Anak Broken Home Tidak Selalu Buruk - negerikertas.com

INFO ATAS

Lomba Cipta Puisi | DEADLINE 20 Februari 2023 | Apabila dalam 30 Hari, karya yang anda kirimkan di Negeri Kertas tidak dimuat, secara otomatis karya tersebut statusnya dikembalikan.

Jaringan Penulis dan Pembaca

Website Sastra dan Seni Budaya yang Terpercaya sejak 2015

25 Des 2022

Anak Broken Home Tidak Selalu Buruk


Oleh : Ella Dyah Pitaloka Mahasiswa Universitas Sebelas Maret



Ilustrasi-Broken-Home.jpg

(sumber : swakarya.com)


Broken home merupakan kondisi dimana keluarga mengalami perpecahan dan terputusnya struktur peran anggota keluarga yang gagal menjalankan kewajiban dari peran mereka. Pengertian broken home juga dapat dilihat dari dua aspek, yaitu broken home karena struktur keluarga tidak utuh dikarenakan perceraian. Ada juga kondisi dimana orangtua tidak bercerai, tapi struktur keluarga tidak utuh karena salah satu orangtua meninggalkan rumah atau tidak memberi kasih sayang lagi dengan anak dan pasangannya.

Broken home terjadi karena ada beberapa faktor yang mempengaruhi. Kondisi pecahnya struktur keluarga sangat berdampak pada anak. Anak adalah dampak pertama dari pecahnya struktur keluarga dan orang pertama yang sangat dirugikan dari masalah ini.

Dari pecahnya struktur keluarga bisa membuat anak menjadi trauma bahkan mengalami ganguan psikologis. Tumbuh dan berkembang dalam keluarga yang tidak harmonis dapat menyebabkan psikologis anak terganggu. Anak-anak broken home akan lebih mengerti apa itu arti kehilangan sesungguhnya, terkadang mereka juga merasa dunia tidak adil.

Banyak orang yang berspekulasi bahwa anak-anak yang berasal dari keluarga tidak utuh akan menjadi pribadi nakal, suka menyendiri, tidak bisa berekspresi dengan baik, dan tidak bisa sukses seperti yang lainnya. Semua itu salah, justru anak-anak broken home memiliki kelebihan yang tidak dimiliki anak-anak normal lainnya.

Tidak semua anak korban broken home memilih jalan yang salah dalam menghadapi perpecahan keluarga. Mungkin memang ada dari beberapa anak broken home mengekspresikannya dengan hal-hal negatif, tetapi ada juga yang menjadikannya sebuah motivasi. 

Misalnya saya, saya termasuk korban broken home dari 2 tahun lalu. Tentu terkejut dan tidak pernah terpikirkan sama sekali. Awalnya memang berat, perasaan merasa tidak adil, kecewa, sakit hati, ingin menyerah pasti ada. Saya membiarkan semua perasaan itu melebur dalam diri saya. Karena perasaan kecewa, marah, dan sakit hati adalah hal wajar malah akan terdengar aneh jika saya tidak sedih. Anak mana yang tidak sedih saat tahu bahwa keluarganya sudah tidak seutuh dulu.

Setelah orang tua sudah resmi bercerai perasaan kehilangan sangat terasa. Dan ini berdampak pada proses belajar, apalagi saat itu pembelajaran dilakukan secara daring. Sempat terpikir untuk apa melanjutkan sekolah, karena keadaan juga tidak akan berubah. Itu masa-masa dimana hanya kesedihan yang membelenggu diri.

Namun setelah itu saya berpikir, mau sampai kapan berlarut-larut dalam kesedihan dan stuck di masalah orangtua yang sudah berpisah. Mau jadi apa dimasa depan nanti?

Mungkin beberapa waktu lalu kebahagian saya sempat diambil, tetapi saya harus bisa menciptakan kebahagian baru lagi untuk bertahan. Saya mulai menyibukkan diri dengan melakukan banyak hal positif seperti kerja kelompok, makan makanan enak yang banyak, dan mengunjungi tempat-tempat indah bersama sahabat-sahabat saya. Kita harus menemukan semangat baru untuk memulai semuanya.

Contoh lainnya bahwa tidak semua anak broken home itu rusak misalnya, mantan orang nomor 1 di Indonesia Pak Susilo Bambang Yudhoyono. Orang tua beliau bercerai saat beliau masih remaja. Beliau bertekad untuk mengubah hidupnya sambil berkata “di persimpangan itu saya bersumpah harus keluar dari situasi broken home dan menjadi seseorang”. Kata-kata itu pun terbukti dengan beliau menjadi presiden RI selama 2 periode.

Banyak faktor yang menyebabkan beberapa anak broken home memilih jalan yang salah. Tetapi kita harus bisa menolong diri kita sendiri. Mencari lingkungan yang sehat untuk mengembangkan diri dan tidak terpaku dengan kesedihan. Tidak masalah untuk bersedih, tetapi jangan sampai kesedihan mengambil alih semua hidupmu. Jangan selalu melihat dari sisi negatifnya, kadang kala kita perlu mengambil sisi poritifnya untuk tetap waras.

Jadi walaupun orang tua  bercerai atau merasa kelurga kalian tidak seperti dulu, itu bukan akhir dari segalanya. Angkat bahu kalian dan buktikan kepada semua orang bahwa kalian akan hidup lebih baik dari orang-orang diluar sana walaupun kalian bukan berasal dari keluarga yang utuh.


INFO BAWAH

Cara kirim tulisan ke Negeri Kertas: Tulis karya anda berupa PUISI/CERPEN/ARTIKEL + BIODATA narasi + FOTO penulis atau GAMBAR ilustrasi, semuanya dalam SATU LAMPIRAN email file Ms Word. Bagian paling atas bertuliskan JUDUL KARYA + NAMA PENULIS. Kirim ke email nkertas@gmail.com