[TERBAIK] Puisi Sukma Putra Permana | KAMU, BUKU, AKU, RINDU. - negerikertas.com

INFO ATAS

Ayo menulis cerpen atau puisi untuk memperebutkan Anugerah Kesaktian Pancasila. Deadline 1 Oktober 2022 | Kirim ke email nkertas@gmail.com

Media Sastra dan Seni Budaya

email nkertas@gmail.com | WA 628888710313

15 Mei 2022

[TERBAIK] Puisi Sukma Putra Permana | KAMU, BUKU, AKU, RINDU.

PENERIMA ANUGERAH PUISI TERBAIK

DALAM RANGKA HARI BUKU NASIONAL 2022


Sukma Putra Permana |

KAMU, BUKU, AKU, RINDU.


Dua belas tahun berlalu./

Sejak terakhir aku merindu./

Di sebuah lorong rak-rak buku./

Perpustakaan tua di kotamu./

Detak jantungku berirama tak tentu./

Di tengah himpitan ribuan buku./

Terembus dengus halus hidungku./

Menggelitik rongga mengaroma debu./

Mencari-cari sebuah buku./

Bertuliskan sebait pesan darimu.//


Dahulu pernah kau goreskan./

Pada telapak tanganku./

Sebuah tanda perjanjian./

Untuk melalui ujian waktu./

Tak saling berseru dan berseteru./

Apabila terlambat datangnya rindu./

Tapi ia bebas liar berlarian./

Hingga hilang dari benakku./

Tanpa kendali lepas terbang./

Kembara menuju segala penjuru.//


Dua belas tahun berlalu./

Rindu pergi dari pelukanku./

Kembali ia bersemayam haru./ 

Bersama sendu dalam sukmaku./

Setelah jelas terbaca kata-katamu pilu./

Tertulis pada halaman sebuah buku./

Di antara rak-rak kayu berdebu./

Perpustakaan tua itu./

Satu hal yang sudah tentu./

Rindu ini perlahan-lahan membunuhku./



AGUSTUS 2017

Sukma Putra Permana


DI TOKO BUKU "RELAY", BANDAR UDARA CHANGI, SINGAPURA.



Jet lag dan pening di kepala./

Langit jingga di sudut mata./

Lepas landas kata-kata./

Angsa-angsa liar terbang ke utara.//


Di Toko Buku "Relay"./

Sembari mengisi waktu delay./

Terlihat sederet kalimat dalam huruf tak biasa./

Tak kumengerti bentuk dan bunyinya.//


Tapi aku paham sesuatu dari dasar kalbu./

Sedikit debar asmara mengkhawatirkanmu./

Ketika kau terjemahkan aksara-aksara bisu./

Ke dalam bahasa rindu.//


Dari kedalaman pandang sayu segaris matamu./

Di bawah rinai Hujan Kinetis Biru./

Sebaris senyum di mungil bibirmu./

Membuai perasaanku jadi tak menentu.//


Tiba-tiba, tanpa kusadari./

Telah hangat dan meronalah pipiku.//



MARET 2017

Sukma Putra Permana


DALAM TULISAN KEABADIAN



Telah kukumpulkan satu demi satu kata. Ramai berhamburan di langit-langit kamar sederhana. Di dalam lingkaran perbincangan yang sesekali dihiasi gelak tawa. Atau perdebatan di tengah riuhnya garis-garis hujan. Yang jatuh membasahi beranda dan halaman. Ketika malam semakin tenggelam tak tertahankan.


Telah kutulisi helai demi helai kertas hampa. Mewujud sebuah kisah petualangan. Setelah takjub memandang kilau bianglala. Di antara kisah-kisah perjalanan. Dalam catatan-catatan angin tentang cuaca. Yang tak tentu arah dan tak lagi dapat diramalkan.


Telah kuhiasi hari demi hari penuh warna. Demi mengobati segala kebosanan. Yang selalu menarik-narik rambutku nan memutih menjelang senja. Menghilangkan rasa ngeri tentang kesepian. Menggilas kerasnya jalanan fana. Menuju indahnya negeri impian.


Dan semua itu bermula pada suatu masa, ketika kau menyambutku sambil mengatakan:

"Selamat datang dan nikmatilah, kehidupan dalam tulisan keabadian."



DESEMBER 2016

C:\Users\admin\Pictures\2022-01-09\039.jpg


BIODATA RINGKAS: SUKMA PUTRA PERMANA lahir di Jakarta tahun 1971. Giat berproses kreatif sebagai Penulis Puisi dan Editor Naskah Buku di Komunitas Belajar Menulis Yogyakarta. Banyak terlibat dalam penerbitan buku-buku antologi bersama. Buku puisi tunggalnya: Sebuah Pertanyaan Tentang Jiwa Yang Terluka (2015) dan Dia Yang Terjatuh Di Rimba Dunia Ketika Satu Sayapnya Patah (2021). Sekarang tinggal di Bantul, D.I.Yogyakarta.

WA: 081 3920 18181. FB: Sukma Putra Permana. E-mail: sukmaputrapermana1@gmail.com


INFO BAWAH

Cara kirim tulisan ke Negeri Kertas: Tulis karya anda berupa puisi/cerpen/artikel + biodata narasi + foto penulis atau gambar ilustrasi, semuanya dalam satu lampiran MS Word. Kirim ke email nkertas@gmail.com