Musik Minimalis dalam Festival Matrilineal Sijunjung Tahun 2022 | Ade Febri Yulfita - negerikertas.com

INFO ATAS

Lomba Cipta Puisi | DEADLINE 20 Februari 2023 | Apabila dalam 30 Hari, karya yang anda kirimkan di Negeri Kertas tidak dimuat, secara otomatis karya tersebut statusnya dikembalikan.

Jaringan Penulis dan Pembaca

Website Sastra dan Seni Budaya yang Terpercaya sejak 2015

7 Jan 2023

Musik Minimalis dalam Festival Matrilineal Sijunjung Tahun 2022 | Ade Febri Yulfita




Festival Matrilineal merupakan identitas dari Minangkabau, karena hanya sedikit di dunia yang menganut garis keturunan melalui ibu. Melalui Festival Matrilineal yang diadakan di perkampungan adat Nagari Sijunjung menampilkan berbagai seni musik, Tari, dan teater dari berbagai daerah di Sumatera Barat. 

Kabaloka merupakan salah satu group musik yang lahir di PadangPanjang, yang menampilkan sebuah komposisi musik minimalis dalam acara Festival Matrilineal diadakan atas kerjasama BPNB dengan Pemkab Sijunjung pada tanggal 23-30 Juli 2022. Musik Minimalis Talempong kayu yang disajikan oleh group musik kabaloka ini berasal dari Sumpur kudus. Namun dalam pertunjukan komposisi musik oleh Kabaloka menghadirkan musik minimalis dengan ide dari tradisi alat musik talempong kayu yang nada dan garapan musik telah dikembangkan dalam bentuk karya baru musik minimalis. 

Musik minimalis mengarah pada gaya musik yang dimulai di Amerika pada tahun 1960-an. Pelopor dari Musik minimalis ini adalah La Monte Young dan Terry Rilley, yang dengan cepat diikuti oleh Steve Reich dan Phillip Glass (Alison Latham 2002:781). Musik Minimalis memiliki ciri khas repetisi (pengulangan) yang diolah menjadi bentuk-bentuk baru dengan cara Sequence, retrograde, inversi, dan Teknik pengolahan yang lain(Margareth Lucy Wilkins:51). 

Pertunjukan musik oleh grup Kabaloka ini menampilkan sebuah komposisi musik yang berdurasi 20 menit. Dalam pertunjukan ini, kabaloka menggunakan beberapa instrument musik yaitu, xylophone, keyboard, gong, talempong logam, talempong kayu, dan gandang. Musik Minimalis oleh Kabaloka ini terdiri dari beberapa bagian, dan juga terdapat musik loop atau musik digital yang memiliki bagian yang berulang dari materi suara. Tujuan dari penggunaan loop ini untuk mengiringi permainan talempong kayu dan kemudian bermain Bersama. 

Ketika pertunjukan musik minimalis Talempong Kayu dimulai, ditandai dengan kalimat MC “Selamat Menyaksikan”, Lighting mulai menyoroti panggung serta instrument musik mereka. Tampak 3 orang pemain musik dengan instrument musik masing-masing yang dimulai oleh permainan Talempong kayu. Setiap player tidak hanya memainkan satu instrument saja, namun menggunakan beberapa instrument yang dimainkan secara bergantian.  Awal permainan komposisi musik ini dimainkan secara bergantian, masing-masing memainkan 4 bar lalu berurutan dengan menggunakan dinamika crescendo (suara menjadi keras secara bertahap) dan Aksentuasi (pukulan yang dikeraskan). Bagian kedua dari komposisi ini terdapat pengolahan motif (melodi singkat yang sangat khas) yang dimainkan pada instrument xylophone menggunakan Teknik empat mallet. Bagian selanjutnya terlihat wanita paruh baya yang berjalan dari kerumunan penonton menuju panggung, setelah itu wanita itu langsung memainkan instrument musik Talempong kayu, tampak kebingungan penonton yang menyaksikan bergabungnya wanita itu secara tiba-tiba. Jumlah pemain musik Kabaloka ini bertambah menjadi 4 orang. Pada bagian ini menggunakan musik loop yang mengiringi permainan talempong kayu yang dimainkan oleh wanita paruh baya itu yang bernama Marlius serta di iringi oleh pemain lainnya. Bagian terakhir dalam komposisi ini terdapat bagian solo oleh masing-masing pemain. 

Karl Edmund Prier (1996,2) mengatakan bahwa bentuk musik merupakan suatu gagasan atau ide yang nampak dalam pengelolaan atau susunan semua unsur musik dalam sebuah komposisi yang terdiri dari melodi, irama, harmoni, dan dinamika. Ide ini mempersatukan nada-nada musik terutama bagian-bagian komposisi yang dibunyikan satu persatu sebagai kerangka. Komposisi musik talempong kayu ini juga menggunakan aksentuasi dan dinamika piano (lembut) dan forte (keras), serta pemain talempong kayu memainkan pada ketukan beat (ketukan teratur sebagai pedoman tempo)  dan talempong logam memainkan pada ketukan up (ketukan yang berada di atas hitungan/gerak tangan dirigen ke atas). 

Pertunjukan komposisi musik Minimalis Talempong kayu ini untuk memperkenalkan bagaimana fungsi Talempong kayu yang berasal dari Sumpur Kudus sebagai media untuk latihan oleh musisi wanita sebelum memainkan talempong logam, namun saat ini terjadi perubahan yaitu talempong kayu tidak digunakan lagi, bahkan generasi penerus tidak lagi tertarik mempelajarinya, sehingga talempong kayu sudah jarang dimainkan oleh generasi penerus. Maka grup musik Kabaloka menginovasi alat musik talempong kayu sumpur kudus dengan menggabungkan instrumen musik talempong kayu dengan alat musik xylophone dan keyboard yang dikemas dalam bentuk musik minimalis.   

Dengan adanya Pertunjukan musik oleh grup Kabaloka ini, diharapkan generasi saat ini mengenal alat musik tradisional dari Sumpur Kudus agar tetap di lestarikan dan dipertahankan sebagai media latihan atau pun sebagai media untuk berkreativitas dalam berkesenian. Komposisi musik Minimalis Talempong Kayu oleh grup musik Kabaloka ini terdapat gangguan pada bagian yang menggunakan loop pada sound sehingga bunyi yang dihasilkan terputus-putus, hal ini sangat berpengaruh pada bagian klimaks akhir dari komposisi ini yang menggangu konsentrasi pemain, karena terdapat permainan solo oleh pemain talempong kayu, alangkah baiknya soundman memperhatikan hal kecil yang menganggu jalannya pertunjukan. Selanjutnya pada bagian akhir dalam komposisi, pemain kurang memperhatikan dinamika sehingga  bagian penutup tidak menggunakan dinamika decrescendo (dari keras menjadi lembut), alangkah baiknya penggunaan dinamika decresscendo dibagian akhir yang berfungsi untuk menandakan berakhirnya komposisi. 

Melihat dari karya musik Minimalis oleh grup Kabaloka ini, apakah komposer musik lebih mengutamakan konsep musiknya saja, atau memang ingin melestarikan kesenian melalui kreativitas ?, apakah musik minimalis bisa dinikmati oleh masyarakat di perkampungan adat ? sedangkan  ciri khas musik minimalis memiliki repetisi (pengulangan) yang berdurasi sangat Panjang. Kesulitan dalam membuat karya minimalis adalah bagaimana membuat audience atau penonton tidak merasa bosan dengan pengulangan-pengulangan motif yang terjadi sepanjang karya.  


INFO BAWAH

Cara kirim tulisan ke Negeri Kertas: Tulis karya anda berupa PUISI/CERPEN/ARTIKEL + BIODATA narasi + FOTO penulis atau GAMBAR ilustrasi, semuanya dalam SATU LAMPIRAN email file Ms Word. Bagian paling atas bertuliskan JUDUL KARYA + NAMA PENULIS. Kirim ke email nkertas@gmail.com