005

header ads

Puisi Mia A. Prilly

 Selaksa Cahaya Kunang-kunang

Oleh: Mia A. Prilly


Di hamparan 700 lebih macam tutur kata,

hanya satu yang daku cakap

Dari tempat asalku

;lincah teriak ngoko

ciut mengucap madya* dan

hampir buta bertutur krama**


Di kala itu,

Di selepas senja terbenam,

seorang nona manis hampiriku. Tutur fasih Inggrisnya kulayangkan madah. Namun saat madya ku turutkan, matanya bertanya

;dari mana asalku


Biar lalu imajiku memeluk guling. Mencari tumpuan angan bersandar.

Hingga menuju pelataran mimpi. Lalu seketika


kulihat tebaran kunang kunang menyala di gulita kealpaan. Bak selaksa bintang katai yang diayunkan dari langit. Menyemburat


ke jalan-jalan, sekolah, universitas, komunitas, desa, kota, 

Mengitari para orang tua, dewasa, remaja, dan anak-anak.

Para guru, dosen, karyawan, pedagang, juga para peserta didik.


Zat luciferin yang manunggal dengan oksigen, kalsium dan adenosin trifosfat telah menjadi reaksi kebangkitan akan abai istiadat


Bawakan aku dari penjuru barat

tutur nias, mentawai, minangkabau, lematang, kayu agung dan lainnya


Kenalkan aku dari nusa tenggara pada

tutur bajo, ambui, kambera, namut, ndao, rongga, sikka, teiwa dan lainnya.


Hadirkan padaku dari bagian tengah

tutur long pulung, oma lung, punan, katingan, mantaya dan lainnya.


Berikan aku dari sisi utara

tutur ponosakan, kaili, laoje malala, mandar, morunene dan lainnya.


Sentuhkan padaku jejak timur laut

tutur galela, taliabu, barakai, kola, leinam dan lainnya.


Hadapkan padaku dari arah paling timur

tutur kalabra, miere, yaben, engkalembu, korowai, monuna samboga, ndarame, tsaukwambo, yabanda, rarankwa dan ratusan lainnya.


Bawakan anak cucu cicit bahasa yang lahir dari rahim nusantara, yang dirangkul dalam naungan tutur cakap yang satu.


Bangunkanlah aku, cahaya merah kuning hijau dan oranye telah mekar membuana ke seluruh kepulauan dari

Sabang hingga Merauke.

(2020)





Posting Komentar

0 Komentar