P E N C E M B U R U | AR. Zanky - negerikertas.com

INFO ATAS

Ayo menulis puisi untuk memperebutkan ANUGERAH HAK ASASI MANUSIA. Deadline 10 Desember 2022 | Apabila dalam 30 Hari, karya yang anda kirimkan di Negeri Kertas tidak dimuat, secara otomatis karya tersebut statusnya dikembalikan.

Media Sastra dan Seni Budaya

email nkertas@gmail.com | WA 628888710313

4 Okt 2022

P E N C E M B U R U | AR. Zanky

  P E N C E M B U R U | AR. Zanky



aku cemburu pada serbuk sari yang begitu khidmat

membuahi rahim alam

hingga buah-buah kehidupan ranum menggiurkan

aku cemburu pada lelembut angin

yang dengan santun dan penuh kesadaran menggugurkan dedaun

kepasrahan penuh kemesraan

aku cemburu terhadap kicau burung-burung di dahan

kemurnian swara yang menetes ke cermin kebeningan

aku cemburu pada ibu yang mengisak malam-malam

cengkrama akrab tenang keabadian

aku cemburu pada pengemis penyusur jalanan

ketelitian cinta penuh kesyukuran

aku cemburu pada gunung-gunung, langit

laut, matahari si pengeras hati jantan

pada keluguan, pada tiap wangi

yang menguar dari kebersahajaan alam

aku cemburu Tuhanku!

Perahu alitku tak tertahan

menjelma ikan-ikan, dewa ruci pencarian 

kutunggangi gelombang siang malam

menyusup bersama angin ke pulau-pulau terlarang

berikhtiar menyadap bisik kesejatian,

kutenggak bergalon-galon arak tajalli

yang merasuk di garis lintang, pusaran topan

rangkaian bintang yang tak berkesudahan-

kini terdampar di pulau dulu lagi,

aku cemburu

pada wajah-wajah polos yang menatap misteri kehidupan

dengan semarak pagi keremajaan,

ingin aku bermetamorfosa

jadi kepompong wahyu, kehijauan daun, oase di padang pasir

jadi teduh kearifan rembulan

jadi suara binatang hutan yang menggemakan adzan

jadi akar-akar yang menerobos kedalaman

jadi lebah yang menyarikan kesehatan

jadi hakikat zat cinta yang mengada di sembarang jelmaan,

aku cemburu pada alam yang begitu mesra bergayut

dalam sembarang manifestasi Tuhan


Yogya, 31 Okt. 1997

G E N D E R A N G


masih pekat mengendap air mata

dalam warangka silsilah kita

semalam

seseorang tiba-tiba menghunusnya

maka tertikam lagi duka, cintamu cuma kosong kealpaan

perang dan hantu kecurigaan-

generasi mana tak dibuatnya bangga?

kita berkabung guna memancing kasih Tuhan

sebab terasa hari tak bisa berlanjut

cerita demi cerita akan tertutup,

tapi masih juga orang menabuh genderang bertalu

pengiring lagu kematian selalu


Gambut, 26 Nop. 1998






I N   S O L I T U D E


Tak kumengerti gelisah eksistensi ini;

langit sepi, angin beku

bumi terlantar dalam kemarau doa

kotapun berkaca-kaca pelupuknya


ada guratan asing pada daun kering

terbawa nusim dari dunia hening,

aah, bahagia yang tak lengkap

misteri maut tak tertangkap


ada hati meriap pelan

dan jiwa menyanyi sendiri,

tapi kau tak peduli


Tuhanku

Mengapakah sering

Kau, aku, dunia begitu asing?


Gambut, 19 Nop. 2001

I N T E R M E Z O


Ketika listrik padam

serentak dunia memasuki benak kegelapan

merinci kembali bunyi-bunyian;

kibasan sayap kalong, dekut tekukur di semak belakang

juga bunyi pasukan rayap yang makin dekat melobangi dinding

waktu

betapa ajaib

barusan kita ditipu iklan habis-habisan

menelan ludah berulang saat sang bintang mengangkang

dan debat konyol para politisi itu

seakan rukun agama yang haram ditinggalkan


Ketika listrik padam

bintang-bintang bermunculan

cahaya bulan terasa menyejukkan,

pikirmu:

“mungkin beginilah situasi abad pertengahan

suram layaknya malam

filsuf dan penemu itu sungguh lahir dari rahim alam,

di tenngah gelimang kemajuan

untunglah kita masih punya ratusan suku terasing di pedalaman

beratus ribu anak jalanan

para pelacur yang membanjiri taman remang-remang

gerombolan urban yang saban malam tersaruk

mengusung kardus mencari ketiduran, 

boleh diharap mereka akan menelorkan seniman,

pemikir radikal, mujaddid teknologi, pemua siber-

sisakan beberapa untuk berperan sebagai bajingan.”


dalam bilik selimut kabutnya

sang malam belum juga bisa memejamkan mata

sungguh terusik semedinya

oleh omong kosong yang itu-itu juga


Gambut, 25. Okt. 2012






P E M B U R U


Setelah bosan nonton televisi

dibukanya lemari untuk menyeduh kopi,

“alangkah bagus jika aku dapat inspirasi,” pikirnya

“toh malam tak bisa dikebiri,

akan diuruknya dunia dengan sunyi hingga pagi.”

dalam sebuah buku sejarah ia diberitahu

separuh bumi pernah diperintah

para penunggang kuda buta aksara

bangkit dari kegelapan belantara seiring lolong serigala

laksana air bah merambah kota-kota

di zaman para pelancong dapat dengan mudah

menemukan gerombolan orang arif bijaksana

berlompatan layaknya primata,

“orang tolol dan bijak kadang sama

dalam urusan kuasa-menguasa,” gumamnya ogah-ogahan

sampai sepuluh kali ayam berkokok

belum juga datang si kantuk

“beginilah resiko bujang karatan…”


Pernah memang di lamarnya beberapa kata kunci

yang dikiranya bisa melayani hati,

lama ditunggunya depan pintu gua

gaung suara rahsia

yang bisa buka portal itu logika

hingga pagi

sang pemburu masih mengotak-atik radio

mencari-cari frekuensi ke seantero galaksi

menguntit pesan abadi

yang mungkin mampu mengakhiri abad-abad sunyi


Gambut, 23 Jan. 2014 


AR. Zanky alias Abdurrazzaq Zanky, lahir 5 Juli 1976 di desa Tambak Sirang Laut, 

Kalimantan Selatan. Sejak remaja hobi menulis puisi. Ia mendapat bimbingan dan ap-

resiasi dari penyair senior H.Hijaz Yamani, dalam acara beliau yang bertajuk UNTAI-

AN MUTIARA SEKITAR ILMU DAN SENI, di RRI Nusantara III Banjarmasin.


HP/WA  0859 2437 2751

 



INFO BAWAH

Cara kirim tulisan ke Negeri Kertas: Tulis karya anda berupa PUISI/CERPEN/ARTIKEL + BIODATA narasi + FOTO penulis atau GAMBAR ilustrasi, semuanya dalam SATU LAMPIRAN email file Ms Word. Bagian paling atas bertuliskan JUDUL KARYA + NAMA PENULIS. Kirim ke email nkertas@gmail.com