Puisi Isbedy Stiawan - negerikertas.com

.

(Mulai 1 Agustus 2021 setiap Cerpen yang dimuat di negerikertas.com mendapat honor Rp 100.000)

Puisi Isbedy Stiawan

SELAMAT JALAN


selamat jalan, bisikmu 

ranjang putih 

        dinding putih

aroma obat bagaikan bunga

beterbangan


tapi aku belum kemana mana

masih di sini    

             kusisir usia

                kuraba langkah 


selamat jalan, katamu lagi

seperti memaksaku pergi

tapi aku belum pula mandi

tak ada jadwal perjalanan


    pesawat

         kapal laut

            kereta

               bus 

(hanya beri aba aba mau jalan

namun tak juga bergerak...)





PEREMPUAN BERMATA TAJAM

                                                                   : angel


dia berlari tapi bukan ke belakang 

ditembusnya kabut dari asap gas

di jalanan yang gaduh!


“segalanya (akan) baik baik. Oke.”


segalanya baik baik, meski 

sebuah lubang peluru di kepala

telah mengantar dirinya ke keabadian

— yang lebih berkeadilan —


setelah kawan kawannya dia tolong

menghapus perih di mata 

dari air keran di jalan itu 


siang yang kering 


lalu tanda itu yang dikalungkan 

pesan di selembar kertas 

ditinggalkannya di jalan itu


sebab ia telah menembus aral

dikepakkan sayapnya. ia terbang

membebaskan diri dari senapan 

yang tak henti henti mengaum


di jalan yang gaduh 

di depan anak anak muda

yang kelak penopang ini negara


perempuan bermata tajam 

peri bagi kemanusiaan


KA, 4 Maret 2021




PULANG KE RUMAH TUHAN


ia dilahirkan tanpa luka

oleh ibu-bapaknya


ia meradang ke jalan

ketika tahu negerinya terluka


ia bawakan hati yang putih 

namun peluru bersarang di kepala


ia lihat menembus kepulan asap

diinginkan hanya air air air


tapi, ia lupa, peluru tak bermata 

kepalanya luka, di jalan itu ia kembali 


pulang ke rumah Tuhan

pintu istana masih begitu kuat





SAATNYA AKU PERGI JAUH


saatnya aku mesti pergi jauh

-- darimu -- akan kupilih 

jalan yang tak dilalui 

orang sebelum aku. tak ada 

jejak di situ, biar pun basah 

dan rerumputan mekar 

di bulan yang hujan ini 


akan kusibak ilalang 

dan tanah basah jadi jalan

baru -- aku yang mencipta,

bukan orang lain 

sebelumku -- kutandai 

dengan namamu. biarkan 

kekal, tapi pertemuan kita 

fana; jejak yang kelak 

mungkin dilupakan, barangkali 

pula jadi sejarah


tapi, tak lagi begitu perlu 

dan bagiku tak gairah lagi 

untuk mengulang dan mengulang


sudah tak mau deja vu


tak ada penjor di sepanjang jalan itu

dulu jadi penanda, sebagai rambu 

untuk bertemu dan berpisah





DI DEPAN KOLAM KECIL

TAMAN TAK SEBERAPA           

                        : e.y.k

 

maukah sesekali kita jadi ikan

ini malam saja. kita tunggu

ada yang datang lalu membawa

kita dari dalam kolam yang sudah

lama menyelami derita

 

bukankah hawa merayu lelakinya

pergi dari surga, karena tahu 

di situ ia tak akan abadi

 

kenapa kita tak berani menolak?

 

tinggalkan kursi ini 

jadi ikan semalam saja 

sampai ada yang datang

kembali naik dari kolam

 

tapi, maukah sekali saja

kita jadi ikan. kolam kecil itu sunyi

dan kita yang buat riuh

 

KGM, 20 Maret 2021




Isbedy Stiawan ZS,lahir di Tanjungkarang, Lampung, dan sampai kini masih menetap di kota kelahirannya. Ia menulis puisi, cerpen, dan esai juga karya jurnalistik. Dipublikasikan di berbagai media massa terbitan Jakarta dan daerah, seperti Kompas, Republika, Jawa Pos, Suara Merdeka, Pikiran Rakyat, Lampung Post, Media Indonesia, Tanjungpinang Pos, dan lain-lain.

 

Buku puisinya, Kini Aku Sudah Jadi Batu! masuk 5 besar Badan Pengembangan Bahasa Kemendikbud RI (2020), Tausiyah Ibu masuk 25 nomine Sayembara Buku Puisi 2020 Yayasan Hari Puisi Indonesia, dan Belok Kiri Jalan Terus ke Kota Tua dinobatkan sebagai 5 besar buku puisi pilihan Tempo (2020)

 

Buku-buku puisi Isbedy lainnya, ialah Menampar Angin, Aku Tandai Tahilalatmu, Kota Cahaya, Menuju Kota Lama (memenangi Buku Puisi Pilihan Hari Puisi Indonesia, tahun 2014): Di Alun Alun Itu Ada Kalian, Kupu Kupu, dan Pelangi, dan Kau Kekasih Aku Kelasi (2021).

 

Kemudian sejumlah buku cerpennya, yakni Perempuan Sunyi, Dawai Kembali Berdenting, Seandainya Kau Jadi Ikan, Perempuan di Rumah Panggung, Kau Mau Mengajakku keMana Malam ini? (Basabasi, 2018), dan Aku Betina Kau Perempuan (basabasi, 2020).

 

Isbedy pernah sebulan di Belanda pada 2015 yang melahirkan kumpulan puisi November Musim Dingin, dan sejumlah negara di ASEAN baik membaca puisi maupun sebagai pembicara. Beberapa kali juara lomba cipta puisi dan cerpen tingkat Nasional.













.