Puisi : Tuan Haji Murad | Deni Wijaya - negerikertas.com

INFO ATAS

Ayo menulis cerpen atau puisi untuk memperebutkan Anugerah Kesaktian Pancasila. Deadline 1 Oktober 2022 | Kirim ke email nkertas@gmail.com

Media Sastra dan Seni Budaya

email nkertas@gmail.com | WA 628888710313

17 Mei 2022

Puisi : Tuan Haji Murad | Deni Wijaya

 Puisi : Tuan Haji Murad

 |  Deni Wijaya


Mengibas lipatan pada setelan baju batik bermotif kawung dan celana hitam agak kusam. 

Mengencangkan ikat pinggang warna hijau tua khas Arab. 

Tubuh tambun dengan perut buncitnya nampak menonjol seakan mau lepas kancing bajunya. 

Menyeka keringat di wajahnya, mengusap-usap janggut sambil membetulkan posisi kopyah. 

Mengelus perut buncitnya dan beranjak menghampiri mobil sedan tua kesayangannya.

Di sepanjang jalan banyak orang memberi hormat padanya. 

Sebagai  tuan tanah, semua itu sudah biasa, jadi dia tidak terlalu memperdulikannya.

Sesampainya di pasar, dia bergegas turun dari mobilnya. 

Sepatu barunya menimbulkan suara decit, mengiringi setiap langkah kakinya.

Hampir setiap orang yang dilewati menyapanya, “Tuan Haji, hari ini aku belum bisa bayar setoran, besok ya Tuan? Aduh, Tuan Haji, saya akan bayar bunganya saja!”

Seolah-olah dirinya mendadak menjadi selebriti terkenal yang penuh dengan gosip.

 Banyak orang-orang kasak-kusuk tentang dirinya. 

Namun dia tidak peduli dengan itu semua. 

Dia mempunyai seorang istri, meski dia  sebenarnya tak terlalu menyukainya.

Yang sangat menggusarkan hatinya adalah karena mereka belum juga memiliki anak setelah beberapa tahun menikah. 

Menikah lagi, tidak. 

Menurutnya, istri kedua hanya akan menambah sial saja. 

Lagipula istrinya cantik, seksi dan masih muda. 

Selama ini tak pernah terpikir sekalipun untuk menceraikan istrinya.

Namun dia  tak bisa menghentikan kebiasaannya mengasari istrinya.

Langkahnya semakin cepat menyusuri lorong-lorong di sekitar pasar. 

Tiba-tiba ada seorang anak laki-laki yang sengaja menabraknya dari belakang. 

Dan alangkah kagetnya  saat dia tahu dompet di saku sabuknya telah hilang. 

Sumpah serapah keluar dari mulutnya.

Dan  baru menyadari bahwa dia telah kecopetan. 

Dia berniat  melaporkan kejadian itu ke kantor kepala keamanan pasar.

“Dasar tak tahu malu, kehilangan uang sedikit saja sudah membuat orang sepasar repot. Pelit, dasar haji palsu!” sahut sebagian orang di pasar.

Keringat dingin membasahi pakaian yang dikenakannya.

Kepalanya terus menunduk, dirinya masih dipenuhi amarah. 

Dalam hati dia bergumam, "Siapa anak itu, dia belum tahu berhadapan dengan siapa, Haji Murad!"

                                                             




 


Nama saya Deni Wijaya, panggil saja Deni. Aku dilahirkan di kota Malang. Saat ini aku tinggal di Jalan Candi 2 Gang Nusa Indah RT 10 RW 02 no. 612 Karang Besuki, Sukun, Malang. No. WA. 081945709771 email : deniaditamawijaya@gmail.com


INFO BAWAH

Cara kirim tulisan ke Negeri Kertas: Tulis karya anda berupa puisi/cerpen/artikel + biodata narasi + foto penulis atau gambar ilustrasi, semuanya dalam satu lampiran MS Word. Kirim ke email nkertas@gmail.com