005

header ads

PEMBURU LAUT 1 | Puisi | Christya Dewi Eka

PEMBURU LAUT 1

Oleh: Christya Dewi Eka


begitu kapal-kapal mendekat, 

laut sebelah utara pulau membuka gerbangnya, 

belasan perawan menyeruak menarikan selamat datang, 

membawa nampan berisi buah-buah tropis warna-warni, 

bokor emas yang mengepulkan wewangian alami, 

dan lambaian daun-daun nyiur yang santun


       oh, laut, 

berbulan-bulan memabukkan pelaut-pelaut bule, 

bersekutu dengan amis ikan dan noktah garam, 

hingga mereka serupa makhluk dari dasar laut, 

yang baru saja keluar dari kerangkeng,

       : mabuk kebebasan,

          : mabuk wewangian, 

             : mabuk anggur, 

                : mabuk syahwat, 

rakus menciumi,

segala aroma yang keluar,

dari wajah, tubuh, ketiak, 

bahkan seluruh pori-pori perempuan pribumi, 

pelaut-pelaut itu kerasukan roh laut, 

roh yang mencengkeram, 

menarik tenggelam, 

hanyut semakin dalam, 

      dan dalam, 

          ke dalam pusaran kidung asmaradana, 

             ke dalam rahim-rahim perempuannya


betapa indah laut melagukan nestapa, 

gita lara larut diayun gelombang, 

masa lalu bercampur masa kini, 

duka bercampur suka, 

darah dan lendir bercampur keping-keping emas, 

       dia, 

       dia, 

perempuan-perempuan laut, 

mengerang kesakitan, 

sambil terus menggoyang pinggul, 

seturut nyanyi gelombang, 

ketika hari berangin


permainan usai, 

senja luruh, 

tinggal gulita menyeruak, 

kapal-kapal kembali berdendang, 

melenggang riang memecah ombak, 

mencari kejayaan dan kekayaan,

menyisakan borok di tubuh jelita


       dia, 

       dia, 

perempuan-perempuan laut,

mengurai rambut panjangnya, 

menyapu pasir-pasir pantai, 

melarung keluhnya pada laut, 

menyucikan tubuhnya dengan air garam, 

menghapus jejak pelaut dari tiap titik tubuh


“dari abu menjadi abu, 

dari air menuju air, 

kepada laut, 

hati terpaut,

tempat berpulang, 

sambil menghitung gemintang, 

inilah kami yang malang.”

 

barangkali, 

kubur terindah bagi pelaut, 

       bukan di laut, 

          bukan di kapal, 

             bukan di pantai, 

                bukan di dekap perempuan eropa,

namun di dada perempuan laut,

yang matanya seteduh cakrawala, 

dan hatinya setegar karang


Semarang, 7 Agustus 2023



Christya Dewi Eka, lahir di Jakarta, sekarang berdomisili di Semarang bersama 7 buah hatinya, lulusan Fakultas Sastra Indonesia Universitas Diponegoro Semarang tahun 2003. Beberapa karyanya dimuat dalam antologi puisi, media cetak, dan media online.

Email: christyadewieka@gmail.com

Facebook: Christya Dewi Eka

Instagram: @christyadewieka2020

WA: 088239408965










Posting Komentar

0 Komentar