Puisi Sulistyo - negerikertas.com

INFO ATAS

Share link karya anda ke banyak orang agar mendapat peluang besar untuk meraih Anugerah Sastra dari Negeri Kertas, dengan kriteria karya kualitas terbaik dari 10 karya dengan pembaca terbanyak. Berhadiah uang tunai dan piagam penghargaan.

Media Sastra dan Seni Budaya

WA 628888710313 | Email nkertas@gmail.com

1 Apr 2022

Puisi Sulistyo

 

SUATU MALAM DI AKHIR BULAN MARET 

 

Suatu malam di akhir bulan maret 

Tidak pernah ada kisah apapun yang bisa ditulis 

Semua hari-hari datar dan kering 

Seperti daun mangga rapuh yang jatuh di halaman depan rumah 

Tapi kupaksakan tetap menulis, walaupun akhirnya harus kulempar huruf-huruf yang berjejalan memenuhi paragraf itu ke keranjang sampah 

 

Hujan malam ini tiba-tiba berhenti 

Hanya beberapa menit 

Deras 

Tak membuat malam kedinginan 

Genangan air di jalanan berlubang, menyimpan wajah pucat rembulan 

Hampir saja terinjak perempuan tua berkerudung kain sarung yang berjalan tergopoh menerobos gulita 

Apakah ini kisah akhir bulan maret yang menarik untuk ditulis?

Tidak 

Perempuan tua berkerudung kain sarung itu tak ubahnya bayangan kekecewaan yang menggelayuti malam 

Dia selalu melewati jalanan itu setiap sunyi dini hari 

Wajahnya tak pernah kulihat 

Tapi aku tahu dia seorang perempuan tua dari suaranya yang selalu memanggil-manggil nama seorang lelaki entah siapa 

Beratus kali aku melihatnya lewat di bawah cahaya lampu di jalanan itu saat duduk di kursi di atas balkon seraya menghisap cerutu 

Suaranya menyayat, hampir seperti lolongan serigala malam yang kehilangan rembulan 

 

Suatu malam di akhir bulan maret 

Kisah apakah yang harus kutulis agar malam ini tak berlalu sia-sia 

Agar hari yang kulalui tak hilang begitu saja 

Bahkan hujan malam ini yang hanya sebentar pun meninggalkan genangan yang menyimpan wajah rembulan 

Walaupun pucat seperti mayat 

 

Keranjang sampah di sampingku mulai berontak 

Tak muat menampung huruf-huruf yang kulempar 

Meluber dan muntah berleleran di lantai seperti darah 

Huruf-huruf itu berteriak marah 

Mereka berebutan merambat ke jari-jari kaki

Lalu bergerak cepat menelusup di pahaku, di perutku, di tanganku, di kepalaku 

Bergerak sangat buas dan liar melilit membelit seluruh tubuhku 

Napasku sesak 

Pandanganku gelap 

Aku roboh 

Apakah aku mati?

 

Samar terdengar suara menyayat perempuan tua berkerudung kain sarung memanggil-manggil namaku dari kejauhan 

Secepat tamparan kilat, tubuhku melenting ke dalam genangan di tengah jalan bertindihan dengan wajah bulan pucat yang hampir mati megap-megap

 

Aku sekarat 

Dalam kesendirian yang menjerat 

 

 

Mulya Asri, 31 Maret 2022

 

 

Sulistyo 

Lahir dan besar di Kudus. Puisi-puisinya terkumpul dalam buku antologi tunggal Episode Bulan, Aku Ingin Kembali Menulis Puisi, Sajak Pendek Untuk Tuhan, Jejak, Suatu Ketika, dan Masih Ada Hujan di Pagi Bulan Juni. Berprofesi sebagai Disc Jockey (DJ).




 

INFO BAWAH

[ Dukung peningkatan honor penulis karya terbaik dengan cara klik iklan yang ada di website ini. Untuk berhenti mendapat info dari NK, caranya ketik UNREG kirim ke nkertas@gmail.com ]