PUISI Ibnu Sya'nah SIMPANG SIUR LANGKAH - negerikertas.com

INFO ATAS

Ayo menulis cerpen atau puisi untuk memperebutkan Anugerah Kesaktian Pancasila. Deadline 1 Oktober 2022 | Kirim ke email nkertas@gmail.com

Media Sastra dan Seni Budaya

email nkertas@gmail.com | WA 628888710313

29 Apr 2022

PUISI Ibnu Sya'nah SIMPANG SIUR LANGKAH

PUISI Ibnu Sya'nah

SIMPANG SIUR LANGKAH


tiada puing karena iya, tiada

bangunan. tiada kisah-kisah

di hidup seorang belantara,‎

mematung sebuah pahatan

dari pena


di penghabisan, bahkan saya pun

belum mencantumkan judul

pada selanskap hidup

2 Rabiul Akhir 1443. MUSALA DSA‎.


PADA SELANSKAP HIDUP

penyair itu berjibaku hening waktu

menyusun telur-telur renung

namun isinya entah kotoran ‎atau

burung perkutut yang sedia bernyanyi

ia tak tahu


mengerami berpuluh-puluh tahun

di kantung tasbih

di ujung tahanan di aliran sungai

sebelum ‎ia dibebaskan

bermandi tulus yang terus memandang

langit dari celah dinding


ia adalah aku ‎yang tersesat pada

jiwa bersembah kekal nama

surga merupakan anak-anak sajak

yang belum dewasa

jika patah pucuk pensil atau

kertasku ‎kabur dari genggam,

paling semesta telah dikutuk


tak ada telur-telur meluncur dari awan, tuh.

‎tak ada pelangi dalam jelita gadis relung hati, tuh.

barangkali neraka tenar menjamur pada

‎setapak tangan yang mengukir manuskrip, lalu

bakal prasasti itu pecah.


surga berdecit marah: ‎habisnya sih,

kau buat aku bukan janah.

1 Rabiul akhir 1443. DSA LT 2.


Gambar: pinterest.














PENDAKI MIMPI

di puncak gunung tertinggi di sanalah dingin menjelma dalam napas-napas. berpaling dari ‎mentari, begitu pun teriknya mencabik-cabik rintihan hujan, menjadikannya sebuah senyum ‎bianglala. dan pabila ditanyakan tentang keberanian yang mampu melepas umurnya demi ‎menghapus rindu pada terbenam atau terbit. pabila susah ditepis dengan harapan yang ‎sungguh. maka kepada kita jawabannya muncul: siapa dan apa yang kita cintai itu?

jika yang ‎dikorbankan hanyalah angan dan ingin yang cepat menghilang diterpa angin, lalu siapa yang ‎harus disalahkan? sedangkan para pendaki tak begitu peduli kaki-kakinya tercekik lelah dan ‎nyawanya pun terbilang gundah dengan kemungkinan-kemungkinan. maka cukuplah kau ambil ‎ibrah akan kisah tersebut dari sebuah muasal kaki yang tetap teguh berdiri karena satu hal; ‎mahabah.‎

‎2021 Musalla DSA SARANG‎.















Gambar: pinterest.

NB: Puisi di atas merupakan puisi lama yang belum pernah dimuat di media cetak apa pun, baik itu online maupun offline.

Biodata Penulis:

Dengan nama pena Ibnu Sya'nah ia ingin berkarir dalam bidang kepenulisan. Lahir pada tahun 2003 tepatnya di kabupaten Pasuruan. Belajar puisi dengan berlatih dan sering membaca puisi via online. Ia bisa disapa lewat media sosialnya: Ibnu Sya'nah (facebook).

Pendidikannya yaitu pernah di pesantren al-anwar Sarang lebih tepatnya di bawah asuhan Syaikhuna Abdur Ra'uf M.Z. putra dari Kyai Maioen Zubair yang sering kita sebut dengan Mbah Moen itu.

Alamat Gmail: kembarnakal2@gmail.com

Nomer WA: 083846709004




INFO BAWAH

Cara kirim tulisan ke Negeri Kertas: Tulis karya anda berupa puisi/cerpen/artikel + biodata narasi + foto penulis atau gambar ilustrasi, semuanya dalam satu lampiran MS Word. Kirim ke email nkertas@gmail.com