Ketika Penyair Patah Hati | Cerpen Yuditeha - negerikertas.com

.

(Mulai 1 Agustus 2021 setiap Cerpen yang dimuat di negerikertas.com mendapat honor Rp 100.000)

Ketika Penyair Patah Hati | Cerpen Yuditeha

Bertahun-tahun Rangki bergelut dengan puisi belum pernah dia merasa hatinya sesakit kali ini. Sekarang dia merasa hatinya teramat patah, sampai tak ada lagi keinginan sedikit pun dalam dirinya untuk menyentuh puisi lagi. 

Ejekan senylekit apa pun yang kerap dia diterima di awal memulai mendalami puisi dulu tak berarti apa-apa dibandingkan kehinaan yang dia terima saat ini. Banyaknya penolakan dari berbagai media terhadap puisi karyanya tak sepahit dengan kenistaan yang kali ini menimpanya. 

Jika sebelumnya semua kekecewaan yang terjadi tak mampu menggoyahkan niatnya ingin menjadi penyair yang mumpuni, tapi apa yang terjadi kali ini membuat Rangki seperti tak punya kekuatan untuk menghalau cela yang dia terima. Aib. Ya, Rangki menyebut sebagai aib atas apa yang menimpanya itu. Karena itu menurutnya tak ada lagi jalan keluar selain mengubur cita-citanya. 

Hal itu bermula dari perkenalan dia dengan Raras, perempuan mungil yang ternyata teramat mencintainya. Raras memang sangat terobsesi dengan Rangki. Seakan-akan Raras bersedia melakukan apa pun agar Rangki menerima cintanya. Bahkan menurut Raras, meski sebenarnya ada beberapa prinsip Rangki yang tidak dia sepakati tetapi hal itu tidak mengurangi perasaan cintanya terhadap Rangki.

Sesungguhnya Rangki juga punya perasaan cinta kepada perempuan yang ternyata seorang pejabat kota itu, tetapi karena dia merasa tidak pantas bersanding dengan perempuan yang menurutnya begitu sempurna hingga Rangki berusaha memupus perasaannya. 

Namun, di balik sikap yang menghindar itu sesungguhnya ada alasan yang disimpan. Dalam hati Rangki yang terdalam, dia tak ingin hal itu menjadi penghalang atas keinginannya menjadi penyair yang andal. 

Meski begitu, Raras tak mau pasrah begitu saja, dia terus mengejar Rangki. Bahkan dengan percaya diri Raras mengatakan sesuatu kepada Rangki yang hal itu dia yakini sebagai senjata ampuh untuk meluruhkan hati Rangki.

“Aku tahu, sesungguhnya kamu tidak ingin benar-benar menghindariku,” kata Raras.

“Maksudmu?” tanya Rangki heran.

“Aku tahu, sesungguhnya kamu tak ingin menolakku.”

“Aku bingung.”

“Apa yang membuatmu bingung?”

“Kamu dan puisi.”

“Kamu hanya mempersulitnya.”

“Aku tidak mengerti.”

“Aku ya aku, puisi ya puisi.”

Rangki tetap masih bingung dengan pernyataan Raras, tapi suara hatinya mengamini apa yang dikatakan Raras. Karena itu dia tidak lancar menanggapi. Di benak Rangki justru berkelindan pikiran tentang bagaimana cara mengatakan dengan jujur kepada Raras tetapi Raras tidak merasa direndahkan. 

“Kamu memang ada benarnya, tapi apa yang kupikirkan tidak sesuai dengan apa yang kamu pikir,” kata Rangki kemudian.

“Aku tahu,” sahut Raras.

“Tahu apa?” tanya Rangki sedikit kaget.

“Kamu hanya merasa tidak pantas,"

“Hmm.”

“Kok hmm?”

Rangki menggeleng.

"Benar, kan?” tanya Raras.

Rangki bergeming.

"Tapi benar, kan?” tanya Raras lagi.

Rangki berpikir apa yang Raras katakan benar, tapi Rangki meyakini bahwa Raras tidak sepenuhnya tahu apa yang dia maksud. 

“Aku boleh meminta sesuatu?" tanya Rangki memecah kesunyian yang waktu itu beberapa lama menyergap.

“Apa itu?”

“Apakah aku boleh tetap menulis puisi setelah kita bersama?”

Tak dinyana oleh Rangki, Raras langsung menanggapi dengan anggukan antusias. Bahkan setelah itu Raras mengatakan justru karena bermula dari puisi pemberian Rangki-lah hatinya timbul rasa cinta yang mendalam. Mendengar Raras mengatakan begitu, Rangki seperti mendapat wahyu kelegaan. Seketika di dalam dirinya muncul perasaan percaya diri yang sebelumnya tidak pernah ada, terkhusus saat dia sedang bersama Raras. 

“Jadi apa lagi yang jadi masalah?” tanya Raras sembari bibirnya menyungging senyum. 

Rangki spontan menggeleng.

“Terus?”

“Aku seperti belum percaya.”

“Tentang?”

“Kamu baik sekali.”

“Terus?

Rangki mengangguk.

“Yeee, kita jadian,” teriak Raras

“Tapi aku benar-benar seperti belum percaya,” sahut Rangki.

“Tentang apa lagi?”

"Cinta kita ini."

Mereka resmi bercinta. Kesepakatan itu mampu menjadikan semangat Rangki terhadap puisi semakin menggebu. Meski begitu rupanya nasib baik terhadap puisi-puisi ciptaannya tak segera menemui keberuntungan. Puisi-puisinya masih saja mendapat ejekan, bahkan masih banyak yang bilang puisi-puisinya buruk. Bukan saja itu, media apa pun yang dia kirimi puisinya pun tak juga memberi kesempatan. Bahkan bisa dibilang, setelah Rangki bersama Raras belum satupun puisinya diterima media. Ketika mendapati kenyataan seperti itu, Raras sebagai kekasihnya berusaha memberi pandangan dengan mengatakan bahwa mungkin Rangki memang tidak berjodoh dengan dunia puisi. Bahkan sesekali Raras juga menyarankan kepada Rangki untuk mencoba mendalami bidang lain, yang dari situ siapa tahu Rangki bisa menemukan bidang lain yang lebih berjodoh.

Namun pada kenyataannya, sebanyak apa pun saran dan pandangan Raras tak juga membuat Rangki mundur, justru dia mengatakan kepada Raras, asal Raras masih bersedia menerima pilihannya itu, Rangki tak akan menyerah. 

Pilihan untuk tidak menyerah itu semakin menguat kala Rangki berkenalan dengan lelaki yang kepadanya sempat menunjukkan beberapa puisinya. Setelah lelaki itu membaca puisi itu langsung memberi tanggapan bahwa puisi-puisi ciptaan Rangki adalah puisi yang hebat. Bahkan oleh lelaki itu, Rangki disarankan untuk mengikutkan puisi-puisinya ke dalam  kompetisi lomba puisi yang waktu itu sedang digelar. 

“Akhir-akhir ini, sebiji puisiku pun belum lagi diterima media, masa hendak ikut lomba?” tanggap Ranggi waktu itu.

“Semua perlu dicoba,” sahut lelaki itu.

Seperti mendapat tenaga baru, semangat Rangki menjadi berlipat menggarap puisi.

***

Peristiwa ini terjadi satu hari setelah Rangki dan Raras menjadi sepasang kekasih, Raras menghubungi seseorang melalui ponselnya. Dari percakapan itu diketahui sepertinya Raras sedang mengadakan perjanjian pertemuan dengan seseorang.  Ya, benar. Mereka akhirnya bertemu di sebuah kafe, dan orang yang bersama dengan Raras saat itu ternyata seorang lelaki. Dengan lelaki itu, Raras terlihat sedang berbincang serius. Perbincangan sejenak terhenti ketika Raras menyerahkan sebuah amplop berwarna cokelat. “Ini baru setengahnya,” kata Raras kemudian.

“Apa yang harus saya lakukan?” tanya lelaki itu

Raras tak langsung menanggapi, bahkan dia sempat menghela napas panjang. Setelah Raras merasa yakin, tak lama kemudian dia mulai bicara lagi.

“Ada empat hal yang harus kamu lakukan,” kata Raras.

“Apa itu?”

“Pertama, sewa beberapa orang untuk menghina puisinya. Kedua, usahakan puisinya tak pernah diterima media. Ketiga, kau temui dia dan puji puisinya, bahkan anjurkan dia ikut lomba. Terakhir, hasut panitia lomba agar puisinya gagal dalam kejuaraan itu.”

“Kesalahan macam apa yang dia perbuat hingga Anda menyuruh saya untuk melakukan semua itu?”

“Dia tidak melakukan kesalahan apa pun.”

‘Lalu mengapa Anda ingin saya melakukannya?”

“Karena saya sangat mencintai dia.”

“Saya tidak mengerti.”

“Kamu tak perlu mengerti. Tugasmu cukup melakukan itu saja.”

“Mudah. Masalah itu sangat mudah. Saya hanya merasa heran. Bukankah tanpa saya melakukannya, seorang penyair sudah susah hidupnya?”

“Justru karena alasan itu aku harus melakukannya.”

“Setelah jeda sejenak, lelaki itu sepertinya baru mengerti apa yang dimaksud Raras. Lelaki itu kemudian tersenyum, sembari meraih amplop cokelat yang ada di hadapannya, lalu berdiri. “Baiklah. Saya akan segera lakukan.” ***

 

Yuditeha. Pegiat Komunitas Kamar Kata Karanganyar. Telah menerbitkan 16 buku. Buku terbarunya Sejarah Nyeri (Kumcer, Marjin Kiri, 2020), dan Tanah Letung (Kumcer, Nomina, 2020).




.