Puisi Sony Cimot - negerikertas.com

INFO ATAS

Ayo menulis puisi untuk memperebutkan ANUGERAH HAK ASASI MANUSIA. Deadline 10 Desember 2022 | Apabila dalam 30 Hari, karya yang anda kirimkan di Negeri Kertas tidak dimuat, secara otomatis karya tersebut statusnya dikembalikan.

Media Sastra dan Seni Budaya

email nkertas@gmail.com | WA 628888710313

9 Mei 2021

Puisi Sony Cimot


Jualan Sepi di Pasar Kesunyian
09 Mei 2021

Pasar kesunyian tak lagi memakai lampu cahaya bathin lagi,hanya cukup keheningan yang mereka inginan sementara.

Jualan sepi dan jualan jagat senyum tak lagi laku, sedangkankan betinaku dan srigalaku sudah tak kuat menggonggong, hanya kutup kutup kekuatan gelap menyinari arena tertentu.

Oh gayanya di  aksikan
Oh gayanya di perlisptik
Oh gayanya di persunting sendiri,bunga bunga mawar hitam manggis tak brani muncul.
Karna pasar kesunyiaan tak ramai lagi.
Karna kehidupan gelap sudah tak seperti pasar lagi.

Aku tak mau maksa dan terjungkal jual di pasar kesunyian,diatas sana pasti suatu saat ada keramaian pasar pasar ,melebihi pasar kesepian ini.

Mari betinaku juga srigalaku,,kita songsong pasar itu dan kita gelar lagi jualan kita.



Penajaraku Sendiri
09052021
Jemberaan

Terkurung Aku di penjaraku sendiri

Penjaraku berwarna merah lubang lubang kehidupan.

Tak lagi merdu,senyap dan kikuk aku terbungkus merah lubang lubang kehidupan.

Mengapa aku bertanya
Mengapa aku tak brontak
Mengapa aku tidak terbang saja,seperti burung pipit .

Dan kini aku tak segan diam dan berlumuran sedih sepi ku tersudut di penjara merah lubang lubang kehidupan.

Tarian mimpiku tak lagi membelaku.

Mulut koarku semakin terkunci sendiri,

Tak mungkin 
Tak bisa
Tak akan ,mengharapkan pembelaanmu,dan bagaimanapun penjaraku ini adalah jawaban dan dosa mimpi yang aku tidak sanggka,bakal datang membungkus gerakanku.

Lalu aku harus tersungkur
Lalu aku harus terlemparkah
Atau aku harus mematung, menunggu di puja puja seperti patung.

Ah mustahil,suatu saat aku harus lepas, dan membuka penjara merah lubang lubang kehidupan ini.


Puisi ke 62


Cinta Yang Hampir
04 mei 2021
Jemberaan

Memandangmu kini sulit apalagi untuk yang lebih,jangan harap juga jangan di harapkan,jadi kenyataan yang tak pilu dan nyilu.
Kini hanya cerita dan cacian salah,
Luntur tambah meluntur apa yang dulu indah juga harapan segunung hampir rata dengan mimpi kita sayang.
Mau sambat
Mau ngengkel
Mau nyangkal
Semua sudah terdalam yang bersalahan, paham atau tambah  luntur tak berwarna ,aku tetap menyayangimu

INFO BAWAH

Cara kirim tulisan ke Negeri Kertas: Tulis karya anda berupa PUISI/CERPEN/ARTIKEL + BIODATA narasi + FOTO penulis atau GAMBAR ilustrasi, semuanya dalam SATU LAMPIRAN email file Ms Word. Bagian paling atas bertuliskan JUDUL KARYA + NAMA PENULIS. Kirim ke email nkertas@gmail.com