005

header ads

Biarkan Aku di Sini

 


Biarkan Aku di Sini 

Karya : Eliaser Loinenak

Bila aku kedapatan melakukan salah

Sekali tamparan di pipi kiri

Sudah lebih dari cukup

Jangan lagi kau tampar pipi yang lain

Dan menghendaki suara sang gembala digenapi

Sebab aku bukan gembala yang baik

Masa yang sulit akan menciptakan pahlawan


Apa pun yang mau kau ambil dariku

Ambillah sesuka maumu

Tapi jangan sekali-kali memintaku pergi

dari bangsaku

Meninggalkan ibuku

Terpenjara jarak

Tersiksa rindu


Biarkan aku di sini

Menunggu sampai waktunya tiba

Saat matahari dan bulan bersatu

Langit menjadi merah

Kemudian semua orang akan mati

Aku pun melepas semua atribut

Diterpa angin dan debu

Dan berubah jadi pasir

Di atas pangkuan ibu

Cuma itu saja sebab

Mengapa aku masih di sini


[ Sly, 13.03.2023]



Lagu Kenangan



Ada lagu baru?

Tidak, belum ada!

Yang ada hanya lagu lama.


Kau tersenyum dan bernyanyi

Cinta membuatmu bernyanyi begitu manis


[Sly, 20.03.2023]



ATAS  NAMA  CINTA


kau ingin jadi apa?

: ayah

: suami


aku percaya 

kau bisa menjadi seperti yang kau ingin


untuk pertama kalinya 

seseorang  meyakinkanku  akan masa depan

yang kukira tak bisa kumiliki

: nikahilah aku


jika kau pikir kita berbeda

kau salah

kau maskulin, aku feminin

kau sinar sang surya, aku cahaya sang rembulan

kita hidup dengan detak jantung yang sama

kita mesti saling melengkapi


hidup kita sudah jadi hak kita

takdir kita

kita harus membuatnya sendiri


aku tak perlu merayu dengan tubuhku

aku punya sesuatu yang jauh lebih berharga 

tetapi bukan bagian darimu, belum!

: nikahilah aku

aku menjadi ibu

menjadi isteri


dan kita akan menguasai dunia


|Sly, 20.03.2023|



BALADA MOA HITU*


Namaku Moa Hitu

Orang-orang juga memanggilku Nenaluk

Alias Nai Mnasi Moa Hitu

Lantaran tubuhku yang beruas-ruas menjulang tinggi

Aku hidup di zaman batu

Ketika langit bumi belum berjarak


Namaku Moa Hitu

Titisan semesta alam, yang sakti mandraguna

Yang menjunjung langit jadi tinggi 

Maka selamatlah bumi dari sengat mentari

Dingin malam tak lagi memagut bumi


Namaku Moa Hitu

Langit ada dalam junjunganku

Bumi dalam genggamanku


Jangan bikin aku sedih dan marah 

Sebab jika aku marah dan sedih

Akan terjadi gerhana bulan

Tiada embun menitis, pun tiada hujan 

Gempa bumi di mana-mana

Kelaparan di mana-mana


Beri aku makan supaya perutku kenyang

Sebab jika aku lapar

Bumi akan ditimpa penyakit menular

Kematian akan terjadi di mana-mana

Bayi-bayi dalam rahim akan jadi santapanku

Gadis-gadis mandul


Beri aku minum agar girang hatiku

Niscaya kemakmuran akan melimpah 

Embun menitis hujan tumpah ruah

Menghijau padang bukit dan lembah

Semua orang panen raya_lumbung-lumbung penuh

Ternak-ternak berbiak tak henti

Binatang-binatang liar jadi jinak turun ke dalam kampung

Lebah madu akan bersarang di dalam rumah

Engkau tak usah susah payah berburu.



[Sly, 25.03.2023]

*Terinspirasi dari cerita rakyat Timor yang dituturkan secara turun-temurun ‘Nai Mnasi

  Moa Hitu’ yang berarti Kakek Tujuh Buku/Manusia Tujuh Ruas yang dalam versi lain 

  berjudul Nenaluk



POHON KERAMAT 


Dulu setiap musim tanam menjelang

Ayah bersama orang-orang sekandung

Mendatangi pohon besar di jantung kampung

Berdoa dan mengucapkan mantra-mantra petunang


Ayah diyakini memiliki kekuatan magis 

Tuturannya lebih berharga daripada emas

Mantra-mantranya dianggap paling bernas

Maka ia yang memimpin ritus menuturkan tonis 


: Wahai leluhur kami 

  Saat ini anak kandungmu 

  Anak ciptaanmu

  Berhimpun di sini


  Kami hendak tuturkan

  Kami hendak antarkan

  Kepada leluhur sekalian

  Korban persembahan


  Nasi sudah terhidang 

  Daging telah matang

  Kami arahkan kepadamu

  Kami haturkan kepadamu


  Undanglah semuanya

  Sapalah semuanya

  Supaya lengkap semuanya

  Dan menjadi saksilah semuanya


  Ambillah dan bagi-bagilah sendiri

  Dan pisah-pisahkanlah sendiri

  Kami tak bisa membagi-bagikan

  Kami tak tahu memisah-misahkan

  

  Musim telah datang

  Sawah ladang membentang

  Untuk ditanami padi dan jagung

  Kacang-kacangan, kentang serta pisang


  Kami datang dan memohon

  Jagalah sawah ladang kami 

  Dari burung dari angin

  Engakulah yang melindungi   


  Selamatkanlah dari ulat dan semut 

  Dari hama dan penyakit

  Supaya  berbuah lebat dan sarat 

  Karena kamulah penjaga lembah bukit

  

  Kami mengundangmu dengan hormat

  Menyapamu dengan lembut 

  Meninggikanmu dengan khidmat

  Lewat tuturan adat berkait  

  

 Lindungilah dengan sebaik-baiknya

 Sehingga jagung dan padi serta semuanya 

 Tumbuh berkembang menjadi kuat

 Dan menghasilkan buah yang padat


 Maksud kami hanyalah sekecil ini

 Tuturan kami hanyalah sesingkat ini

 Mudah-mudahan tidaklah rumit

 Dan tidak menjadi melarat.


Seiring berjalannya waktu dan peradaban

Kini pohon keramat di jantung kampung tinggal kenangan

Namun dari tunggul pohon itu, tumbuh sebatang pohon 

Melampaui segala pohon 

Ke sanalah doa-doa dilangitkan


 [Sly, 26.03.2023]



GELOJOH


coba bilang padaku

mana yang benar?  

makan untuk hidup?

atau hidup untuk makan?


jangan berlagak seperti lautan 

tak pernah merasa penuh

meski tak putus dilimpahi sungai-sungai


cukup lapangkan hati seluas samudera

cukupkan diri dengan apa yang ada

seperti yang diajarkan mahaguru


lebih nikmat sekerat roti damai

daripada makan daging segudang 

tetapi disertai gelojoh 

yang bikin membabi buta


|Sly, 12.05.2023|



NYANYIAN HIKMAT


Anakku, dunia ini penuh pesona 

Rupanya madu tapi isinya empedu

Jadilah bijak dalam memilih 

Turuti yang baik jauhi yang rawan

Agar tak tergilas bengis rodanya 


Biasakan diri hidup jujur dan tertib

Simpangan dan lorong harus jadi pantangan

Rumah disko bukan tempat bertandang 

Haramlah bagimu meminum yang bukan air    

Karena botol adalah sahabat orang bodoh


Belajarlah dengan tekun agar tidak tuna-ilmu

Apalah artinya wajah rupawan tapi miskin ilmu

Pengetahuan dan hikmat lebih mulia dari emas 

Tapi jangan sombong bila engkau jadi sarjana

Jadilah sarjana berbudi pekerti luhur  


Jangan bangkitkan cinta sebelum waktunya

Bila kerja sudah berbuah 

Barulah pikir rumah bertuah

Manis bibir wajah tampan boleh juga 

Tapi carilah yang manis budi pekerti


Wahai anakku, buah hati cahaya mata

Janganlah kau melupakan ajaranku

Peliharalah itu seperti biji matamu

Ia menjaga jiwa temani langkah meraih cita


[Sly, 14.06.2023]



ANAK-ANAK MERAH PUTIH


Kami anak-anak Indonesia

Yang ada di desa maupun di kota

Yang miskin maupun yang kaya

Yang sehat maupun yang cacat

Kami mengaku, bahwa kami satu darah 

Kami adalah pewaris sah merah putih 

Tanpa membedakan suku, agama dan ras 


Kami anak-anak merah putih berjanji ;

Menjunjung tinggi Pancasila 

Menjaga Bhineka Tunggal Ika

Belajar dengan sungguh-sungguh 

Berusaha mengusai teknologi

Tetap tinggi akhlak di tengah globalisasi


Kami anak-anak merah putih

Pemimpin-pemimpin Indonesia emas

Bulat hati satu tekad

Tinggi semangat

Agar merah putih tetap jaya

Berkibar di langit biru Indonesia

Dari Sabang sampai Merauke

Dari Miangas sampai Rote

Selamanya


[Sly, 15.06.2023]





PEREMPUANKU


katanya perempuan itu lemah dan rapuh

tumbuh seperti benalu di ketiak pohon 

mekar di bawah sombar laki-laki

hidup terbelenggu bayangan sayap laki-laki


bagiku perempuanku bukan perempuan itu

perempuanku tak seperti begitu


kami sebelas duabelas seperti dua sisi mata uang

yang satu tak lebih penting dari yang lain

seperti kuku dengan daging, kayu dengan api

aku tak bisa tanpanya, dia tak dapat tanpa aku


aku tak memandangnya seperti mata tradisi 

aku memperlakukannya sesuai kehendak bapa 

duduk sama rendah, berdiri sama menjulang


aku tuan di ladang tapi penolongnya di rumah

ia ratu di rumah tapi juga penolongku di ladang

ini terus-menerus ada dalam meniti kehidupan

dari rumah ke ladang. dari ladang  ke rumah 

berdua-dua, seiring sejalan 


[Sly, 29.06.2023]










Eliaser Loinenak lahir di  Puamese, Timor Tengah Selatan, Nusa Tenggara Timur, 2 Mei 1980. Menulis cerpen dan puisi. Puisi-puisinya termuat di umakaladanews.com, balipolitika.com, Majalah Elipsis, Media Sastra dan Budaya negerikertas.com, suarakrajan.com dan faktahukumntt.com. Beberapa puisinya termuat dalam buku antologi bersama antara lain; Menyibak Relung Kalbu (Lentera Karya, 2022), Tautan Kasih di Muara Rindu (Lentera Karya, 2022), Ini Kali Tidak Ada yang Mencari Cinta (Kumpulan 100 Puisi terbaik dalam Rangka 1 Abad Chairil Anwar 2022 yang diselenggrakan oleh Yayasan Hari Puisi Indonesia, Gramedia, 2022), Suara Hati dalam Puisi (Cahaya Pelangi Media, 2022), dan Rahasia Cinta di Balik Tinta (Rise Media, 2022). Kumpulan buku puisi tunggalnya Cerita Sepasang Mata (Sketsa Media, 2022).  Saat ini mengajar mata pelajaran bahasa Indonesia di SMP Negeri Satu Atap Sunu, kecamatan Amanatun Selatan, kabupaten Timor Tengah Selatan, provinsi Nusa Tenggara Timur.


Posting Komentar

0 Komentar