Puisi : Anam Mustofa - negerikertas.com

INFO ATAS

Ayo menulis cerpen atau puisi untuk memperebutkan Anugerah Kesaktian Pancasila. Deadline 1 Oktober 2022 | Kirim ke email nkertas@gmail.com

Media Sastra dan Seni Budaya

email nkertas@gmail.com | WA 628888710313

6 Mar 2022

Puisi : Anam Mustofa

 Pintu


Manakala musafir itu tahu bagian mana ia pulang dan pergi

Diantara kakinya belas kasih, sebuah ruang dari hulu ke hilir.

Tempat-tempat ia menyelami nasib, atau sedikit merapikannya.

Dimana sebuah pintu dengan ukiran daun dan bunga segar

Tumbuh menjelma teman,

Musafir rajin berbincang dengan garis lurus, menyamping, atau kebawah yang menghujam.

Menanyakan hari-hari rumah, atau sedikit mendiskusikan usia yang semakin membuncah.

Nasib dan pintu senang bertukar lengan

Dimana musafir bersalaman dan berpelukan.


2021


Ruang Tamu


Bulan dan bintang suka menonton bapak dan seorang anak

Lewat jendela melalui siaran malam,

Bulan dan bintang kadang terenyuh, melipat dahi

Ketika bapak tak kuasa membelikan sebuah cita-cita.

Bulan dan bintang tak kuasa, menggaris-garis air mata.

Malam begitu kejam, kepingan nasib begitu terurai,

Manakala bapak tak kuasa menata potongan nasib,

Bulan dan bintang kadang tersenyum

Tubuhnya dipinjam setiap malam.

Untuk dikenakan anaknya.


2021


Halaman


Halaman suka memandikan tubuhnya dengan angin dan air hujan

Kadang kala menjadi tempat berkumpul senyum anak-anak

Sekadar bermain bola, lempar melempar batu, atau hanya seutas tawa

Bila mengenang matahari, halaman begitu arif

Tempat rumput-rumput meliar, rumah bagi pohon menikmat matahari.

Sejak pasir dan batu disulap menjelma bangunan, 

Halaman kehilangan tubuhnya,

Halaman sempit senyumnya,

Halaman sesak nafasnya.


2021


Rembulan


Malam itu kau begitu senang menggandeng bulan

Menyapa lampu-lampu jalan, atau sekedar memunggungi aspal

Tapi malam itu kau begitu senang, berjalan-jalan dengan bulan

Tak ada yang menanya, kemana atau keluar untuk apa?

Dan kau mulai senyum semakin lebar

Kala bulan belum juga pergi, entah kau sedang membuat sandiwara apa?.

Orang-orang belum juga bertanya, kemana dan hendak apa?

Kau terus melangkah, kau mulai sedih

Bulan kaget bertanya-tanya, mengapa dan kenapa?

Dan kau kembali pulang.

Orang-orang mulai bertanya,

Mengapa dan bagaimana?


2021


Gemunung


Orang-orang telah mengenalkan elok dan rupawan-manakala kau setia dengan kabut dingin atau lahar panas dalam tubuh mu.

Punggung mu berjejer kata-kata indah yang dipungut para penyair, kala musim penghujan atau ketika matahari begitu lembut membelai mu.

Pohon bershaf-shaf, berdiri tegak memeluk tubuh mu. Dan kau begitu arif merawat ilalang dan lumut-lumut liar. 

Kau menyembur,

Bunga hutan berguguran

Dihalaman rumah, perkebunan, bangunan terbengkalai.

Di Tepi jalan,

Pada abu yang menempel,

Orang-orang duduk diatas batu,

Melelahkan air mata.

Matahari buru-buru menghilang,

Telah dimakan abu.

Udara yang sesak menyapa tubuhku.

Menyebar bau belerang yang menggulung-gulung diawan.

Orang-orang datang menyapa,

Melihat pipi basah oleh air mata.

Orang-orang hendak berkata,

Jangan menangis, jangan mengeluh.


2021


Pulang


Bulan pergi hendak pulang, 

Rona cantik dan semburat senyum membekas di kursi taman.

Tas dan buku hariannya tertinggal,

Mungkin saja catatan kepada siapa ia untuk bersinar dan pulang.

Aku benar-benar takut membukanya, rahasia terdalam.

Tas kecil berisi identitas, lipstik dan cermin.

Uangnya sedikit, mungkin sudah ia simpan di jurang atau laut.

Atau bisa di saku, aku hanya menebak.

Bulan pergi hendak pulang

Ia bisa saja kembali, tapi akankah datang juga ke kursi taman

Memberi lipstik pada bibirnya, saling bercermin dan menulis ceritanya.


2021


Sang orator


Seorang pria pergi sebelum matahari mampir dirumahnya

Mengancing mimpi-mimpi dan mengenakan sepatu.

Udara pagi masih temaram,

Tapi nasib tak ia biarkan karam.

Tanah yang lembab mengenang dirinya ketika berjalan bersama bulan

Melawan segerombolan ayak 

Yang mencabik-cabik lahan pertanian.

Orang-orang datang membantu, usir-usiran dengan si penjarah.

Ia mengenang masa-masa perlawanan.

Lalu bermain lari dan lari ke satu tempat ke tempat lainnya.

Seorang pria pulang setelah matahari membuang tubuhnya,

Melepas mimpi-mimpi, 

Melepas seorang diri.


2021


Takut


Takut sering bersemayam dalam tubuh, tumbuh bersama usia.

Semacam bunga-bunga mekar dimusimnya,

Kita gentar. Meminimalisir bunga-bunga yang bermekaran

Takut leluasa menjarah garis-garis hidup, menggambar bersama waktu

Semacam lukisan hidup dengan warna-warni

Kita cemas. Menghalau goresan-goresan coretan.


2021


Semacam lilin


Malam itu kau hanya

Mengeja-eja huruf rumah atau sedikit menghiburnya

Agar tak bosan dan jenuh. Mungkin juga menghitung sepi atau merumus berapa kali

Orang-orang telah meninggal dan pergi.

Malam itu kau serta merta 

Menjelma lilin, yang menerangi sunyimu. Atau yang membakar jenuh mu.

Aku ada dalam barisan panjang bus angkutan,

Dalam sebuah kota yang semuanya bertanya tentang dirimu.


2021


Selepas


Selepas pulang rapat dengan bulan

Membicarakan birokrasi gelap, kesimpulannya

Belum juga bertandang.

Siapa yang harus dilenyapkan?.

Lampu-lampu jalan membias dikepala, dan menjatuhkan tubuhnya ke aspal.

Selepas latihan orasi

Melayang-layang suara,

Kesejahteraan, Kemakmuran, Hak.

Gemuruh suara tersangkut, 

Lampu-lampu jalan pasi, meredup.


2021





: Anam Mustofa

Kelahiran: Brebes

Keterangan: Hamba Lokal. Dan bermukim di Purwokerto. Dapat dikunjungi lewat @anam_mushthofa







INFO BAWAH

Cara kirim tulisan ke Negeri Kertas: Tulis karya anda berupa puisi/cerpen/artikel + biodata narasi + foto penulis atau gambar ilustrasi, semuanya dalam satu lampiran MS Word. Kirim ke email nkertas@gmail.com