005

header ads

Seekor Tikus Terkapar di Jalan | Cerpen Walidha Tanjung (Fileski)

 Dimuat koran Radar Tuban, Minggu 3 Maret 2024  


Seekor Tikus Terkapar di Jalan

Cerpen Walidha Tanjung (Fileski)


Parjo merenung di halaman  rumahnya. Melihat kawanan tikus-tikus got. Tikus itu sedang asyik makan di dekat selokan, bersama kawanannya. Nampak lahap, mengunyah sisa jagung yang didapat dari tong sampah. Parjo, nasibnya ternyata tak lebih beruntung dari sekawanan tikus. Ia merenung, tak ada gairah menyantap makanan. Pikirannya masih gelisah. Padahal istrinya sudah menyiapkan hidangan sayur lodeh, lauk bandeng, dan sambal teri. Makanan kesukaannya. Masih saja ia merenung, sambil melihat para tikus itu berebut makanan, tapi tak jua membuatnya punya hasrat untuk melahap masakan buatan  istrinya. 

Meskipun belum diumumkan secara resmi oleh KPU tentang siapa yang bakal jadi presiden, namun masyarakat sudah melihat quick count dari berbagai lembaga survei yang menunjukkan angka-angka yang tak jauh berbeda. Namun pro dan kontra tetap saja terjadi. Yang kalah berteriak adanya kecurangan, Setiap kali ada Pemilu selalu begitu. Yang kalah pasti merasa dicurangi. Tahun sebelumnya, orang yang sama pun tidak protes adanya laporan kecurangan, karena ia di pihak yang menang. Lapor adanya kecurangan bukan hal yang tidak boleh, justru memang harus melaporkan jika melihat kecurangan, dan biar proses hukum berjalan. 

Parjo berfikir, apakah kecurangan tidak bisa dihilangkan. Tentunya bisa, namun sangat sulit, sebab dari bawah sudah menjamur budaya silaturahmi dengan uang. Meskipun silaturahmi tak selalu harus dengan uang. Misalnya, dengan door to door seorang Caleg mendatangi warga secara langsung. Dengan begitu ia bisa menyampaikan program yang ditawarkan dan menyediakan telinganya untuk mendengar aspirasi warga yang akan diwakilinya.

Hanya saja nama lain dari waktu adalah uang. Sedangkan waktu hanya ada 24 jam  dalam sehari, tidak bisa ditambah menjadi 34 atau lebih. Seseorang bisa saja memiliki uang hingga berjuta juta dolar, namun menambah waktu dalam sehari adalah suatu kemustahilan. Tentu memilih cara memberi uang masih membudaya sebagai cara yang paling praktis untuk bersilaturahmi dengan warga. Apalagi pikiran warga yang menganggap pemilu adalah pesta rakyat, yang namanya pesta ya bagi bagi makanan dan uang. Lagipula para wakil rakyat itu kebanyakan lupa, ketika ia sudah menjabat, lupa dengan para pendukungnya, lupa pada janji-janjinya. Sehingga pada momentum pemilu, para warga bersemangat ambil bagian dengan cara menerima amplop-amplop silaturahmi yang berisi uang dari para calon wakil rakyat itu. 

Ditambah lagi karakter orang timur yang masih sangat kental dengan etika balas budi. Sehingga politik uang masih dirasa jadi cara paling efektif untuk memenangkan suara. Ketika para warga hanya bisa mengingat dan mencoblos siapa saja caleg yang memberikan uang, karena dengan caleg lain yang tidak memberikan uang pun, masyarakat tidak kenal. Secara tiba-tiba deretan foto mereka terpampang di pinggiran jalan ketika musim kampanye. Begitu musim berganti, semua baliho itu menghilang dan seakan terbang ke atas awan hingga suara rakyat yang di bawah tak bisa lagi mereka dengar. Sambil merenung, Parjo masih mengamati para tikus yang saling berebut makanan di samping selokan. 

Parjo berfikir, andaikan saja biaya untuk nyaleg tak semahal ini. Mungkin akan lebih banyak para wakil rakyat yang terpilih adalah mereka yang benar-benar ingin melayani masyarakat. Mereka yang telah selesai dengan diri sendiri, dan hanya ingin mengabdikan diri untuk melayani rakyat. Bagaimana mungkin mereka bisa memikirkan nasib rakyat, jika modal yang telah mereka keluarkan saja, belum bisa kembali. Andaikan negara bisa mendanai biaya kampanye sepenuhnya, dan para calon dilarang untuk mengeluarkan uang pribadi, ada tim audit yang siap memeriksa mereka-mereka yang menggunakan dana di luar yang telah diberikan negara. Dengan begitu sepertinya akan tercipta pemilu yang jujur tanpa adanya money politic. 

Nampak para tikus itu kebingungan, karena jagung yang mereka makan sudah habis, menyisakan bonggolnya. Kasihan dengan kawanan tikus itu, Parjo masuk ke rumah dan mengambil makanan di mejanya. Makanan yang sebenarnya disiapkan istrinya untuk dimakan Parjo. Ia melempar sepotong tempe ke kerumunan tikus itu. Tanpa rasa takut, para tikus itu langsung mengeroyok sepotong tempe yang dilemparkan Parjo. Dalam hitungan detik, sepotong tempe itu habis tak bersisa. 

Ia lemparkan lagi satu ekor ikan bandeng yang telah digoreng istrinya. Pun dalam hitungan detik, sekawanan tikus itu membabat habis ikan bandeng itu, bahkan tulangnya pun tak bersisa sama sekali. Parjo senang bukan kepalang, ia puas melihat para tikus itu makan dengan lahap. Meski dirinya belum juga berminat untuk mengisi perutnya sendiri dengan makanan. Ia melihat ada satu tikus yang tak ikut berebut makanan, sepertinya tikus itu sudah kenyang, atau memang sedang tidak nafsu makan karena sedang ada hal yang ia pikirkan. Seperti Parjo yang sedang gelisah merenungi pengaruh pemilu untuk kepentingan rakyat kecil. 

Kebiasaan memberi makan para tikus bukan sekali ini ia lakukan, namun ini sudah kebiasaan lama. Bisa dibilang Parjo ini punya hobi memelihara tikus. Profesinya sebagai seorang pembersih gorong-gorong, membuatnya tak jijik pada hewan penghuni selokan itu. Selain memberi makan tikus, sehari-harinya dia ya menunggu panggilan bosnya, untuk membersihkan selokan mana yang harus dibersihkan. Kota besar yang padat penduduk, semrawutnya sistem gorong-gorong yang ada di bawah tanah, jika tidak dibersihkan, bisa menyumbat air dan menggenangi rumah warga ketika turun hujan, jika Parjo tak segera turun tangan. 

Perjumpaan dengan istrinya pun termasuk unik. Ia temukan istrinya ketika sedang bekerja. Mereka bukan bertemu di sebuah cafe atau kantor yang bersih dan terang. Namun di sebuah tempat yang gelap dan kotor. Di dalam gorong-gorong. Betul, memang di gorong-gorong. Sebuah kejadian yang sulit dipercaya. Ia temukan seorang perempuan yang terkapar di dalam gorong-gorong, dalam kondisi lemas, yang sepertinya sudah beberapa hari tidak makan. 

Ia gendong perempuan itu, keluar dari gorong-gorong. Ia bawa ke rumahnya, melewati lorong gorong-gorong yang tembus langsung di pekarangan belakang rumahnya. Rumahnya Parjo memang unik, rumah warisan bapaknya yang juga seorang pembersih gorong-gorong. Selama ini Pajo hidup sebatang kara. Kedua orangtuanya sudah meninggal, dan ia anak satu satunya. Hanya sebuah rumah itulah yang diwariskan kepadanya.

Sesampainya di rumah. Ia berikan makanan pada perempuan itu. Dengan kondisinya yang masih lemas, perempuan itu berusaha makan sedikit-demi sedikit. Beberapa jam kemudian nampak tenaganya mulai pulih. Ia pun menyuruh perempuan itu untuk mandi, sampai bersih, dan membolehkan perempuan itu untuk tinggal beberapa hari di rumahnya. 

Selama beberapa hari, perempuan itu tidak bicara. Namun dengan sabar Parjo tetap merawatnya dan memberinya makan. Parjo pun jatuh hati pada sosok perempuan itu. Maklum saja, selama hidupnya, ia tak pernah berani mendekati wanita. Pikirnya, siapa yang mau dengan lelaki yang gajinya pas pasan, tampang juga pas pasan, pekerjaan cuma sebagai pembersih selokan. 

Perempuan itu bernama Tika. Nampaknya Tika juga merasa nyaman dengan perlakuan Parjo selama tinggal di rumahnya. Mereka pun saling bicara, hingga timbul rasa cinta antara keduanya. Akhirnya Parjo pun meminta Tika menjadi istrinya. Nampak tidak ada rasa penolakan dari ekspresi wajah Tika, hanya saja ada sesuatu yang ia gelisahkan. 

“Apa yang kau pikirkan Tika, apakah kau tak mau menjadi istriku?” Ucap Parjo. 

“Mas Parjo adalah lelaki yang baik, dan telah memperlakukan Tika dengan sangat baik selama Tika tinggal di sini. Saya bersedia menjadi istri mas Parjo, namun ada  syaratnya.” 

“Katakan apa itu syaratnya, aku akan berusaha untuk memenuhinya.”

“Aku bersedia menjadi istrimu, tinggal di rumahmu, dan tidur bersamamu. Namun jangan cari aku pada waktu setelah kita sarapan bersama. Karena aku akan pergi keluar lewat gorong-gorong yang ada di pekarangan belakang. Tak perlu mencari aku, karena aku pasti akan pulang menjelang matahari terbenam.”

Sebetulnya Parjo heran dengan syarat yang dikatakan Tika, namun apa boleh buat kalau syaratnya memang itu. lagipula pertemuan mereka juga hal yang mengherankan, sebuah pertemuan di dalam gorong-gorong. “Aku bersedia. Hanya itukah syaratnya, atau ada syarat yang lainnya?” 

“Ada satu lagi mas, berikan makan pada kawanan tikus yang ada di selokan depan rumah. Ambilkan dari sisa makanan kita. Tentu aku akan memasak dengan porsi lebih dari dua orang, agar para tikus juga kebagian makan.” Ujar Tika menegaskan syaratnya yang kedua. 

Parjo pun setuju, semenjak saat itu mereka hidup bersama sebagai pasangan dalam rumah tangga. Parjo semakin giat bekerja, kini ia tak hanya hidup untuk dirinya sendiri. Namun ia punya tugas menghidupi istri dan kawanan tikus di selokan. Para tikus yang bertahan hidup dari sisa makanan, hidup tak layak dalam kubangan, yang kotor penuh kuman. Bagaimanapun juga, para tikus adalah makhluk hidup ciptaan Tuhan. Pun Parjo telah bersumpah pada istrinya untuk memelihara mereka. Hanya orang yang terbiasa masuk ke gorong-gorong seperti Parjo, yang menganggap hidup berdampingan dengan tikus-tikus selokan adalah hal biasa.

Suatu hari, sepulangnya ia dari kerja membersihkan sampah di gorong-gorong. Ia melihat iring-iringan mobil pejabat berlalu di depan rumahnya. Sampai di depan rumah, ia terkejut melihat seekor tikus terkapar di jalan. Ia raih tikus yang sekarat itu dengan kedua tangannya. Tanpa merasa jijik, ia amati mata tikus itu seperti ingin berbicara. Sepertinya tikus itu terinjak mobil yang lewat. Badannya masih utuh, namun mulutnya memuntahkan darah. Luka parah di organ dalam. Parjo merasa sangat kasihan pada tikus yang malang itu. Ia pun menguburkannya di pekarangan belakang rumah. Dan semenjak saat itu, istrinya tak pernah lagi pulang ke rumah. (*) 




Posting Komentar

1 Komentar

Klaim 25.000 per tulisan (puisi dan cerpen) yang tayang sejak 1 April 2024