005

header ads

Puisi: Terlalu Pagi | Ahmad Sulton Ghozali

 Terlalu Pagi

| Ahmad Sulton Ghozali


Terkadang tiba terlalu pagi

di tujuan dan tanpa seorang lagi


sering sarapan hanya dengan roti

yang sudah diajak keliling sejak dini

juga tak melewatkan secangkir kopi

tetap saja ruangan ini menghantui 

kecuali menanggung sepi sendiri

yang seharusnya mendapatimu di sini


mungkin pagi memang diciptakan

supaya aku lebih dahulu merindukan

sebelum panas dan cahaya berkelindan

dan kita mengeluh jika waktu berjalan

terlalu cepat dari yang diperkirakan


sementara beberapa waktu ke depan,

kau terburu-buru pergi meninggalkan.


2022



Bertahan


Jarak kepada ruang

seperti halnya 

jeda kepada waktu


menimbun usia

semakin dewasanya

semakin mentah-mentah

menelan kenyataannya


mungkin bukan ujian

lebih banyak pengorbanan

tiada lain yang bisa dilakukan

menunggu atau tanpa kepastian


tak selalu ada

hikmah di setiap kesulitan

laksana cahaya setelah hujan


setidaknya, bertahan

untuk hati yang dikuatkan

dan doa yang disemogakan.


2022


Mengekalkan Mimpi


Berikan beberapa malam yang berisi mimpi-mimpi burukmu

segera akan kuhindarkan dari kenyataan

sejauh-sejauhnya, supaya kau bisa terlelap kembali

setenang-tenangnya, sementara hanya tersisa dalam kekal yang

baik-baik, seiring bangunmu nanti,

seiring bahagiamu nanti.


2022

Ahmad Sulton Ghozali. Sering menulis untuk mengisi waktu luang dan hati yang berlubang. Beberapa hasilnya adalah kumpulan puisi "Merancang Mesin Waktu" (Berpuisi Publishing, 2022) dan "Berdamai dengan Air Mata" (Jejak Publisher, 2021). Media sosial: @anginraga.








Posting Komentar

0 Komentar