumi suci tanah pertiwi ini, seluruh sel sel dalam tubuhmu adalah pejuang tangguh, bukan tukang keluh dalam sel darahmu adalah darah satria bukan peminta minta berkoar tanpa syukur menghujat dan menghina pemimpin negeri yang telah ditentukan hadirnya oleh Sang Maha Kuasa.

Jangan biarkan otakmu dicuci oleh dogma dogma palsu berbungkus persepsi dan kebenaran semu.

Duhai teruna Pesanggarahan, bangunlah!

Ayo kuajak kalian memasuki lorong masa lalu, lihatlah di dindingnya penuh catatan tak  terhapuskan. 

Gambaran masa lalu tanah yang kalian huni menyimpan cerita yang dituturkan sepanjang masa, itu bukan dongeng.

Itu sungguh nyata.

Lihatlah dengan mata batinmu.

Para priyagung mesanggrah dan kalian lihat tempuran Sungai Besar Serayu dan Merawu.

Ya. Ya. Di situ.

Di situ. Batu-batunya masih menyimpan energi spiritual Dewi Nawang Wulan kinasih Ki Ageng Tarub

Tanah yang kalian huni kini bukan hanya pesanggrahan para Priyagung tetapi menyimpan energi suci para petapa melepas dunia untuk mencapai keheningan yang agung.

Percayalah, bumi dan langit yang memayungimu masih menyimpan energi kewibawaan di partikel-pertikel udara yang menghidupkan mu

Tak pantas kalian menjadi manusia sampah yang berfoya dengan sumpah serapah, keluh kesah, cemas dan gundah akankah tilas Tumenggung Candrayudha kalian lenyapkan dengan dongeng yang  membutakan kesejatianmu.

Bukalah mata batinmu Eyang Nyai Ayu Sekati masih mengawasimu dari Alas Sigadhung

Hai pewaris Binangun, lihatlah kemari Eyang Jagabela  menata markas bela pati sambil mengolah bumi, Jangan kalian  khianati, membiarkan sawah dan ladang merana sendiri, hanya berpangku tangan menjadi pangeran atas buih, yang berlayar disamudra angan angan.

Ayo alirkan kembali keringat, basahi bumi, gemburkan tanah menjadi loh jinawi, Tak perlu merasa rendah dengan legam kulitmu dan lumpur di baju kerjamu buatlah  eyang damai sumare di Setana Agung Binangun

Hai Teruna Sitekik, Panggung, Jurang, dan Crecetan,

Kemarilah, lihatlah 

Eyang Jaga ngali gagah perkasa penuh strategi membuat benteng gaib mengatur siasat perang sembunyi

Sungguh kalian tak layak menjadi pengecut yang terkubur di ketiak zaman

Lemah batinmu onani dengan angan-angan.

Gerakkan kakimu kembali dengan gagah berani, cumbui lagi sawah dan ladang yang telah diwariskan para  leluhur kalian satukan energi, selaraskan fibrasi, 

Agar frekuensimu adalah lagu bersatu

Bersatu, bersatu

Bersatulah kalian 

Ketahuilah sesungguhnya

Jenggawur adalah Jenggawur

Jenggawur adalah Pesanggrahan Wetan dan Kulon

Jenggawur adalah Binangun

Jenggawur adalah tanah suci warisan patriot sejati yang penuh religi

Jenggawur adalah kalian  pewaris syah yang telah Sang Agung gariskan

Jenggawur adalah kita.

Sokanandi, 13 Juli 2023.


Drajat Nurangkoso, lahir di Banjarnegara, komunitas gerilya budaya Banjarnegara, penggiat tadarus puisi Banjarnegara, karya antologi puisi Perjalanan Sunyi, Perjamuan Cinta, Sketsa Celoteh Murawi, novelet Pelangi di Kubah Langit Hati. Alamat Sanggar Pintu Kosong RT 01 RW 06 Kelurahan Sokanandi Banjarnegara. No hp 081229429404. Email drajatnurangkoso66@gmail.com.

Posting Komentar

0 Komentar