005

header ads

KALI LAIN (Puisi KINANTHI ANGGRAINI)

 KALI LAIN 


pangkal lengahnya kehilangan 

pada simbol api pada lilin-lilin 

mengambil rasa rindu dari residu

rasa sakit 

membuat sepucuk kesadaran telah

berganti kulit 


dengan sabar, berjinjit dintara duri 

sambil menelusuri aroma ujung hati 

terkubur begitu saja saat tak lagi

diingini

menerima rasa pahit, menghampiri


sejak daun-daun berguguran 

kau tak lagi berkenan membalas pesan 

dan akupun tak lagi mengirimkan kembali

untuk sekedar menanyakan, apa yang terjadi

seketika berhenti, hidup dalam jalur sendiri 


sambil menahan rasa penasaran 

untuk ketulusan yang telah terlupakan 

akan batasan untuk menanyakan rindu

sebuah ingatan, tak lagi perduli tentangku.

RUMAH KENANGAN 


demikian, gubuk hunian sederhana 

                  memintal jari-jari ruas bambu

                  beratap silang daun rumbia

                  tempat tinggal desir paru-paru

                  penawar sakit ruang tunggu 


berpagar barisan angin berparas embun 

pintu pekarangan menyambut hujan turun

sebaris bunga mawar menghantar sambutan

mengusir kepenatan, panjangnya perjalanan 


sementara, di kursi beranda ia menunggu 

sembari menyiapkan hati, mendengar keluhmu 

setia menyimak tangis, tawa, dan kecewa 

dari anak rantau yang kembali padanya 


berpesan nasehat dan semangkuk harapan

bagi kerasnya hidup bernama impian. 






RINAI MATA IBU 


di doamu,

ada keinginan yang harus terbelah 

antara panggilan, jarak dan pemisah

untuk tetap mengerahkan penjagaan 

oleh dimensi yang enggan terkalahkan 


ialah yang rajin meramu menu sesaji 

saat seorang anak datang untuk kembali 

sembari memintal ragam benang-benang 

menjadi sapu tangan dan kunang-kunang

untuk menyeka gerimis berderai di wajahmu

dan penerang jalan kembali ke rantauanmu 

membekali senyuman tabah dan rela

dengan ruas dada yang sanggup menerima 


sembari mengabaikan duri-duri kerinduan

untuk pertemuan yang tak mungkin kerap

kau wujudkan. 






 







KINANTHI ANGGRAINI

Lahir di Magetan, Januari 1989. Karya-karyanya pernah dimuat di 77 media massa, antara lain Horison, Media Indonesia, Wilayahku (Malaysia), New Sabah 360 (Malaysia), Indopos, Republika, Suara Merdeka, Pikiran Rakyat, Basis, Sinar Harapan, Riau Pos, Banjarmasin Post, Lampung Pos, Solopos, Suara Karya, Bali Post, Tanjungpinang Pos, Minggu Pagi, Sumut Pos, Bangka Pos, Malang Pos, Sagang, Joglosemar, Radar Bojonegoro, Radar Banyuwangi, Radar Surabaya, Radar Bekasi, Radar Cirebon, Radar Madiun, Fajar Makasar, Harian Rakyat Sultra, Kabar Madura, Radar Banjarmasin, Persada Sastra, Rakyat Sumbar, Swara Nasional, Bangka Belitung Pos, Ogan Ilir Ekspres, Haluan, Koran Madura, Medan Bisnis, Mata Banua, Metro Riau, Tribun Bali, Pos Bali, Ekspresi, Bong-Ang, Majalah Mimbar Pembangunan Agama, Puailiggoubat, Cakrawala, Suara NTB, Duta Selaparang, Jurnal Masterpoem Indonesia, Jurnal Puitika, Jurnal Kopi, Fajar Sumatera, Buletin Pawon, Buletin Hayati, Buletin Provokatif, Buletin Mantra, Buletin Kanal, Buletin Jejak, LPM Kentingan, Rimanews, Janang.id, Inilah online.co, Viva.co, Aktualita.co, Liputan6.co, Majalah Potret (Aceh), Majalah Oasis, Majalah Puraka Sastra, Harian Pagi Satelit Pos , Warta Priangan, Cakradunia,  Puisi Pedia, CeritaNet, Rusa Spemutu, Apajake Magazine, dan Majalah Elipsis. 

Karya-karyanya dapat dijumpai di situs amazon.com, google play, dan google books. Dan juga terindeks di Google Scholar.

Prestasi lain yang diraihnya yaitu menjadi Juara 1 Puisi Terbaik pilihan Gerbang Sastra, Bali (2014). Buku puisi tunggalnya yang telah terbit berjudul Mata Elang Biru (Pustaka Puitika, 2014) dan Buku duet yang berjudul Pelajaran Kincir Angin (Buku Katta, 2017) menjadi referensi di Leiden University Library (Leiden, Belanda).


Puisinya juga termaktub dalam belasan buku antologi bersama. Alumnus Pascasarjana Pendidikan Sains UNS ini pernah  menjadi model Hijab Moshaict tahun 2011 dan meraih Juara II pada Lomba Tutorial Hijab yang diadakan oleh Koran Bogor 2015. 


Posting Komentar

0 Komentar