005

header ads

Puisi Winda Soekamto

 Sang Pengabdi Sastra

Winda Soekamto, February 11, 2022

 

Di suatu kisah, pada sebuah percakapan yang tak biasa

Perihal cara mengajarkan tentang makna sebuah puisi

Bukan isi hati

 

“Jangan karyanya Winda.”

Lalu aku ‘harus’ menyajikan yang bagaimana?

“Harus, biar keras prosesnya.”

Berjuang menghasilkan kata-kata indah?

“Persis Mbah Marijan.”

Mempertahankan kalimat demi kalimat yang menurut hati benar untuk digoreskan meski berujung pada sebuah kematian kata?

“Kurangi makan, banyak baca sampek berkunang-kunang.”

Pingin bikin puisi, tapi takut jelek

“Awuren ae, Neng.”

Aku pernah memimpikan menjadi seorang penyair, tapi gagal dan menjejal jauh dari sebuah kata berhasil. Jadi ‘puisi jelek’ gapapa, ya?

“Sangat tidak boleh ditolak.”

“Cigak direwangi begejil.”

“Istiqomah, mesti jablas.”

“Penak belajar dewe, nabrak-nabrak dewe, ngebut-ngebut dewe, ngepot-ngepot dewe.”

“Nek wis gak indah bahasane, gak indah logikane, gak indah rosone, zo tetep elek.”

 “Diokehi moco buku ben weruh dewe luwih apik, zo.”

Lalu di lain kisah, pada suatu senja

Linu, susah jalan, tak bisa bangun. Sakit sekali, dan detak jantung tak terkendali

Tubuh menggigil, menyapa senja dengan sebuah obrolan kedua

 

“Tidur apaan? Dari tadi perjalanan ke Jombang dan ini baru sampek rumah.”

Begitulah, ia yang jarang memejamkan mata, lebih nikmat bersama secangkir kopi beserta aroma menjejak cerita, sebatang rokok, dan kumpulan kata-kata, serupa bidadari di dalam isi kepala.

Tanpa sengaja kulantunkan sebuah pertanyaan terakhir—tanpa pernah lagi aku sempat mengutarakan pertanyaan berikutnya, “Ga tidur ta Kang Nurel ini? Tidur, Kang. Capek dari Jombang.”

“Belum, ya tidur kalau ngantuk, dari tadi ya belum tidur.”

Aneh kan? Padahal, biasanya tak pernah menyebut “ya”—sebuah isyarat luka

Tak kusangka, percakapan kedua di sore itu, benar-benar menjadi sebuah kenangan dari seorang murid kepada gurunya, menyisakan sebuah kesedihan yang mengembara di dunia puisi dan barisan rima

Kini aku merindukan celoteh-celoteh puisi di dalam puisi

Dan sebuah kata pamungkas pengembaraan puisiku, “zo”

Kata itu, kini telah tiada, bersama perginya sosok berhati baik, pemerhati kesan-kesan pada mereka yang selalu mencintainya, juga karya-karyanya; Sang Pengabdi Sastra.

 

Sidoarjo, 11/02/2022

 

Bionarasi Penulis:

Winda Sulistyoningsih, bernama pena Winda Soekamto, yang dikenal di medsos dengan nama Winda Listyani, memiliki sebuah komunitas Yuk Nulis Sidoarjo yang ia dirikan tahun 2019 khusus untuk membimbing para penulis pemula, baik cerpen maupun novel. Ia menjadi salah satu pemerhati dan penggerak literasi di kotanya. Penulis 30 buku antologi dan solo ini bergabung di beberapa komunitas Sidoarjo, salah satunya yang ia sedang seriusi adalah Forum Lingkar Pena Sidoarjo. Ia mencintai puisi sama seperti ia mencintai dunia anak. Puisi Sang Pengabdi Sastra didedikasikan untuk almarhum Kang Nurel Javissyarqi.

Sebuah catatan kecil: “Semoga ini bukan puisi terakhirku. Sebab setiap mencoba menulis puisi, aku mengingatmu. Guru pertama (semoga bukan yang terakhir), yang mengajariku berpuisi hanya beberapa hari.

“Puisi itu baik jika artistik dan estetikanya ada.”

No. Telp: 081234500427 / 083832375533

Instagram: @winda.listyani

Facebook: Dyah W. Listyani

 

 

 






Posting Komentar

0 Komentar