KUMPULAN PUISI M. HIDAYAT - negerikertas.com

.

KUMPULAN PUISI M. HIDAYAT

Celurit Sakera


Sakera....
Kau beri isyarat tanya
Menyelipkan doa
Menembus kelamnya cita-cita


Pada madura
Kau lantakkan tanah
Membajak kerontang dada
Berkecai raga, berlumur darah


Pada lengkung tubuhmu
Kau hunjam otak dungu para serdadu
agar mereka tak menyerbu
dengan selempang hangat peluru


kau tak ragu tuk maju
terbakar dalam bara tungku
mengoyak daging selaksa dadu


namun, kau tak mau itu
tumbal seribu yang kau butuh
luluh dalam dekapan prabu
mengalir darah air mata ibu


kau bekaskan goresan sejarah yang suram
dalam kitaran cerlang lampu temaram
mengenang kisah pekat melebur hitam
di sini kau bubungkan sumpah


“maju tak gentar, membela yang benar”


Madura, 13 Maret 2020
Air Mata Darah


Kukucurkan air mata darah di negeri petaka
Pada kitaran gembur tanah Nusantara
Yang mana mata air kita meruah
Dari sejarah mengangkangi serakah


Walau air mata berdiri di kota-kota
Serpihan kertas tak ‘kan bisa
Lantaran, amir tak mau duka nestapa
Sebab ia berkacamata maya


Di bawah bendera pusaka
Kunyanyikan lara
Sorak-sorai rakyat jelata
Menyeruak di penjuru jazirah


Ia telan surga kami
Seraya tak peduli hati nurani
Merangkul mata air
Mengucap kata usir


Di sini langit berwajah geram
Memandangi air mata dendam


Ia tak ‘kan bisa lari
Dari dua bola mata ini
Mencoba pergi
Kan kaujumpai pijakan air mata diri


Kapankah air mata akan sudah


Madura, 14 Maret 2020
Hikayat Daun Lontar
; Pejabat


Kuciptakan bait ibah pada indonesia
Yang menjadi budak dari tuan serakah
Ia merangkul kekayaan alam segalanya
Menyisakan serakan sampah-sampah


Pejabat...
Kau sungguh bejat
Menyimpan tikus di kantor negara
Membiarkan ia berkeliaran kemana-mana


Pejabat...
Tikusmu rakus memakan hak kita
Hukum ia agar jera
Kurung ia dalam kelamnya penjara


Namun itu hanya khayal


Pejabat yang gagah
Tersimpuh lemah di dekapan cerlang uang
Hukum takut menegakkan tiang keadilan
Roboh dalam nikmatnya sogokan


Hanya secarik daun lontar yang kutuliskan
Sebagai sastrawan berwajah demonstran


Madura, 15 Maret 2020


Ibu Bangsa


Kau jahiti bangsa ini dengan benang tulus
Mengikat erat persatuan bangsa-bangsa
Dalam bendera pusaka


Kini, ia gagah berkibar pada pilar kebangsaan
Mengisyaratkan pada negara tetangga
Akan kemerdekaan


Ibu bangsa...
Perjuangan kami menghalau para penjajah
Tiada guna tanpa tangan kemulyaan
Yang rela menyulam cinta
Pada kain putih berpadu merah


Kau putri indonesia
Sungguh mulia
Kelihaianmu mencipta simbol-simbol bangsa


Madura, 16 Maret 2020
Pulau Garam I


Di haluan selat madura
Bumi menyimpan kekayaannya
Membumbui keasinan rasa
Menumpuk gundukan garam yang dirauk orang madura


Kulindungi ia
Pada plastik yang membungkusnya
Memanjakan lidah-lidah ibu rumah tangga
Akan masakan yang membutuhkan kelezatannya


Namun, sekarang rasa itu mulai tenggelam
Telah hilang dalam zaman


Madura, 17 Maret 2020
Pulau Garam II


Mengitari pijakan butir-butir garam
Tapak kakiku mulai gersang
Mengenang masa silam
Pada gembur tanah yang masih dikenang


Sulingan bambu yang menetralkan rasa masam
Tertuang pada bilahan bambu yang dijemur membentang
Mengeras hingga terkelupas membentuk kristal
Memancar cerlag impian


Annuqayah, 18 Maret 2020



I:\Δ Smad-Lock (Brankas Smadav) Δ\dayat.JPG




*M. Hidayat merupakan santri Annuqayah Lubangsa, dan mahasiswa INSTIKA Fakultas Ekonomi Dan Bisnis Islam Prodi ES, tempat kelahiran Jelbudan- Dasuk- Sumenep. Sekarang sedang berteduh di Gubuk Sastra Annuqayah (GSA). Ia aktif di Sanggar Kopi, Iksaputra. Bisa kunjungi penulis di Fb: hidayat ad-dasuki Email: hidayataddasuki@gmail.com .

.