005

header ads

MEMENDAM CINTA | Oleh : Dicky Lim

 MEMENDAM CINTA

Oleh : Dicky Lim

Aku belum pernah merasakan perasaan yang seperti ini. Tapi sejak mengenal gadis itu terasa sangat berbeda sekali aku rasakan. Sebenar ada apa hati ini?

Apalagi ketika aku melihat senyumnya. Suaranya. Aduhai, sungguh membuatku semakin penasaran dengan dirinya untuk bisa mengenalnya lebih dekat. Namun di saat itu, aku memberanikan diri untuk berkenalan dengannya, hatiku selalu berdetak kencang terlebih saat di dekatnya. Itu pun setiap ia menyapaku.

Dengan nada suara lembutnya yang membuatku semakin salah tingkah saat mendengarnya. Saat itu juga aku mencoba untuk menanyakan namanya. Ternyata ia bernama Sri. Sungguh aku semakin terpesona olehnya.

Apakah ini dinamakan cinta? Pekikku kecil di dalam hati. Lalu aku mencoba menyapa untuk mengajaknya bertemu walau ada sedikit rasa takut untuk menyapanya. Akhirnya kuberanikan diri agar dapat mengenal nya lebih dekat.

“Apakah ada waktu luang?” tanyaku.

“Memang ada apa!”  tukas Sri.

“Aku ingin mengajakmu jalan,” pangkasku.

“Maaf, tapi aku akhir-akhir sedang sibuk,” jawab Sri dengan tersenyum.

“Oh, tidak apa-apa! Mungkin di lain waktu kita akan bicarakan kembali,” jawabku kembali.

Ketika itu pun aku segera pergi, takut mengganggunya. Tapi hatiku pun tiba-tiba tidak karuan. Sebab seperti tidak mau melangkahkan kaki untuk jauh darinya.

Hatiku mulai bertanya-tanya. Mengapa aku jadi berpikiran tentang Sri. Apakah mungkin aku jatuh cinta padanya?

Sungguh ini membuatku sangat merasa gelisah. Apalagi saat jumpa pertama kali dengannya. Terasa tidak bisa menjelaskan dengan kata-kata.

Saat itu aku tidak bisa berhenti memikirkannya. Sebab Sri selalu di dalam pikiranku. Hingga saat tidur pun masih terpikir pada Sri. Jadi sungguh setiap saat bayangan Sri muncul di pikiranku. Apakah aku perlu bertemu dengannya?

Ya, meskipun Sri telah menolak ajakanku dan rasanya ingin aku menghubunginya agar dapat mengenalnya lebih dekat. Itu yang terpikir di benakku saat ini.

Sungguh ini membuat aku menjadi sangat galau. Selama ini belum pernah aku merasakan perasaan seperti ini. Sambil berpikir apa yang harus kulakukan? Tapi aku tidak ingin Sri mengetahui isi hatiku. Walaupun rasanya ingin ku ungkapkan perasaan ini padanya.

Dalam hal ini memang mengganggu dan membuat diriku sangat kebingungan. Ketika aku bertemu Sri  kembali dan aku merasakan ada sesuatu yang berbeda darinya. Entah ini hanya perasaanku saja, di saat aku melihat dan ingin menyapanya. Tapi raut wajahnya berbeda. Ia bersikap dingin dan cuek denganku. Entah apa yang telah kuperbuat?

Hingga tidak bisa kuketahui kesalahan yang aku lakukan. Aku merenung dalam diam. Namun kini aku pun hanya mampu memperhatikan dan melihatnya dari kejauhan saja. Mungkin hanya itu yang bisa kulakukan saat ini.

“Sri!” Sapaku.

“Ada apa?” jawab Sri sambil berpaling muka.

“Aa-aku ingin mengatakan sesuatu,” ucapku dengan gugup.

“Katakanlah!” pangkas Sri.

“Sepertinya tidak jadi! Maaf mengganggu waktumu,” jawab singkatku.

“ Iya, sudah,” jawab Sri.

“Maaf, aku pamit dulu,” pangkasku.

Seketika itu aku yang tidak sanggup mengatakan mengucapkan kata sedikit pun dan menjadi gugup di depan. Maka aku langsung segera pergi dari hadapan Sri.

Namun sejak saat itu aku hanya mampu memandangi wajahnya meskipun tampak dari kejauhan. Tapi tanpa senagaja aku mendengar percakapan dengan temannya bahwa Sri tidak suka denganku. Alasannya selama ini Sri bersikap dingin terhadapku akhirnya aku pun tahu! Hingga saat mendengar hal itu membuatku sadar dan apakah aku harus melupakannya.

Kuberharap suatu saat Sri akan mengetahui perasaanku untuknya. Tapi kini aku hanya dapat memendam cinta dan menahan rindu ini sendiri. Walau terkadang ini sangat berat untuk kurasakan. Namun aku sering kali ingin mencoba untuk bertanya apa yang tidak disukainya dariku. Namun aku tetap saja tidak sanggup mendekati dan mengatakannya.

Setiap aku melihatnya akan merasakan kebahagiaan dan ada getaran cinta.

Kini harus kusadari hanya dapat mengaguminya saja. Tanpa bisa memilikinya. Entah sampai kapan harus kutanggung cinta ini sendiri. Sungguh ini sangat mengganggu setiap detik pikiran dan hati yang tak bisa lepas dari dirinya.

Dengan cintaku yang tulus ini aku tetap bertahan walau tidak ku ungkapkan rasa cinta ini. Aku berharap suatu saat Sri mengerti dan memahami arti cinta yang kupendam selama ini hanya untuknya seorang.[]



                             Dicky Lim, penulis mula yang baru belajar menulis sampai saat ini. Di

                             sela-sela kesibukannya menjadi mahasiswa dan aktivis anak dirinya

        sangat           giat menulis. Belajar menulis pertama kali dan bergiat di Komunitas    

                           Pembatas Jakarta. Karya-karyanya pernah dimuat di Kompas Nusantara 

                           Bertutur, Harian Sinar Indonesia Baru dan di portal online.















Posting Komentar

0 Komentar