[CERPEN] Menyibak Misteri Karya:Euis Citra - negerikertas.com

INFO ATAS

Ayo menulis cerpen atau puisi untuk memperebutkan Anugerah Kesaktian Pancasila. Deadline 1 Oktober 2022 | Kirim ke email nkertas@gmail.com

Media Sastra dan Seni Budaya

email nkertas@gmail.com | WA 628888710313

15 Apr 2022

[CERPEN] Menyibak Misteri Karya:Euis Citra

 Cerpen

           Menyibak Misteri

              Karya:Euis Citra

Bel pulang sekolah telah berdentang. Hampir semua murid sudah berhamburan pulang. Namun beberapa anak masih terlihat berada di lingkungan sekolah dengan berbagai tujuan, mulai dari kegiatan ekstrakurikuler,hingga hanya sekedar menggunakan  fasilitas internet di ruang perpustakaan. 

Tantri, Sinta dan Rudi terlihat sedang membicarakan sesuatu dengan serius. Mereka bertiga berdiri di depan pintu sebuah ruangan. Pintu itu terlihat telah usang, dengan sebuah kaca terpasang yang ditutupi beberapa lembar koran. Menandakan kalau ruangan itu lama tidak dipakai.

Rudi memutar kenop pintu  dengan sedikit susah payah. Suara derit pintu terdengar saat pintu itu perlahan terbuka. Aroma tak sedap menusuk hidung mereka bertiga. Kotoran kelelawar menghiasi setiap sudut ruangan itu. Dengan menutup hidung mereka terus melangkahkan kaki lebih ke dalam. 

Belum sempat Tantri dan Sinta melangkah masuk ke dalam ruangan, tiba-tiba mereka merasakan hawa ruangan yang sangat dingin, padahal matahari sedang terang-benderang bertengger di luar. Perbedaan suhu yang tiba-tiba itu mau tak mau membuat bulu kuduk mereka berdiri.

“Entah kenapa, bulu kudukku merinding,” guman Tantri sambil menarik napas dan melangkahkan kakinya masuk. 

“Kau juga,Tan?” tanya Sinta melirik. Tantri mengibas debu yang menempel di meja kemudian meletakan tas nya diikuti oleh Sinta menyampan tas nya. 

“Kalian cepat kesini!” teriak Rudi dari balik lemari. Sinta dan Tantri bergegas menuju tempat dimana Rudi  berada. Keduanya melihat Rudi sedang membuka-buka buku kumal yang ditemukan di ruangan itu.

“Buku apaan tuh?” tanya Tantri sambil mencoba merebutnya dari tangan Rudi.

“Ga tahu, aku belum membacanya ,Tan.” Jawab Rudi sambil bangkit berdiri dari jongkoknya.

“Kalian percaya hal mistis?” Tantri menatap Rudi dan Sinta bergantian.

“Hari gini?” ucap Rudi sinis sambil mengambil sebuah sapu usang dari samping lemari. Sinta menggapai sebuah ember.

“Aku bukan orang yang sensitif sama hal-hal mistis sih,tapi......,” suara Tantri nyaris tak terdengar. Ia mendekati Sinta dan berbisik. “Jangan-jangan ada sesu_”

“Hai kalian lagi pada ngapain disini?” teriak Fani tiba-tiba membuat mereka bertiga tersentak kaget. Sapu ditangan Rudi hampir jatuh begitupun ember ditangan Sinta. Sementara Tantri melompat dua langkah ke depan dan buku yang dipegangnya terjatuh.

“Kalian kenapa?” tanya Fani bingung, Rudi hanya diam, sedikit tersipu malu karena merasa kaget. Ia melanjutkan menyapu ruangan tanpa menjawab pertanyaan Fani.

“Fani,jangan ngagetin gitu dong!” kata Tantri kesal sambil meraih buku yang tadi terjatuh.  “Kita lagi ngomongin soal ruangan ini.”

“Oh, soal kejadian masa lalu di ruangan ini, yang katanya pernah ada seorang murid meninggal di ruangan ini?” tanya Fani datar.

“Kasihan, sih.” Seketika keheningan menyelimuti ruangan itu. Tidak ada suara gesekan sapu Rudi. Tantri terdiam seribu bahasa dalam posisi membungkuk mengambil buku yang terjatuh tadi.Sinta termangu dengan tatapan mata kosong. Waktu terasa sangat lambat di dalam ruangan itu.

“Apa? Meninggal di ruangan ini?” tanya Tantri menatap wajah Fani, kedua alisnya mengkerut. “Siapa, bagaimana, kapan, gimana ceritanya, Fan?” tanyanya berturut-turut. Rudi tidak menanggapi perkataan Fani. Ia kembali menyapu ruangan itu pelan-pelan. 

“Rud,!” teriak Tantri. “Lo ga denger Fani ,ya?”

“Dengar kok, tapi aku sih ga percaya,” jawab Rudi pendek.

“Bener kok, Rud. Udah jadi mitos di sekolah kita,” tambah Fani sambil meletakan tas selempangnya di atas meja usang.

“Dulu cerita ayahku , memang bener disini ada yang meninggal tetapi bukan karena bunuh diri, anak itu meninggal karena dia sakit. Dulu ruangan ini sebuah perpustakaan. Anak tersebut sering menghabiskan waktunya disini, dia kutu buku dan senang menulis juga.” Fani berhenti bercerita, pandangannya lurus ke depan seperti mengingat –ingat cerita ayahnya.

“Terus gimana, lanjutkan, Fan!” kata Tantri penasaran.

“Kala semua orang berhamburan pulang, dia masuk ke perpustakaan dan menghabiskan waktu untuk menulis disini, padahal waktu itu dia bilang pada teman sebangkunya kalau dia merasa sakit di dadanya. Sampai akhirnya dia ditemukan tak bernyawa oleh penjaga sekolah. Begitu cerita ayahku. Jadi dia bukan mati karena bunuh diri.” Fani menghentikan ceritanya, lalu menatap Tantri, pandangan matanya beralih ke buku yang dipegang Tantri.

“Buku apa itu, Tan?” tanya Fani seolah penasaran.

“Ini buku yang ditemukan oleh Rudi di ruangan ini, aku belum tahu apa isinya, aku belum sempat membacanya,” jawab Tantri sambil tetap memegang buku yang sudah lusuh itu.

“Coba sini aku lihat!” pinta Fani. Tantri menyerahkan buku tersebut kepada Fani. Sementara Rudi dan Sinta masih tetap terdiam mematung tanpa sepatah kata keluar dari bibirnya. Fani membuka buku tersebut perlahan-lahan sambil menahan napas seolah ada rasa lain menjalar di dadanya. Halaman pertama mencoba tuk dibacanya. Ada tulisan dari tangan mungil pemiliknya.

“Aku baca ya, Tan!” kata Fani sambil terus membaca kalimat demi kalimat dalam buku tersebut.

Senin, 23 Agustus

“Diariku.......aku ingin hidup lebih lama, untuk ingin meraih cita-cita, membalas jasa ayah dan bunda.Tapi tanpa kusengaja ,aku mendengar percakapan ayah bundaku. Aku ternyata mempunya penyakit kronis yang tak mungkin dapat disembuhkan. Dokter telah memponisku, kalau penyakitku begitu ganas, tumor otak ya...............tumor otak menggerogoti syaraf kepalaku dan seluruh tubuhku, tapi aku harus kuat, aku harus tetap kuat, aku harus bertahan dan harus yakin aku akan sembuh, aku tak akan menceritakan keadaanku kepada sahabat-sahabatku, hanya padamu Diariku , aku curahkan segalanya.”

Jumat,27 Agst

“Diariku.......aku sekarang merasa sakit di kepalaku, tapi aku tak ingin seorangpun tahu deritaku, akan ku coba untuk tetap menahan sakitku.”

Halaman demi halaman dibuka oleh Fani , tetapi tak dibaca semuanya. Fani mencoba membaca dihalaman akhir buku tersebut, raut mukanya terlihat seperti menahan tangis. Fani membayangkan derita si penulis buku tersebut. Halaman terakhir dibacanya.

Sore, Hari Kamis

“Diariku............dua bulan aku hanya tiduran di kamarku. Ayah bundaku melarangku bersekolah. Aku harus beristirahat karena sakitku. Aku tidak betah terus-terusan berada di kamar. Aku ingin bermain seperti sahabat-sahabatku. Aku ingin bercanda, tertawa dengan mereka. Aku harus kuat. Aku harus membuktikan pada ayah bundaku kalau aku kuat, aku tidak sakit. Aku ingin keluar dari kamarku ini. Diariku, besok pagi aku harus keluar kamar, aku harus ke sekolah, perhatikan nih aku tersenyum.......aku sehat. Diariku temani ya kemanapun aku pergi,hanya kau yang tahu deritaku, hanya kau tempat curahan hatiku. Diariku besok aku akan sekolah, temani aku ya!” 

Siang, Jumat

“Diariku,.........kini aku sudah kuat. Aku sudah bisa tersenyum. Sahabat-sahabatku juga gembira melihatku sehat dan bisa bersekolah lagi, terimakasih kau selalu menemaniku!”

Siang, Rabu

“Diariku, hari ini sepertinya badanku lelah sekali, kepalaku pusing, aku ingin menyendiri di sini. Beristirahat sebentar pasti aku segar kembali. Aku lelah, a_

Fani diam, kerongkorangannya terasa kering. Sementara ketiga temannya setia mendengarkan sedari tadi. Tantri menatap Fani sambil berkata, “Mengapa berhenti membacanya, Fan?”

“Iya , Fan. Mengapa berhenti? Ayo teruskan membacanya,jadi penasaran nih!” sahut Rudi menatap wajah Fani yang mendadak diam bagaikan patung.

“Selesai, tak ada lagi.” Sahut Fani hampir tidak terdengar.

“Selesai bagaimana?” tanya Tantri sambil merebut buku yang dipegang Fani. Raut wajah Tantri terlihat dingin saat memperhatikan coretan tangan di buku tersebut.

“Oh jadi dia, dia tidak kuat ketika sedang menulis di buku ini, tulisan ini tidak selesai , ada hurup a saja di akhir tulisannya, berarti saat sedang menulis dia meninggal.” Ujar Tantri datar  dengan suara lirih.

“Innalilahi wa inna ilaihi rojiun !” hampir bersamaan mereka mengucapkan kalimat itu. “Berarti benar, cerita ayahku. Dia meninggal beberapa tahun yang lalu itu karena sakit , bukan karena bunuh diri.” Ucap Fani sambil menutup buku usang yang ada di tangannya.

“Rud, mengapa tak kau teruskan menyapunya?” tanya Fani menatap wajah Rudi.

“Sudahlah, kita keluar dari ruangan ini, yu!” ajak Tantri sambil meraih tasnya yang berada di atas meja.

“Iya kita pulang yu sudah sore nih!” sahut Sinta sambil meraih tas yang dia simpan di atas meja juga.

“Ayo, kita pulang ! Tetapi besok kita harus mengajak teman-teman untuk membersihkan ruangan ini , supaya ruangan ini bisa dipergunakan kembali. Bagaimana? Setuju tidak?” tanya Fani menatap satu persatu sahabatnya.

“Setuju!” jawabnya serempak.

Keempat anak yang bersahabat itu meninggalkan ruangan tersebut. Tak lupa Rudi mengunci pintu terlebih dahulu sebelum mereka meninggalkan ruangan tersebut. Ada rasa lega di hati mereka, bisa menyibak sebuah misteri yang bertahun-tahun tersembunyi.

Selesai.








 C:\Users\Microsoft\Pictures\Batulawang obic\100C1530\WhatsApp Image 2021-01-06 at 08.21.10.jpeg

Euis Citarasa S.Pd. panggilan Euis Citra , Nama samaran Ecit, Lahir di Majalengka, 26 Agustus 1969. Mengajar di SDN Weragati II Kec.Palasah Majalengka. Hobi menulis.Menulis Artikel Pendidikan, puisi, pantun dan cerpen pun dilakukan. Sekarang masih aktip menulis di Majalah Aksioma dan Majalah Sigap.Aktif di AGP (Asosiasi Guru Penulis) Majalengka dan KPPJB.

Beberapa buku antologi  yang  sudah dimiliki antara lain: Buku Pantun Nasehat 1000 Guru ASEAN(Rumah Seni ASNUR;2020), Pantun Nasehat Guru Untuk Muridnya (PERRURAS,2020), Puisi Rindu(Pramedia;2020), Sumbu Kaki Langit(KPPJB,2020), Raja Bertasbih Di Langit Ramadhan(KPPJB,2020), Kabar Di Batas Senja (AGP;2020),     Pelangi Masa Pandemi (AGP;2021), Majalengka Wajahmu Kini (AGP;2021), Transformasi Media Belajar Pada Masa Pandemi (AGP;2021), Balebat Mapag Saum (AGP;2021), Senarai Nama Terkasih (KPPJB;2021), Hariku    Semangat (Antero Literasi Indonesia;2021), Bangkitlah Indonesiaku ( Pustaka Lierasi;2021).  Tangis Indonesia (KPPJB;2021) , Lembur Panineungan (AGP;2021),Pemuda dan Persatuan (KPPJB;2022), Rhapsody 99 Nama(AGP;2022) .Semoga semangat menulis tidak  akan pernah padam. WA:085353898426      email : euiscitarasa@gmail.com              


INFO BAWAH

Cara kirim tulisan ke Negeri Kertas: Tulis karya anda berupa puisi/cerpen/artikel + biodata narasi + foto penulis atau gambar ilustrasi, semuanya dalam satu lampiran MS Word. Kirim ke email nkertas@gmail.com