Ratusan Guru Seni dan Budaya se-Indonesia Gelar Kongres di Jogja

Share:

SLEMAN,suaramerdeka.com - Ratusan guru seni dan budaya dari jenjang pendidikan dasar, menengah hingga sekolah atas se-Indonesia menggelar kongres di Jogja. Bertemakan Penguatan Eksistensi dan Makna Pendidikan Seni dan Budaya, Kongres Nasional Guru Seni dan Budaya ini berlangsung di Pusat Pengembangan dan Pemberdayaan Pendidik dan Tenaga Kependidikan (P4TK) Seni dan Budaya Yogyakarta, 10-12 Desember.

“Dari daftar peserta, untuk guru jenjang SD mencapai 61 orang, SMP sebanyak 74 orang dan jenjang SMA sebanyak 76 orang. Ini dari seluruh Indonesia,” imbuh Kepala P4TK Seni dan Budaya Drs. M Muhadjir, M.A, Selasa (11/12).

Muhadjir menjelaskan, kongres itu digelar untuk memperoleh masukan hal-hal terkait dengan peningkatan mutu pendidikan seni budaya, memperoleh masukan bagi pengembangan program peningkatan kompetensi guru seni dan budaya. Lalu melakukan penguatan peran komunitas guru seni budaya serta merints wadah komunikasi guru seni budaya tingkat nasional. Lembaga P4TK Seni dan Budaya, sebut dia, turut bertanggung jawab untuk mengembangkan kualitas pendidikan seni melalui pengembangan dan pemberdayaan pendidik dan tenaga kependidikan bidang seni dan budaya.

“Dari kongres ini kami berharap menghasilkan sejumlah rumusan seperti adanya identifikasi permasalahan peningkatan mutu pendidikan seni budaya, adanya bahan masukan untuk pengembangan program peningkatan kompetensi guru seni budaya. Ditambah adanya formulasi program penguatan peran komunitas guru seni budaya serta adanya rintisan wadah komunikasi guru seni budaya tingkat nasional,” paparnya.

Berbentuk seminar dan diskusi kelompok, dihari kedua kemarin, Kongres Nasional Guru Seni dan Budaya menghadirkan sejumlah pemateri seperti akademisi Universitas Gadjah Mada Yogyakarta Dr Bambang Hudayana, MA. Lalu ada juga akademisi ISI Yogyakarta Dr R Chaerul Slamet, M.Sn. ditambah dosen di Politeknik Seni Yogyakarta Dr Toto Sugiarto Arifin, M. Hum.

Dihadapan peserta kongres, Dr Bambang Hudayana, MA dalam makalahnya berjudul Seni Budaya dalam Kehidupan Manusia menganggap bahwa seni akan selalu hadir dalam sendi-sendi kehidupan kalau difungsikan sebagai perekat. Bahkan dia menganggap seni budaya harus menjadi panglima dalam kehidupan negara Indonesia.

“Masyarakat Indonesia itu sekarang stres karena jarang menikmati hiburan kesenian. Setiap hari disuguhi pertarungan politik dan itu tidak baik. Seorang politisi pun seharusnya mau dekat dengan seni, jika itu terjadi makan kelakuannya akan baik dan masyarakat akan senang terhadapnya,” tandas Bambang.

(Gading Persada /CN41/SM Network)

#nasional #senibudaya

Tidak ada komentar