CERPEN MUSIM PENGHUJAN Oleh: Muhammad Fatkhul A. - negerikertas.com

INFO ATAS

Lomba Cipta Puisi | DEADLINE 20 Februari 2023 | Apabila dalam 30 Hari, karya yang anda kirimkan di Negeri Kertas tidak dimuat, secara otomatis karya tersebut statusnya dikembalikan.

Jaringan Penulis dan Pembaca

Website Sastra dan Seni Budaya yang Terpercaya sejak 2015

1 Des 2022

CERPEN MUSIM PENGHUJAN Oleh: Muhammad Fatkhul A.

 MUSIM PENGHUJAN

Oleh: Muhammad Fatkhul A.


Musim penghujan mulai bertandang, undangan pernikahan pun mulai berdatangan.


***


Jam dinding menunjukkan pukul 19:00, Fata mulai bersiap-siap pergi memenuhi undangan yang diterimanya sejak satu minggu yang lalu. Ia ingin terlihat begitu menawan di acara pernikahan malam ini. Baju, celana, dan sepatu yang Ia kenakan baru semua, parfum satu botol pun tinggal separuh. Ia benar-benar ingin terlihat perfect pada acara malam ini.


Tin ... tin ... tin .... "Fat, ayo, cepat!" teriak Rio—teman Fata—setelah membunyikan klakson mobilnya yang terpakir di halaman rumah Fata sejak tiga puluh menit lalu.


“Iya,” teriak Fata sambil mengucir rambutnya dengan berjalan mendekati Rio.


“Bawel amat, sih. Nanti cepet tua, lo!” ejek Fata sambil tersenyum.


Rio hanya meringis sambil garuk-garuk kepalanya yang pelontos, padahal tidak gatal sama sekali.


***


Mobil sport berwarna merah itu melaju dengan kecepatan tinggi, Fata dan Rio tidak ingin tertinggal acara pernikahan yang hendak mereka datangi. Jarak 10 KM pun ditebas Rio dengan kurun waktu kurang lebih lima belas menit saja.


***


“Fat, kamu benar-benar sudah siap untuk bertemu Sila? Mantan kekasihmu,” Rio meyakinkan Fata.


“Sudah,” jawab Fata sambil menarik napas dan mengembuskan perlahan.


Mereka pun masuk ke acara pernikahan Sila dengan langkah lunglai. Fata dan Rio memilih tempat duduk paling depan, mereka ingin menyaksikan ijab kabul Sila dengan Reno–calon suami Sila–dalam jarak dekat.


Fata dan Sila hanya mampu berpandangan, tanpa ada kata terucap. Sekilas pun akan terlihat, jika kedua insan itu masih saling mencintai. Namun, restu orang tua Sila menjadi penghalang. Mereka tak menyukai Fata yang hanya seorang anak petani dan memilih Reno anak dari Pengusaha ternama. Sedari dulu Reno memang telah menyimpan rasa pada Sila.


Perlahan air mata Fata pun mengalir, karena tak kuasa membendung pedih—menyaksikan gadis yang ia cintai sebentar lagi menjadi istri orang lain.


“Fat, kamu tidak apa-apa?” tanya Rio.


“Ngak apa-apa, Rio,” sahut Fata.


“Kalau kamu tidak kuat menyaksikan ijab qabul Sila dengan calonnya, kita pulang saja!” Rio meyakinkan Fata.


“Ngak apa-apa, Rio,” sahut Fata, sembari mengusap air mata yang membasahi pipinya.


“Aku ke toilet bentar, ya, Ri? Lagian penghulunya belum datang juga,” ucap Fata sembari perlahan berdiri dari tempat duduknya.


“Iya, jangan lama-lama!” sahut Rio.


***


Tiga puluh menit telah berlalu, tetapi Fata belum juga kembali, membuat Rio khawatir. Ditambah lagi keresahan keluarga Sila, karena penghulunya belum juga datang.


Rio memutuskan beranjak untuk mencari Fata. Namun, baru saja berjalan beberapa langkah, listrik seketika padam. Membuat semua orang termasuk Rio semakin resah.


Para panitia acara pun sibuk membenahi aliran listrik, sedangkan Rio kelabakan mencari Fata.


Lima belas menit berlalu, aliran listrik kembali menyala. Akan tetapi keluarga Sila dan tamu undangan kian resah, karena Sila tidak ada di tempatnya.


***


Dret ... Dret ... Dret .... Telepon genggam ayah Sila berdering, ia pun segera merogoh saku celananya untuk mengambilnya.


“Yah, aku pergi dengan Fata. Aku dan Fata saling mencintai, Yah! Maaf, Yah! Aku terpaksa mengambil langkah ini, karena Ayah dan Ibu tidak merestui kami,” ucap Sila kepada ayahnya lewat telepon.


“Kamu mau pergi kemana, Sil? Apakah kamu sudah tidak sayang lagi sama Ayah dan Ibu, Sil?” tanya ayah Sila.


"Ayah tidak usah khawatirkan Sila, aku bisa jaga diri. Ayah dan Ibu yang tidak sayang sama Sila, jika Ayah dan Ibu sayang sama Sila, restui hubungan aku dan Fata! Bukan memaksa aku untuk menikah dengan Reno, laki-laki yang tidak aku cintai sama sekali,” ujar Sila.


“Apa yang kamu harapkan dari Fata, Sil? Kamu akan hidup susah jika bersamanya, berbeda jika kamu bersama Reno, kamu akan hidup tercukupi,” sahut ayah Sila.


“Harta bukan segalanya untuk Sila, yah. Jika Ayah dan Ibu tidak juga merestui hubungan Sila dan Fata, aku tidak akan pernah pulang kembali ke rumah!” ujar Sila pada ayahnya.


“Tapi, Sil! Sil ... tunggu Sil ... Sil ...!” 


Sambungan telepon terputus sebelum ayahnya Sila selesai bicara.


Tiba-tiba napas ayahnya tersendat-sendat dan akhirnya ia tak sadarkan diri


***


Hari telah berganti, mentari pagi kembali menerangi, burung-burung pun saling bersahutan melantunkan melodi.


Dret ... dret ... dret .... Telepon genggam Sila berdering, Ia pun segera mengambil dari tas mungilnya, lalu menempelkan di telinganya usai mengibaskan rambutnya.


“Halo, Sil! Ini Ibu, Ayah kamu kritis! Dia terkena serangan jantung usai teleponan dengan kamu tadi malam,” ucap ibu Sila lewat telepon.


“Apa? Ibu tidak bohong 'kan? Apa ini cuma akal-akalan Ibu dan Ayah, agar Sila mau pulang, iya?” Sila tidak percaya begitu saja dengan ibunya.


“Apa kamu sudah tidak percaya lagi dengang Ibu, Sil? Sampai-sampai keadaan genting seperti ini pun kamu anggap bohong. Sebegitu bencinyakah kamu sama Ibu dan Ayah?” ujar ibu Sila.


“Maaf, Bu! Tapi Sila sudah terlalu sering dibohongi Ibu dan Ayah, itu yang membuat Sila jadi was-was,” sahut Sila.


“Ya, sudah, jika kamu tidak percaya lagi sama Ibu, tidak apa-apa. Tetapi jika kamu masih ingin bertemu Ayahmu, datanglah ke rumah sakit ... kamar nomor tujuh! Ibu harap semuanya belum terlambat,” ujar ibu Sila.


“Tapi, Bu! Halo, Bu ... Bu ... Ibu ...!


Sambungan telepon terputus sebelum Sila selesai bicara dengan ibunya.


“Ada apa, Sayang?” tanya Fata pada Sila.


“Kata Ibu, Ayah terkena serangan jantung dan sedang dirawat di rumah sakit,” jawab Sila.


“Serius?” Fata memastikan ucapan Sila.


“Kata Ibu pas di telepon tadi sih, begitu. Tapi aku kurang yakin,” jawab Sila.


“Untuk memastikan kebenarannya, kita ke rumah sakit saja!” ajak Fata.


“Tapi, Fat ...,” sahut Sila.


“Sayang, aku sangat mencintaimu. Aku tidak ingin kita salah mengambil langkah dan menyesal di kemudian hari. Kita ke rumah sakit, ya, sayang!” Fata meyakinkan Sila.


“Ya sudah, kita ke rumah sakit!” Sila menyanggupinya.


***


Setelah menempuh perjalanan selama kurang lebih satu jam, Fata dan Sila sampai di rumah sakit ..., mereka bergegas menemui suster rumah sakit untuk menanyakan letak kamar ayah Sila di rawat.


“Sus, kamar nomor tujuh di mana?” tanya Sila pada suster.


“Mbak lurus saja, nanti belok kiri, kamar kedua dari belokan itu,” jawab suster.


“Bagaimana keadaan ayah saya, Sus? tanya Sila pada suster.


“Oh, Mbak putrinya Bapak Rahmat dan Ibu Rahmah, ya?” tanya balik suster.


“Iya, Sus,” jawab Sila.


“Keadaan Bapak Rahmat kritis, Mbak yang sabar, ya!” ucap Suster.


“A–apa? kritis, Sus?” sahut Sila.


“Iya, Mbak,” jawab suster.


Sila dan Fata pun bergegas ke ruangan ayah Sila di rawat.


***


“Ayah ... Ayah ...!” teriak Sila dari pintu kamar ayahnya dirawat.


“Sil, Ayah sangat senang kamu datang. Ayah dan Ibu sayang kamu, maafkan Ayah dan Ibu, ya!” ucap ayah Sila dengan napas tersengal-sengal.


“Iya, Sil. Maafkan Ibu dan Ayah, ya! sahut ibu Sila.


“Ayah dan Ibu tidak usah minta maaf, Sila yang seharusnya minta maaf. Sila juga sayang Ayah dan Ibu,” jawab Sila.


“Fat, kemari!” seru ayah Sila pada Fata.


“Iya, Om,” jawab Fata sambil berjalan mendekati ayah Sila.


“Aku merestui hubungan kamu dengan Sila, jaga dia baik-baik, ya? Karena Om sudah tidak bisa jaga Sila lagi,” ucap ayah Sila pada Fata dengan napas yang semakin tersenggal-senggal.


“Iya, Om. Pasti,” jawab Fata.


“Ayah tidak boleh bicara begitu! Ayah pasti sembuh, Ayah harus sembuh!” sahut Sila dengan suara bercampur tangis.


“Sekali lagi, ma–maafkan A–Ayah dan I–Ibu, ya ...,” belum selesai bicara pada Sila, ayah Sila sudah menutup napasnya untuk selama-lamanya.


“Ayah ... Ayah ...!” jerit Sila memecah keheningan.


Tamat.


#Repost, Desember 2020


***

Bionarasi:

Muhammad Fatkhul A. Ialah nama pena dari M. Fatkhul Arisfudin. Ia lahir di Jombang, Jawa Timur pada tanggal 10 Oktober beberapa tahun silam. Racikan aksara yang Ia olah telah tersaji di beberapa media online dan beberapa Antologi bersama, dan salah satunya terkemas pada Antologi Puisi Jazirah Sebelas: Laut dan Kembara Kata Kata. Ia juga Peraih Anugerah Negeri Kertas | SUMPAH PEMUDA 2022.

Ia berharap setiap tulisan yang dihidangkannya dapat memberi manfaat untuk pembaca dan juga dirinya sendiri.

Ia bisa disapa lewat WA: +62 858-5126-3177 atau FB: https://www.facebook.com/fatkhul.fatkhul.52012?mibextid=ZbWKwL


INFO BAWAH

Cara kirim tulisan ke Negeri Kertas: Tulis karya anda berupa PUISI/CERPEN/ARTIKEL + BIODATA narasi + FOTO penulis atau GAMBAR ilustrasi, semuanya dalam SATU LAMPIRAN email file Ms Word. Bagian paling atas bertuliskan JUDUL KARYA + NAMA PENULIS. Kirim ke email nkertas@gmail.com