RUH YANG HILANG | DI DALAM “BALEGA DI TANAH MANANG” - negerikertas.com

INFO ATAS

Lomba Cipta Puisi | DEADLINE 20 Februari 2023 | Apabila dalam 30 Hari, karya yang anda kirimkan di Negeri Kertas tidak dimuat, secara otomatis karya tersebut statusnya dikembalikan.

Jaringan Penulis dan Pembaca

Website Sastra dan Seni Budaya yang Terpercaya sejak 2015

6 Jan 2023

RUH YANG HILANG | DI DALAM “BALEGA DI TANAH MANANG”



Kreografi : Dr. Susas Rita Loravianti, S.Sn., M.S

Oleh : Iqbal Rahmatull Haqqi  




Festival Pamenan Minangkabau yang diprakarsai dengan Komunitas Seni Hitam Putih, Sumatra Barat, menggelar Festival Pamenan Minangkabau  yang dilaksanakan di kabupaten tanah datar,  dengan tema Inspirasi Rumah Gadang yang digelar di Istano Si Linduang Bulan Pagaruyuang, dilaksanakan  pada 11 sampai 13 November 2022.


 Pada kesempatan ini di bukan oleh Gubernur Sumatera Barat, dalam festival ini banyak sekali penampilan-penampilan karya baik dari seni teater, seni tari, musik tradisional  dan dan juga dimeriahkan dengan permainan-permainan tradisional.  Pada hari kedua malamnya  salah satu koreografer perempuan Sumatera barat Dr. Susas Rita Loravianti, S.Sn., M.S menampilkan karya nya bersama sanggar sikambang manih, dalam karya ini beliau menampilkan sebuah karya tari yang “berjudul balega di tanah minang”.

Suasana gelap dan terdengar suara musik yang mengantarkan suasana keheningan malam, terlihat cahaya terang yang keluar dari pintu  rumah gadang untuk menerangi kegelapan, kemudian terlihat seorang perempuan yang sedang menampi beras sambil berdendang yang mengantarkan  kita kepada suasana seorang ibu yang mempersiapkan untuk memasak nasi dan menahan beban berbagai macam tingkah laku anak-anaknya. Dan terlihat beberapa penari perempuan keluar dari pintu rumah gadang sambil bersenda gurau. Kemudian terlihat seorang penari perempuan mendekati sang ibu, yang menggambarkan bagaimana seorang anak yang membantu ibunya yang lagi bekerja, dan terlihat seorang ibu bagaimana menuruti kemauan putrinya dan membesarkan putrinya seorang diri.

Selanjutnya terlihat penari lainya memasuki ruang pertunjukan dengan membawa piring, yang menggambarkan suasana dalam rumah yang penuh dengan keharmonisan yang diciptakan oleh seorang ibu, walau berbagai macam hal yang terjadi seorang ibu bisa melalui hari-harinya dalam membesarkan anaknya, seorang ibu memberi nasehat kepada anaknya untuk lebih kuat dalam menghadapi kehidupan yang akan dilaluinya. Yang tergambar dalam gerakan yang bergitu indah dan teknik-teknik yang bagus pada saat menari. Terlihat penari begitu bergembira dalam bergerak dan begitu hati-hati dalam meniti piring yang disusun oleh penari.

Pada bagian seluruh penari berlarian ke sudut belakang untuk merubah cara pakaian penari, dan terlihat gerakan-gerakannya yang mulai lepas dan bebas gerak-gerak tidak melupakan dasarnya, dalam bagian ini tergambar bagaimana perempuan yang mulai menghadang dunianya, yang terlihat dari berbagai pola tingkah laku yang mereka hadapi, dan terlihat bagaimana peran seorang ibu dalam  membekali anaknya. 

Selanjutnya masuklah seorang perempuan membawa alat musik canang yang menggambarkan bagaimana masyarakat minangkabau dalam memberikan  pemberitahuan kepada masyarakat kampung bahwa ada berita, setelah itu terlihat sekelompok pemusik dalam pertunjukan yang menghadirkan bagaimana Suasana arak-arakan ketika ada acara di perkampungan minangkabau. Terlihat beberapa penari yang turun dari rumah gadang yang melihatkan arakan bajamba perempuan minangkabau dalam kegiatan pernikahan. 

Berbicara tentang Minangkabau tidaklah begitu “mengasyikkan” bila tidak disinggung  perihal perempuan. Hal ini disebabkan karena salah satu hal yang unik dari kebudayaan Minangkabau adalah perlakuan adat terhadap perempuan.  Adat Minangkabau menempatkan perempuan sebagai sesuatu yang istimewa, sesuatu yang memiliki nilai-nilai utama. Keutamaan yang diberikan adat tersebut dapat berupa keistimewaan-keistimewaan dalam hal  material dan moril.

 Dari sisi material, keistimewaan itu adalah dalam bentuk hak waris harta (pusaka tinggi) yang jatuh kepada kaum perempuan. Untuk pusaka rendah pun (hasil jerih payah ayah dan ibu), perempuan Minangkabau tidak akan ditelantarkan.  Artinya, untuk kebutuhan kehidupannya dari sisi harta, perempuan Minangkabau tidak akan pernah mengalami kekurangan, apalagi kelaparan. Dari sisi moril, keistimewaan itu adalah dalam bentuk hak garis keturunan (suku). Di Minangkabau gelar kesukuan diambil menurut garis keturunan ibu. Dua keistimewaan di atas sangat berbeda dengan kebudayaan-kebudayaan lain yang ada di Indonesia, bahkan dunia. 

Begitu istimewa perempuan minangkabau yang dijaga dengan garis keturunan mereka, sehingga siapa yang memiliki anak perempuan begitu beruntung mereka dalam melanjutkan tonggak estafet selanjutnya,  dan  juga perempuan minangkabau sangat dijaga dengan norma-norma yang melindunginya sehingga perempuan minangkabau dipandang di tengah masyarakat banyak. Dari segi berpakaian sampai ke bertutur kata perempuan di jaga oleh adat minangkabau, akan tetapi pada zaman sekarang nilai-nilai itu mulai hilang, yang di gambarkan dalam karya ‘’balega di tanah minang ‘’ dimana dalam karya ini koreografer menghadirkan pemandangan dua generasi perempuan- perempuan di zaman dahulu dengan perempuan zaman sekarang  yang mana begitu banyak pergeseran nilai-nilai yang di hadirkan oleh perempuan minangkabau sekarang.

Yang terlihat jelas perempuan dahulu begitu menjaga marwahnya dengan etika yang mereka jaga yang tergambar dalam aktivitas mereka, sedangkan perempuan minangkabau sekarang sudah mulai menghilangkan nilai-nilai itu akibat zaman yang berubah dan pergaulan  serta pengaruh lingkungan mereka  sehingga tingkah perilaku  juga mulai berubah, salah satu yang terlihat dalam karya pada bagian penari yang berubah cara pakaian dimana mereka mulai menghilangkan kebiasan mereka dalam berpakaian perempuan minangkabau sehingga nilai-nilai itu sudah mulai mereka tinggalkan. Dan tidak malu melakukan apa yang mereka lakukan sedangkan perempuan minangkabau sangat menjaga malu , menjaga malu merupakan nilai-nilai norma  minangkabau. 

Malu harus menjadi “pakaian” setiap perempuan minangkabau. Ia harus malu bila setiap perbuatan dan pemikirannya tidak sesuai dengan adat istiadat, di luar alur dan patut. Oleh sebab itu, perempuan minangkabau harus mampu meletakan sesuatu pada tempatnya. Segala sesuatu harus diperlakukan secara adil, bak pinang pulang ka tampuak, cando siriah baliak ka gagang. Bila tatanan yang sangat alamiah ini  dilanggar, akan timbul jangga, ujungnya adalah menuai malu. Malu dan aib ini tidak hanya dia yang akan merasakannya, tetapi juga kaumnya. 


INFO BAWAH

Cara kirim tulisan ke Negeri Kertas: Tulis karya anda berupa PUISI/CERPEN/ARTIKEL + BIODATA narasi + FOTO penulis atau GAMBAR ilustrasi, semuanya dalam SATU LAMPIRAN email file Ms Word. Bagian paling atas bertuliskan JUDUL KARYA + NAMA PENULIS. Kirim ke email nkertas@gmail.com